SUKABUMITIMES.com – Di tengah proses pemulihan pascabencana yang melanda Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, perhatian kembali tertuju pada nasib puluhan keluarga yang hingga kini masih menanti pembangunan tempat tinggal.
Wakil Ketua DPR RI Saan Mustofa datang langsung ke Kasepuhan Ciptamulya untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berjalan. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Bupati Sukabumi, unsur BPBD Jawa Barat, Dandim, Kapolres, serta sejumlah pihak terkait lainnya.
Setibanya di lokasi, kedatangan Saan Mustofa disambut antusias warga. Namun, di balik sambutan tersebut tersimpan persoalan besar yang masih harus diselesaikan, sebanyak 51 keluarga terdampak belum dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.
Saan mengatakan, kunjungannya secara khusus untuk melihat langsung kondisi Kasepuhan Ciptamulya setelah dilanda bencana. Menurutnya, penanganan saat ini telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Artinya, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada penanganan darurat, tetapi mulai diarahkan pada pembangunan kembali kehidupan warga.
“Pasca musibah ini masuk fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Yang paling mendesak adalah membangun rumah warga,” kata Saan Mustofa saat berada di Kasepuhan Ciptamulya.
Persoalan menjadi lebih kompleks karena kawasan yang terdampak merupakan bagian dari kampung adat. Pembangunan kembali tidak bisa dilakukan secara sembarangan, terlebih terdapat rencana relokasi warga ke lokasi baru. Saan menilai relokasi menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan karena lahan sebelumnya tidak memungkinkan untuk kembali dibangun seperti semula.
“Memang ada relokasi baru karena tidak mungkin lahan yang semula itu dibangun kembali. Maka direlokasi,” ujarnya.
Saan menegaskan, warga terdampak tidak boleh terlalu lama berada dalam kondisi sementara. Sebagian masih tinggal di pengungsian, sementara lainnya menumpang di rumah saudara maupun tetangga. Kondisi tersebut, menurut dia, harus segera dicarikan solusi karena menyangkut kebutuhan dasar dan keberlangsungan kehidupan warga.
“Kita akan coba upayakan semaksimal mungkin agar warga yang terkena dampak bisa secepatnya menempati tempat yang baru,” tegasnya.
Saan menyebut kebutuhan warga terdampak saat ini relatif sudah mulai tertangani melalui koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, BPBD dan Kasepuhan Ciptamulya. Namun, pekerjaan rumah yang lebih besar masih berada di depan mata, terutama menyelesaikan kebutuhan mendesak sekaligus menyiapkan penanganan jangka panjang.
Karena itu, ia memastikan persoalan tersebut akan dibawa dan dibicarakan lebih lanjut di tingkat pemerintah pusat.
“Yang paling penting pascabencana ini, kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dan mendasar sudah relatif tertangani. Tinggal yang mendesak-mendesaknya, kemudian yang jangka panjangnya,” jelasnya.
Menurut Saan, perhatian terhadap Kasepuhan Ciptamulya tidak hanya berkaitan dengan persoalan kemanusiaan pascabencana. Kawasan tersebut merupakan kampung adat yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang harus dijaga bersama.
Karena itu, proses pemulihan harus dilakukan dengan mempertimbangkan keberlangsungan kehidupan masyarakat adat sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Kampung adat ini salah satu cagar budaya yang memang harus kita jaga. Harus kita jaga secara bersama-sama dan terus kita pelihara,” katanya.
Ia menilai pemulihan Kasepuhan Ciptamulya membutuhkan kolaborasi lintas pemerintahan. Tidak cukup hanya mengandalkan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, tetapi juga membutuhkan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat. Saan mengaku telah memberikan bantuan awal dalam kunjungannya. Namun, bantuan tersebut baru menjadi bagian kecil dari kebutuhan warga yang harus dipenuhi.
“Nanti apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan lain, kita bicarakan secara bersama-sama,” ujarnya. (stm)
































