SUKABUMITIMES.com – Pelatih Hoki Kota Sukabumi, Rega Armando, mengungkapkan bahwa persiapan tim hoki Kota Sukabumi untuk menghadapi kejuaraan tingkat Jawa Barat, yaitu Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang dijadwalkan berlangsung pada 8-12 November 2026 di Stadion Depok, PSB, telah mencapai 70 persen.
Sebanyak 36 atlet putra dan putri kini menjalani pemusatan latihan atau training camp (TC) selama satu bulan untuk mengejar target medali.
Hak tersebut diungkapkan Rega kepada sukabumitimes.com yang mewawancarainya di GOR Merdeka Kota Sukabumi, pada Selasa (13/10/2026).
“Untuk persiapannya, alhamdulillah saat ini kita sedang melaksanakan TC selama satu bulan. Kemungkinan latihan terakhir tanggal 5 November, karena kita akan berangkat tanggal 6 atau 7 November, tergantung hasil manajer meeting,” ujar Rega.
Ia menjelaskan, target awal tim hoki Kota Sukabumi adalah meraih medali perunggu, sebagaimana pencapaian pada tahun sebelumnya. Kendati demikian, pihaknya berharap hasil yang diraih tahun ini bisa lebih baik.
“Persiapan sudah di 70 persen untuk mencapai target yang kita tentukan. Target dari hoki sendiri ke KONI itu medali perunggu seperti tahun kemarin,” ungkap Rega yang didampingi oleh pelatih Hoki Putri Rustam Arifin pada Selasa (13/10/2026).
“Mudah-mudahan bisa lebih dari itu. Target awal kita memang perunggu. Kalau misalnya bisa dapat perak, alhamdulillah, ataupun sampai emas, itu juga alhamdulillah,” tambahnya.
Menurut Rega, peluang meraih medali terbuka bagi tim putra maupun putri. Namun, ia menekankan bahwa kematangan persiapan dan mental pemain akan menjadi faktor penting saat menghadapi pertandingan.
“Peluangnya ada di putra dan putri. Medali perunggu sudah bisa kita ambil asalkan persiapan kita matang, terutama dari mental anak-anak,” jelasnya.
Ia menilai, instruksi pelatih harus mampu diterapkan dengan baik oleh para atlet ketika bertanding. Sebab, hasil akhir pertandingan tetap bergantung pada kemampuan pemain menjalankan strategi di lapangan.
“Pelatih sudah memberikan instruksi A, B, C, D, tetapi yang melaksanakan semuanya di lapangan adalah anak-anak. Pelatih hanya mendorong apa yang harus dilakukan, sedangkan hasil akhirnya ditentukan oleh pemain sendiri,” tegas Rega.
Adapun kekuatan yang akan diberangkatkan berjumlah 36 atlet, terdiri atas 18 atlet putra dan 18 atlet putri. Selain itu, tim juga membawa enam orang manajer dan ofisial.
“Untuk putra dan putri ada 36 atlet. Putri 18, putra 18, dan ofisial yang kita bawa ada enam orang,” paparnya.
Rega menyebutkan, pertandingan dijadwalkan berlangsung pada 8-12 November 2026 dengan sistem setengah kompetisi atau setiap tim bertemu dengan lawannya. Meski demikian, pihaknya masih menunggu informasi terbaru mengenai kemungkinan adanya pertandingan final.
“Pertandingannya masih seperti yang dulu, sistem bertemu atau setengah kompetisi. Untuk ada pertandingan final atau tidak, kita belum mendapatkan informasi terbaru. Terakhir yang kita ketahui, sistemnya bertemu semua,” tuturnya.
Dalam mematangkan persiapan, tim hoki Kota Sukabumi memilih GOR Merdeka sebagai salah satu lokasi pemusatan latihan. Menurut Rega, tempat tersebut sudah digunakan dalam proses pembinaan hoki sejak beberapa tahun lalu.
“Kalau kenapa di GOR Merdeka, biasanya kita memang sudah setiap tahun melakukan TC. Pertama kali pada 2018, kita latihan di stadion. Kemudian pada 2022, TC dilakukan di dua tempat, yakni di sini dan di stadion,” ungkapnya.
