Oleh: Kang Warsa
Memperluas kawasan perkotaan pada era sekarang seolah-olah menjadi sebuah keniscayaan. Terlebih ketika gagasan global village terus berkembang dan mengambil bentuk yang semakin nyata sejak memasuki tahun 2000-an. Perkembangan teknologi, populasi dan mobilitas manusia, serta perubahan pola kehidupan telah mengaburkan batas antara kawasan perdesaan dan perkotaan. Wilayah yang dahulu identik dengan aktivitas pertanian perlahan berubah menjadi kawasan permukiman, perdagangan, jasa, bahkan industri.
Perubahan tersebut juga berlangsung di Kota Sukabumi. Sejumlah kawasan yang hingga akhir 1990-an masih bercorak perdesaan kini telah beralih fungsi menjadi kawasan urban. Perluasan permukiman dan aktivitas ekonomi berlangsung seiring dengan pertumbuhan penduduk serta perubahan kebutuhan hidup masyarakat. Kawasan yang sebelumnya menjadi ruang produksi pertanian perlahan beralih menjadi ruang hunian dan kegiatan ekonomi perkotaan.
Perluasan kawasan perkotaan ke daerah pinggiran tidak berlangsung begitu saja. Ada proses alamiah yang melatarbelakanginya, terutama pertambahan populasi dan perubahan karakteristik kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan terhadap tempat tinggal, permukiman yang layak, dan fasilitas penunjang kehidupan. Keluarga-keluarga baru membutuhkan ruang hidup tersendiri, sementara pola mata pencaharian masyarakat perkotaan semakin bertumpu pada perdagangan, jasa, ekonomi, dan industri yang membutuhkan tenaga kerja terampil. Pendidikan serta pengembangan vokasi turut mempercepat perubahan tersebut.
Namun, pertumbuhan kawasan perkotaan tidak selalu membawa dampak positif apabila tidak disertai kesepakatan bersama dan seperangkat aturan mengenai penataan ruang. Perluasan permukiman dan kawasan industri yang mengabaikan regulasi konservasi ekologis berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali dapat mengurangi kawasan resapan air, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana.
Dampaknya tidak berhenti pada persoalan ekologis. Perluasan industri dan perubahan struktur sosial yang tidak dikelola secara bijaksana juga dapat melahirkan persoalan kemanusiaan. Sejumlah pemikir sosial telah mengingatkan tentang munculnya masyarakat anomik dan kelas proletar yang kehilangan daya tawar serta hak-hak sosial ekonominya. Pertumbuhan ekonomi yang tidak disertai pemerataan kesejahteraan justru berpotensi menciptakan kesenjangan baru di tengah masyarakat.
Setahun lalu, Pemerintah Kota Sukabumi pernah mewacanakan perluasan kawasan perkotaan sekaligus pengembangan kawasan industri. Salah satu gagasan yang berkembang adalah pembangunan fasilitas publik serupa Lapang Merdeka II. Ide tersebut tentu memiliki sisi menarik. Sampai sekarang, wajah pusat perkotaan Sukabumi masih banyak direpresentasikan oleh kawasan lama, terutama Cikole dan Citamiang. Kehadiran pusat aktivitas perkotaan baru berpotensi mengubah orientasi pertumbuhan kota yang selama ini cenderung terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Persoalannya, kawasan yang telah menjadi bagian dari Kota Sukabumi selama tiga dekade, khususnya wilayah Bacile (Baros, Cibeureum, dan Lembursitu), memiliki tingkat perkembangan infrastruktur yang relatif lebih lambat dibandingkan kawasan lama. Ketiga kecamatan tersebut memang tumbuh secara bertahap dan mulai mengejar ketertinggalan. Namun, kesenjangan pembangunan masih dapat dirasakan apabila dibandingkan dengan kawasan Ciciguwa (Cikole, Citamiang, Gunungpuyuh, dan Warudoyong), yang sejak lama menjadi pusat aktivitas perkotaan.
Konsentrasi pembangunan di kawasan lama dapat dilihat dari sejumlah proyek penataan dan pembangunan infrastruktur. Revitalisasi Lapang Merdeka, pembangunan pedestrian Jalan Ahmad Yani dan kawasan Dago, penataan Plaza Sukabumi, revitalisasi Alun-Alun dan Gedung Juang, pembangunan trotoar, pedestrian di sekitar Setukpa Gunungpuyuh, hingga betonisasi Jalan Gudang dan Jalan Prana merupakan beberapa contoh pembangunan yang memperkuat wajah pusat kota lama. Sementara itu, kawasan perbatasan dan tiga kecamatan baru masih membutuhkan perhatian lebih besar dalam pemenuhan infrastruktur dasar dan fasilitas publik.
