Tahun Baru Hijriyah: Semangat Perubahan atau Seksualitas Ala Kejawen?

Oleh; Syarif Hidayat (Pemerhati Sosial dan Reporter sukabumitimes.com)

 

Setiap kali Tahun Baru Hijriyah tiba, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambutnya dengan berbagai cara. Ada yang menggelar doa bersama, pengajian, santunan anak yatim, refleksi keagamaan, hingga berbagai kegiatan sosial yang bertujuan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, melainkan momentum spiritual yang mengingatkan kembali pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah perjalanan yang menjadi simbol perubahan, perjuangan, pengorbanan, dan pembentukan peradaban.

Hijrah dalam makna yang paling mendasar adalah perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Karena itu, Tahun Baru Hijriyah sejatinya menjadi waktu yang tepat bagi setiap muslim untuk melakukan introspeksi diri. Apa yang telah dilakukan selama satu tahun terakhir? Sejauh mana perintah agama dijalankan? Berapa banyak kewajiban yang ditunaikan dan larangan yang berhasil dihindari? Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi yang jujur bagi setiap individu.

Dalam konteks kehidupan modern yang semakin kompleks, Muharram juga memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi momentum memperkuat jati diri umat Islam, baik secara individu maupun sebagai bagian dari sebuah jamaah besar bernama umat. Di tengah arus globalisasi yang kerap mengaburkan identitas, umat Islam dituntut tetap memiliki pijakan nilai yang kokoh, tidak tercerabut dari akar akidah dan tradisi keilmuan Islam.

Lebih dari itu, Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi titik temu bagi persatuan umat Islam dunia. Saat berbagai konflik, ketidakadilan, dan penjajahan masih terjadi, solidaritas umat menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Penderitaan rakyat Palestina akibat agresi militer Israel, misalnya, seharusnya menjadi pengingat bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan kepedulian, baik melalui doa, dukungan kemanusiaan, maupun diplomasi internasional.

Muharram dengan demikian bukan hanya soal ritual seremonial, melainkan tonggak kebangkitan kesadaran kolektif umat Islam untuk kembali menegakkan nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan kemanusiaan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Ketika Muharram Bertemu Tradisi Kejawen

Namun di balik semangat tersebut, terdapat satu persoalan yang menarik untuk dibedah lebih jauh, yaitu pertemuan antara pemahaman Islam dengan tradisi kejawen yang berkembang di sebagian masyarakat Jawa.

Perlu dipahami bahwa Islam dan budaya adalah dua hal yang dapat saling berinteraksi. Islam tidak pernah menolak budaya selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariat. Karena itu, banyak tradisi lokal yang kemudian berakulturasi dengan nilai-nilai Islam.

Masalah muncul ketika batas antara tradisi dan ajaran agama menjadi kabur. Ketika suatu keyakinan budaya mulai dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam, padahal tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Sunnah. Pada titik inilah diperlukan sikap kritis agar umat tidak terjebak dalam sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran agama dengan kepercayaan lain.

Dalam tradisi Jawa, bulan Muharram lebih dikenal sebagai Bulan Suro. Bagi sebagian masyarakat, Suro dipandang sebagai bulan yang sakral, mistis, bahkan dianggap memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Berbagai ritual kemudian dilakukan, mulai dari tirakat, tapa bisu, pencucian pusaka, hingga berbagai laku spiritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Tidak semua tradisi tersebut bermasalah. Sebagian bahkan memiliki nilai sosial dan budaya yang positif. Namun persoalan muncul ketika Muharram tidak lagi dipahami sebagai bulan hijrah dan refleksi keislaman, melainkan bergeser menjadi bulan yang dipenuhi mitos dan keyakinan supranatural.

Ironisnya, sebagian masyarakat justru lebih mengenal berbagai pantangan dan mitos Suro dibandingkan makna hijrah Rasulullah SAW. Mereka hafal larangan menikah di bulan Suro, tetapi kurang memahami pesan perubahan moral yang terkandung dalam peristiwa hijrah.

Seksualitas dalam Sebagian Praktik Kejawen

Pembahasan menjadi lebih menarik ketika menyinggung sejumlah praktik spiritual tertentu dalam tradisi kejawen yang berkaitan dengan seksualitas.

Harus diakui bahwa dalam beberapa aliran kejawen terdapat pemahaman bahwa hubungan seksual bukan hanya aktivitas biologis, melainkan juga sarana mencapai kesempurnaan batin atau kekuatan spiritual. Dalam beberapa praktik tertentu bahkan terdapat konsep penyatuan energi laki-laki dan perempuan sebagai jalan menuju keselarasan kosmis.

Pandangan semacam ini tentu berbeda dengan perspektif Islam. Dalam Islam, hubungan seksual adalah ibadah yang mulia apabila dilakukan dalam ikatan pernikahan yang sah. Seksualitas dipandang sebagai bagian dari fitrah manusia yang harus dijaga kehormatannya, bukan dijadikan sarana ritual mistik atau pencarian kekuatan supranatural.

Islam memberikan ruang yang luas terhadap kebutuhan biologis manusia, tetapi sekaligus memberikan batasan moral yang jelas. Karena itu, ketika terdapat praktik-praktik spiritual yang menjadikan seksualitas sebagai media ritual atau jalan memperoleh kesaktian, umat Islam perlu melihatnya secara kritis dan tidak serta-merta menganggapnya sejalan dengan ajaran Islam.

Perbedaan inilah yang sering kali luput dari pembahasan publik. Banyak orang berbicara tentang Muharram dan Suro seolah keduanya identik, padahal secara filosofis memiliki landasan yang berbeda. Muharram berakar pada sejarah hijrah Rasulullah SAW dan pembangunan masyarakat Islam. Sementara sebagian praktik Suro lahir dari tradisi budaya Jawa yang berkembang jauh sebelum kedatangan Islam.

Memurnikan Makna Hijrah

Tantangan terbesar umat Islam saat ini bukanlah bagaimana menghapus budaya lokal, melainkan bagaimana menempatkan budaya pada posisi yang tepat. Budaya dapat dirawat sebagai warisan peradaban, tetapi akidah harus tetap menjadi kompas utama.

Muharram semestinya mengajak umat untuk berhijrah dari kebodohan menuju ilmu, dari perpecahan menuju persatuan, dari kemalasan menuju produktivitas, dari ketidakpedulian menuju solidaritas sosial. Hijrah juga berarti berpindah dari cara berpikir yang dipenuhi mitos menuju pemahaman yang lebih rasional dan sesuai tuntunan agama.

Di tengah berbagai krisis global, konflik kemanusiaan, tantangan ekonomi, hingga degradasi moral yang melanda banyak bangsa, umat Islam membutuhkan semangat hijrah yang nyata. Bukan sekadar perayaan simbolik, tetapi perubahan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pertanyaan penting yang perlu diajukan pada setiap Tahun Baru Hijriyah adalah: apakah Muharram hanya akan menjadi bulan ritual tahunan yang dipenuhi berbagai seremoni, ataukah benar-benar menjadi momentum perubahan menuju kualitas umat yang lebih baik?

Jika hijrah dipahami sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, maka Muharram adalah bulan kebangkitan. Namun jika maknanya tenggelam dalam berbagai mitos, ritual mistik, bahkan pemahaman seksualitas yang tidak memiliki landasan syariat, maka esensi hijrah akan semakin menjauh dari kehidupan umat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *