SUKABUMITIMES.COM – Pejabat siapapun yang tidak sayang guru “pecat”, tegas Ketua PGRI Kota Sukabumi Histato Daryanto Kobasah dalam pidatonya dihadapan para tahu undangan dan peserta puncak peringatan hari ulang tahun (HUT) PGRI ke-79 sekaligus peringatan hari guru nasional (HGN) tingkat kota Sukabumi yang berlangsung di Aula Gedung PGRI Kota Sukabumi pada Kamis (19/12/24).
Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Daerah satu (Asda 1) mewakili Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Kota Sukabumi Punjul Saeful Hayat, Dewan Pembina PGRI dan Sekretaris Umum PGRI Jawa Barat Dede Hidayat , BPH YPLP PB PGRI Asep Dedi, Rizal Gumilar dari KCD, para rektor, Dewan Pakar, ketua PC PGRI Kota Sukabumi beserta Jajaran, Ketua Ranting, para kepala sekolah se-Kota Sukabumi l, Ikatan Guru, dan seluruh Anggota PGRI Kota Sukabumi.
Dalam sambutannya, Histato Daryanto Kobasah mengatakan hari ini merupakan puncak perayaan HUT PGRI ke-79 dan Perayaan HGN tingkat Kota Sukabumi tahun 2024.
“PGRI sebagai organisasi pendidik menjadi kekuatan moral dan intelektual dalam memperjuangkan peningkatan harkat martabat anggotanya,” kata Histato pada Kamis (19/20/2024).

Histato juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada presiden Prabowo Subianto yang sudah mau mendengar keluh kesah atas permasalahan guru di Indonesia.
“Terimakasih kepada bapak presiden Republik Indonesia bapak Prabowo Subianto yang sudah mendengar dan merespon segala permasalahan guru, sehingga lahirnya revisi Undang-Undang ASN,” ucap Histato D. Kobasah.
Pihaknya berharap ada perhatian kepada nasib guru honorer ataupun guru Non ASN, PGRI tidak bisa di pecah-pecah dengan Permendikbud Nomor 67 tahun 2024, dimana PGRI mendorong pemerintah untuk merevisi undang-undang tersebut.
“PGRI berjuang atas tiga hal, yaitu kesejahteraan, kualitas, dan perlindungan guru. Pada HGN tingkat Nasional terkait perlindungan guru, Ketua Umum PB PGRI sudah memberikan naskah akademik kepada menteri pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia, sehingga akan lahir perlindungan untuk seluruh guru,” ujarnya.
Dirinya menegaskan, PGRI tidak pernah mundur membela guru dan tidak pernah ragu, akan selalu hadir sebagai mitra strategis untuk pemerintah.
“PGRI akan terus membela guru dan dosen. Sampai sejauh ini terkait Undang-undang perlindungan guru, hanya memiliki satu pasal yakni pasal 39. Ketika guru mendapatkan masalah diturunkan menjadi Permendikbud, sehingga kita selalu dihadapkan dengan undang-undang yang lebih kuat, sehingga guru menjadi tidak berdaya,” tegasnya.
Ketua PGRI menandaskan, PGRI sebagai orang tua tidak akan pernah rela dan tidak akan tersentuh sedikitpun meskipun dengan keterbatasan, PGRI akan melaksanakan komitmen dengan keteguhan dan kegigihan dalam membela guru,” tandasnya.
“PGRI Tidak mudah untuk membela guru di era keterbukaan, tetapi kami tidak akan pernah menyerah,” tambahnya.
Histato menjelaskan, kalau bukan PGRI yang membela guru, maka siapa lagi yang membela guru? PGRI terus mendorong percepatan sertifikasi guru dan ini dibahas dalam kongres Nasional tahun 2024 yang akan menjadi usulan untuk diberikan kepada bapak presiden.
“Ini perlu penuntasan, sertifikasi guru dengan model sederhana, karena sampai saat ini, masih ada kurang lebih 40 persen guru yang belum tersertifikasi,” jelasnya.
PGRI ini diibaratkan satu tubuh, dari hulu ke hilir, dari ranting sampai ke PB, kepentingan guru segala galanya, lahir dan batin, maka sesuai dengan Mars PGRI bahwa Guru pencipta kekuatan negara.
“Kami terus mendorong supaya tunjangan pendidikan bagi para guru dikembalikan, baik yang ASN maupun non ASN dan harus menjadi perhatian pemerintah. Tunjangan ini harus tuntas, dan PGRI akan mengawal mulai hari ini,” ucap Histato dengan penuh keyakinan.
PGRI terus mendorong masih kata Histato, supaya pemerintah melakukan seleksi afirmasi kepada honorer yang sudah mengabdi, khususnya non ASN, agar mendapatkan kepastian hukum sebagai perwujudan atas jasanya selama ini.
“Selamat HUT PGRI ke-79 dan Hari Guru Nasional tahun 2024. Pesan saya selaku ketua PGRI Kota Sukabumi: Bagi pejabat siapapun yang tidak sayang guru “PECAT”,” pungkasnya. (rus)


