Maka, gagasan membangun kawasan perkotaan baru di wilayah Bacile dapat dibaca sebagai peluang untuk menghadirkan keberimbangan pembangunan. Wilayah yang telah diadopsi menjadi bagian dari Kota Sukabumi sejak 1996 semestinya memperoleh perhatian yang sepadan dalam kebijakan pembangunan. Kehadiran pusat aktivitas baru dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pusat kota lama.
Akan tetapi, gagasan yang baik tetap membutuhkan kejernihan berpikir dan kajian mendalam. Rencana pembangunan tidak selalu beririsan dengan ketentuan tata ruang dan peruntukan suatu kawasan. Bacile, misalnya, masih memiliki karakter sebagai kawasan pertanian dan perkampungan. Selama tiga dekade menjadi bagian dari wilayah administratif Kota Sukabumi, kawasan ini tetap menyimpan corak sosial budaya masyarakat perdesaan. Tradisi dan pola kehidupan lama memang mulai mengalami perubahan, tetapi belum sepenuhnya terlepas dari akar kehidupan masyarakatnya.
Akses internet yang semakin luas turut mengubah cara pandang masyarakat perdesaan terhadap kehidupan perkotaan. Namun, perubahan tersebut belum berlangsung merata. Pemanfaatan teknologi digital masih lebih banyak dirasakan oleh kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi digital memadai. Karena itu, perubahan karakter suatu kawasan tidak cukup diukur hanya dari keberadaan jaringan internet atau kedekatannya dengan pusat kota.
Di sinilah gagasan pembangunan kawasan perkotaan dan industri baru di Bacile perlu ditimbang kembali. Jika kebijakan pembangunan hendak berpijak pada asas keadilan dan pemerataan, persoalan mendasarnya bukan semata-mata memindahkan pusat aktivitas perkotaan ke wilayah baru, melainkan memastikan seluruh kawasan memperoleh pelayanan infrastruktur secara proporsional. Pemerataan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada upaya mempercantik kawasan yang sejak awal telah berkembang, sementara kawasan pinggiran masih berhadapan dengan persoalan infrastruktur dasar.
Selama ini, wajah pusat kota yang terus dipercantik justru menjadi daya tarik bagi masyarakat perdesaan untuk berkunjung. Fenomena tersebut mengingatkan kita pada pengalaman Kota Sukabumi pada masa lalu, ketika masyarakat dari kawasan pinggiran datang ke pusat kota hanya untuk menyaksikan kemajuan perkotaan. Pusat kota menjadi semacam panggung yang memperlihatkan kemajuan, sedangkan wilayah pinggiran berada pada posisi sebagai penonton.
Ketika pemerintah terlalu sibuk memoles wajah pusat kota dan masyarakat terbiasa menjadikan pusat kota sebagai tujuan untuk menyaksikan kemajuan, pemindahan orientasi pembangunan ke kawasan lain tidak serta-merta mengubah paradigma tersebut. Sampai sekarang, sebagian masyarakat Bacile masih menyebut aktivitas berbelanja ke pusat perbelanjaan sebagai kegiatan “jalan-jalan ke kota”. Ungkapan sederhana itu memperlihatkan bahwa batas psikologis antara kawasan perdesaan dan perkotaan masih hidup dalam kesadaran masyarakat.
Karena itu, gagasan menghadirkan Lapang Merdeka II atau pusat perkotaan baru perlu ditempatkan dalam kerangka kebijakan yang lebih luas. Pemerintah Kota Sukabumi perlu memastikan bahwa rencana tersebut sesuai dengan tata ruang, karakter ekologis, serta kebutuhan sosial ekonomi masyarakat setempat. Tidak semua kawasan harus diubah menjadi kawasan urban untuk disebut berkembang. Mempertahankan lahan pertanian dan karakter perkampungan yang masih produktif juga merupakan bagian dari pembangunan yang berkelanjutan.
Saya pikir, yang lebih mendesak bagi Kota Sukabumi saat ini bukan memperluas wajah perkotaan, melainkan memperluas jangkauan pembangunan. Pemerintah tidak harus selalu membangun pusat-pusat keramaian baru untuk membuktikan pemerataan. Pemenuhan jalan lingkungan, drainase, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, ruang publik, dan infrastruktur dasar di kawasan pinggiran justru menjadi pekerjaan yang tidak boleh terus tertunda. Sebab, kemajuan sebuah kota tidak semestinya hanya terlihat dari semakin indahnya pusat kota, tetapi juga dari semakin layaknya kehidupan masyarakat di seluruh wilayahnya. (*/sya)






























