Oleh: Boby es-Syawal (Penulis dan Kolumnis Asal Sukabumi)
Pernah denger istilah “perut kenyang, hati senang”? Eits, jangan keburu seneng dulu. Dalam kitab Maroqil Ubudiyah (syarah dari Bidayatul Hidayah), Syekh Nawawi al-Bantani ngingetin kita dengan tegas:
“والشَّبْعُ مِن الحلالِ مَبْدَأُ كُلِّ شَرٍّ فكيف من الحرام؟”
“Kekenyangan dari yang halal aja udah jadi pangkal segala kejahatan, apalagi kalo yang haram?”
Waduh, serem banget kan? Bayangin, makan halal tapi kebanyakan aja udah bahaya, apalagi kalo makannya dari hasil korupsi, suap, atau haram lainnya. Bukan berkah yang didapat, tapi malah jadi pintu masuk ke maksiat-maksiat lain.
Yang Halal Itu Mulia Tapi Berat
Rasulullah ﷺ udah nyindir keras di haditsnya:
طَلَبُ الحلالِ فريضةٌ على كلّ مسلم
“Mencari yang halal itu WAJIB bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Mas’ud)
Nah, masalahnya, Imam Ghazali di kitab Ihya’ Ulumuddin—yang dikutip sama Syekh Nawawi—ngejelasin betapa beratnya kewajiban ini:
“وهذه الفريضةُ مِنْ بين سائرِ الفرائضِ أعْصاها على العُقولِ فهْما وأثْقَلُها على الجَوارِحِ فعلا”
“Kewajiban ini adalah yang PALING SULIT dipahami akal dan PALING BERAT dilaksanakan oleh anggota tubuh di antara semua kewajiban lainnya.”
Wah, sampe Imam Ghazali aja ngaku ini berat. Kenapa? Karena mencari yang halal itu bukan cuma soal “halal haram” di label makanan. Tapi menyangkut: Niat waktu kerja, Cara dapetin uang, Etika bisnis, Tanggung jawab jabatan, Kejujuran dalam setiap transaksi.
Korupsi: Muaranya adalah Perut
Nah, dari sinilah kita bisa ngaitin sama realita hari ini. Kenapa kasus korupsi susah banget diberantas?
Pertama, karena mereka yang korupsi udah kenyang duluan—bukan cuma kenyang perut, tapi kenyang harta, kenyang kuasa. Dan kekenyangan itu bikin hati keras, pikiran jadi keruh, dan akhirnya rela jual agama demi kepentingan sesaat.
Kedua, banyak yang terlalu “pinter” dalemin agama biar dosanya keliatan halal. Makanya Imam Ghazali bilang kewajiban ini paling susah dipahami akal—soal-soal kayak riba, suap, manipulasi, kadang dibungkus pake istilah “fee”, “jasa”, atau “tunjangan” biar keliatan halal.
Tumpulnya Hukum Ketika Nyentuh Orang Besar
Nih, contoh paling anyar yang bikin publik geleng-geleng kepala. Kasus mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Jabatannya itu lho, yang seharusnya jadi ujung tombak pemberantasan korupsi di Kejagung. Tapi malah jadi tersangka korupsi dengan barang bukti bikin melongo: 74 kg emas batangan, duit tunai dan valas total setara Rp543 miliar lebih, diamankan dari rumah mewahnya di Sentul!
Kasus ini melibatkan 3 perkara jumbo: dugaan korupsi pengadaan batu bara PLN, PT Asabri, dan PT Krakatau Steel, dengan kerugian negara ditaksir sampai Rp34,6 triliun!
Tapi, yang bikin publik makin geregetan adalah proses hukumnya. Polri yang udah nemuin bukti segunung, eh malah melimpahkan perkara ini ke Kejaksaan Agung, lembaga asal Febrie sendiri, padahal proses penyidikan belum kelar. Para pakar hukum dan aktivis langsung ramai-ramai protes keras, karena mekanisme pelimpahan kayak gitu dianggap nggak punya dasar hukum yang jelas dalam KUHAP.
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD curiga ini ada upaya sistematis buat “melokalisir masalah” alias nutup-nutupin kotak Pandora supaya kasusnya nggak melebar ke aktor-aktor besar lain di atasnya.
Peneliti ICW dan Pukat UGM juga ragu berat kalau kasus ini bakal dituntaskan secara independen. Soalnya, secara hierarki, jaksa-jaksa yang bakal menuntut nanti adalah bawahan dari tersangka itu sendiri. Ini udah kayak “jeruk makan jeruk”—mana mungkin anak buah berani bikin dakwaan yang kuat buat memenjarakan bosnya sendiri? Risiko konflik kepentingannya udah kentara banget.
Nah, ini contoh sempurna hukum yang tumpul ke atas. Kasus-kasus kecil di bawah sering ditindak ceplas-ceplos, tapi kalo udah nyentuh pejabat tinggi dan punya koneksi kuat, prosesnya jadi berbelit-belit, prosedurnya “dilanggar,” dan ujung-ujungnya cenderung menguap. Ini yang dimaksud Syekh Nawawi: kekenyangan itu bikin sistem (dan orang di dalamnya) jadi rakus, dan hukum yang mestinya adil malah jadi tumpul.
Kenyang dari yang halal aja udah bermasalah, apalagi kenyang dari yang haram. Na’udzubillah. (*)
