Ia mengatakan, pemilihan lokasi latihan juga mempertimbangkan ketersediaan fasilitas dan kemampuan anggaran tim.
“Kalau tempat, di sini banyak ruangan juga dibandingkan di stadion. Sebenarnya kita ingin seperti di hotel atau tempat lain yang lebih nyaman, tetapi kita harus menyesuaikan dengan anggaran yang ada,” jelasnya.
Rega mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam mempersiapkan tim. Karena itu, jajaran pengurus dan pelatih berupaya agar program latihan tetap berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah.
“Kalau melihat anggaran kota, memang minim, semua orang juga tahu. Jadi, bagaimana caranya kita tetap berjalan. Kita tidak bisa sepenuhnya bergantung kepada pemerintah, walaupun kita juga tetap membutuhkan dukungan pemerintah,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan selama pemusatan latihan, tim mengandalkan dukungan pengurus serta bantuan dari berbagai pihak, termasuk orang tua atlet.
“Kalau untuk keseharian, kita istilahkan hidup ini adalah patungan. Kita lapor dulu kepada ketua, apa yang dibutuhkan dan berapa anggarannya. Kalau sudah disetujui, kita jalankan,” bebernya.
Ia menyebutkan, Ketua Hoki Kota Sukabumi, Indra Gunawan, turut memberikan dukungan agar kebutuhan tim dapat terpenuhi. Jika masih terdapat kekurangan, jajaran tim berupaya menutupinya secara bersama-sama.
“Kalaupun ada kekurangan, kita saling menutupi. Alhamdulillah, orang tua atlet juga ada yang memberikan dukungan. Jadi, kita berusaha supaya persiapan tetap berjalan,” tambahnya.
Selain aspek teknis dan fisik, Rega menaruh perhatian besar terhadap kondisi mental para atlet. Menurutnya, setiap pemain memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan.
“Untuk menjaga mood anak-anak, lebih ke pendekatan personal. Setiap anak itu berbeda-beda. Ada yang bisa ditegur dengan keras, ada juga yang tidak bisa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatih harus memahami karakter masing-masing atlet, termasuk cara memberikan teguran agar tidak mengganggu kepercayaan diri mereka.
“Kalau ada anak yang tidak bisa dimarahi di depan umum, kita pisahkan dan bicara secara pribadi. Jadi, kita lebih melihat mental anak-anaknya,” jelas Rega.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena sebagian besar atlet masih berusia muda. Ada yang masih duduk di bangku SMA, sementara sebagian lainnya sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Rata-rata usia anak-anak masih muda. Ada yang kelas satu SMA, dan yang paling tinggi sekitar 24 tahun. Jadi, pendekatan kepada mereka memang harus disesuaikan,” katanya.
Selain menjaga mental, pemusatan latihan juga dimanfaatkan untuk membangun kekompakan dan komunikasi antarpemain. Rega menilai, chemistry yang kuat menjadi modal penting dalam olahraga beregu seperti hoki.
“Kenapa kita melakukan TC bersama seperti sekarang? Salah satu tujuannya supaya chemistry itu terbentuk dan komunikasinya berjalan,” ungkapnya.
Ia berharap, melalui kebersamaan selama pemusatan latihan, para atlet semakin berani menyampaikan kendala maupun masukan kepada rekan setim dan pelatih.
“Kalau ada kekurangan A, B, C, mereka harus berani bicara. Ketika kita bersama-sama di lapangan maupun di luar lapangan, insyaallah chemistry itu bisa terbentuk dengan sendirinya,” tuturnya.
Rega pun mengapresiasi komunikasi yang selama ini terjalin antara atlet dan jajaran pelatih. Menurutnya, keterbukaan tersebut membantu tim mengevaluasi kekurangan sekaligus menjaga suasana latihan tetap kondusif.
“Alhamdulillah, komunikasi anak-anak dengan pelatih selalu terjaga. Kalau ada sesuatu, mereka bisa langsung bilang kepada coach. Jadi, komunikasi berjalan baik dan anak-anak juga memahami apa yang harus dilakukan,” pungkasnya. (sya)































