Filosofi Angklung di Mata Iskandar Ilham,  Harmoni Kebersamaan dalam Dunia Kerja

SUKABUMITIMES.com — Alunan angklung tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian budaya Sunda bagi Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi Iskandar Ilham. Bagi dia, alat musik tradisional tersebut memiliki filosofi kuat tentang kebersamaan, kekompakan, kepatuhan terhadap pemimpin, dan pentingnya setiap individu dalam mencapai tujuan bersama.

Filosofi itu pula yang menjadi salah satu alasan Iskandar membentuk kelompok angklung Arahan 52 sejak dirinya memimpin Dishub Kota Sukabumi.

Menurut Iskandar, angklung merupakan salah satu warisan budaya Sunda yang harus terus ngamumule atau dilestarikan oleh masyarakat sunda, khususnya generasi muda.

“Angklung ini budaya Sunda yang harus kita lestarikan. Ini juga menjadi ciri khas Indonesia yang harus kita jaga,” ujar Iskandar saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2026).

Ia menjelaskan, permainan angklung memiliki karakter yang berbeda dengan alat musik yang dapat dimainkan secara mandiri. Dalam permainan angklung, setiap pemain memegang peran untuk menghasilkan nada tertentu.

Karena itu, sebuah lagu tidak akan terdengar harmonis apabila salah satu pemain tidak memainkan nada sesuai bagiannya.

“Angklung itu tidak bisa dimainkan sendiri. Harus rempeug, harus bersama-sama. Masing-masing memainkan satu nada dan semuanya harus seirama sampai akhirnya menjadi sebuah lagu,” katanya.

Filosofi tersebut, lanjut Iskandar, sangat relevan jika diterapkan dalam lingkungan pekerjaan. Setiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, tetapi seluruhnya harus bergerak dalam satu irama untuk mencapai tujuan organisasi.

Di lingkungan Dishub Kota Sukabumi, misalnya, terdapat sejumlah bidang dengan tugas berbeda, mulai dari angkutan, perparkiran, terminal hingga petugas penjaga pintu perlintasan kereta api.

Seluruh unsur tersebut, kata dia, memiliki peran penting dalam menciptakan sistem transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Kalau satu orang tidak menjalankan perannya, harmoni itu akan terganggu. Sama dengan organisasi, kita harus kompak, patuh terhadap pimpinan, sejalan dan seirama. Tidak boleh merasa paling hebat sendiri,” ujar Iskandar.

Ia menilai filosofi angklung dapat diterapkan hampir di setiap lingkungan kerja. Perbedaan tugas dan jabatan bukan alasan untuk menganggap satu pekerjaan lebih penting dibanding pekerjaan lainnya.

Iskandar mencontohkan seorang petugas kebersihan yang biasa dipanggil Mang Apoy. Meski bertugas membersihkan lingkungan kantor, keberadaannya memiliki peran penting dalam menciptakan kenyamanan bagi seluruh pegawai.

“Misalnya Mang Apoy, dia petugas kebersihan. Tetapi perannya besar. Kalau tidak ada dia, kantor mungkin tidak nyaman karena berantakan. Sama seperti angklung, semua memiliki peran,” tuturnya.

Selain menjadi media pelestarian budaya, keberadaan kelompok Angklung Arahan 52 juga menjadi sarana mempererat hubungan antar karyawan di lingkungan Dishub Kota Sukabumi.

Iskandar mengatakan, kegiatan bermain angklung membuat pegawai dari berbagai bagian yang sebelumnya jarang bertemu memiliki ruang untuk berkumpul dan berinteraksi.

“Awalnya mungkin ada bagian yang jarang bertemu. Dengan adanya angklung, mereka datang, bermain bersama, kemudian menjadi ajang silaturahmi. Jadi silaturahmi kita bangun melalui musik,” katanya.

Kelompok Angklung Arahan 52 hingga kini telah tampil dalam sejumlah kegiatan. Di antaranya pada kegiatan Car Free Day, acara di Gedung Juang, kegiatan Sukabumi Tempo Dulu, serta kegiatan di Yayasan Pondok Pesantren Al-Fath dalam agenda penyambutan Menteri Kebudayaan dan kunjungan anggota MPR.

Penampilan lainnya dilakukan dalam acara Riung Mung pulung di Gedung Juang. Dalam kesempatan tersebut, para pemain Angklung Arahan 52 tampil bersama sekaligus mengajak sejumlah kepala dinas dan pelajar SMK untuk ikut memainkan angklung.

Menurut Iskandar, konsep tersebut sengaja dibuat agar permainan angklung tidak hanya menjadi pertunjukan, tetapi juga menjadi aktivitas bersama yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

“Kami ingin angklung ini dimainkan secara komprehensif. Kepala dinas kita ajak, pelajar juga kita ajak. Intinya bukan hanya tampil, tetapi bagaimana semua bisa ikut merasakan kebersamaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai kegiatan yang dilakukan Dishub tidak semata-mata berorientasi pada pekerjaan. Aktivitas bersama juga diperlukan untuk menjaga kebugaran, kesehatan dan semangat pegawai.

“Yang penting kita semua bisa bugar, sehat dan segar sehingga bisa bekerja lebih maksimal,” kata Iskandar.

Bagi Iskandar, pesan yang terkandung dalam permainan angklung sederhana tetapi memiliki makna yang mendalam: tidak ada satu nada yang lebih penting dari nada lainnya. Harmoni hanya akan tercipta apabila seluruh pemain menjalankan perannya dengan baik.

Prinsip itulah yang ingin ia bangun di lingkungan Dishub Kota Sukabumi, bekerja sebagai satu tim, saling menghargai, saling melengkapi, serta bergerak dalam satu irama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. (rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *