SUKABUMITIMES.com – Aksi unjuk rasa yang digelar sejumlah elemen mahasiswa di kawasan Gerbang Pancasila, Kompleks DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026), sempat berlangsung tegang setelah massa membakar ban bekas dan atribut aksi di depan pintu gerbang utama parlemen.
Situasi yang awalnya berjalan tertib berubah memanas ketika kobaran api dari ban yang dibakar semakin membesar. Aparat kepolisian yang berjaga di dalam area kompleks DPR kemudian berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR).
Tindakan tersebut memicu reaksi sebagian peserta aksi. Sejumlah massa melemparkan berbagai benda ke arah dalam kompleks gedung DPR, mulai dari botol minuman hingga benda keras lainnya. Beberapa demonstran juga terlihat mengguncang pagar Gerbang Pancasila sambil meneriakkan tuntutan mereka.
Meski demikian, aparat kepolisian tetap bertahan di posisinya dan berupaya mengendalikan situasi tanpa melakukan tindakan represif. Kobaran api yang sempat dipadamkan bahkan kembali dinyalakan oleh massa sebelum akhirnya dipadamkan lagi oleh petugas.
Beruntung, tidak terjadi bentrokan fisik secara langsung karena massa dan aparat dipisahkan oleh pagar pembatas yang kokoh. Setelah beberapa kali terjadi ketegangan, suasana perlahan mereda dan para mahasiswa melakukan konsolidasi internal sebelum akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB.
Sebelum aksi berlangsung, aparat gabungan telah disiagakan untuk mengamankan sejumlah titik strategis di Jakarta Pusat. Sedikitnya 5.955 personel gabungan diterjunkan guna mengawal jalannya demonstrasi yang digelar oleh berbagai organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung menegaskan bahwa pengerahan ribuan personel dilakukan untuk menjamin keamanan seluruh pihak selama aksi berlangsung.
“Kami menyiapkan personel untuk memastikan kegiatan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tertib. Kami mengedepankan pendekatan humanis, persuasif, serta tetap mengutamakan keselamatan masyarakat maupun personel di lapangan,” ujar Reynold kepada wartawan, Senin (15/6/2026).
Menurut Reynold, pengamanan tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpendapat, melainkan memastikan penyampaian aspirasi dapat berlangsung sesuai aturan yang berlaku.
Ia juga menginstruksikan seluruh anggota yang bertugas agar mengedepankan profesionalisme dan tidak mudah terpancing oleh situasi di lapangan.
“Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Layani masyarakat yang menyampaikan aspirasi dengan baik sesuai prosedur, serta tetap menjaga soliditas dalam pelaksanaan pengamanan,” tegasnya.
Selain kepada aparat, Reynold turut menyampaikan pesan kepada para peserta aksi agar menjaga ketertiban selama demonstrasi berlangsung.
“Kami menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Namun kami mengajak seluruh peserta aksi untuk tetap menjaga ketertiban, tidak anarkis, dan mematuhi aturan yang berlaku,” katanya.
Aksi unjuk rasa tersebut diikuti oleh sejumlah elemen mahasiswa, di antaranya Aliansi PERISAI dan Cipayung Jakarta Barat, PC PMII Jakarta Barat, GMNI Jakarta Barat, FMN, APWKS, AGRA, SPP, FAM UI, HMI Esa Unggul, serta BEM Trisakti.
Selain di DPR/MPR RI, pengamanan juga difokuskan di kawasan Silang Selatan Monas dan Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai titik konsentrasi massa lainnya. Aparat gabungan yang terlibat berasal dari unsur Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, TNI, hingga Pemerintah Daerah.
Hingga aksi berakhir, situasi keamanan di sekitar Gedung DPR RI kembali kondusif dan arus lalu lintas secara bertahap kembali normal. (sya)




























