SUKABUMITIMES.com – Indonesia menunjukkan ambisi besar untuk menjadi kekuatan utama dalam pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kawasan Asia Tenggara.
Hal itu tercermin dari tingginya jumlah perusahaan di Tanah Air yang siap mengadopsi dan mengembangkan teknologi AI sebagai bagian dari strategi bisnis mereka.
Berdasarkan hasil studi regional The Business Times Insights: ASEAN Intelligence 2026, Indonesia menempati posisi teratas dalam kategori perusahaan yang tergolong sebagai “pelopor pertama” atau first movers dalam penerapan AI. Sebanyak 62 persen perusahaan di Indonesia masuk dalam kelompok tersebut, melampaui Thailand yang mencapai 55 persen, Malaysia 46 persen, dan Singapura 36 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa dunia usaha Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan mulai mengambil peran sebagai penggerak transformasi digital di kawasan.
Dalam laporan tersebut, perusahaan-perusahaan yang dikategorikan sebagai pelopor pertama adalah organisasi yang merasakan tekanan kuat untuk bertransformasi dan secara aktif menanamkan investasi pada berbagai kemampuan berbasis AI. Mereka memandang teknologi ini sebagai faktor penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang bisnis baru.
“Perusahaan-perusahaan ini tidak menunggu perubahan terjadi. Mereka memilih bergerak lebih awal dengan mengintegrasikan AI ke dalam berbagai aspek operasional dan pengambilan keputusan,” tulis laporan tersebut.
Studi itu membagi responden ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan tingkat kesiapan dan strategi mereka dalam mengadopsi kecerdasan buatan.
Kelompok pertama adalah pelopor pertama, yakni perusahaan yang paling agresif dalam mengimplementasikan AI. Mereka berinvestasi pada beragam solusi teknologi dan berupaya menjadikan AI sebagai bagian integral dari transformasi bisnis.
Kelompok kedua adalah pengoptimal pragmatis, yaitu perusahaan yang menyadari pentingnya AI namun menerapkan pendekatan yang lebih terukur. Mereka cenderung berinvestasi pada proyek-proyek yang telah terbukti memberikan manfaat nyata bagi bisnis.
Sementara itu, kelompok ketiga adalah tradisionalis berhati-hati, yakni perusahaan yang masih mempertimbangkan berbagai risiko dan tantangan sebelum melakukan investasi besar dalam teknologi kecerdasan buatan.
Tingginya persentase perusahaan Indonesia yang masuk kategori pelopor pertama mengindikasikan adanya optimisme yang kuat terhadap manfaat AI di masa depan. Selain untuk meningkatkan efisiensi operasional, teknologi ini juga dinilai mampu mempercepat inovasi, meningkatkan produktivitas, serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Tren tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan dalam pemanfaatan AI di kawasan ASEAN semakin ketat. Dengan posisi terdepan saat ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat inovasi kecerdasan buatan di Asia Tenggara apabila mampu menjaga momentum investasi dan pengembangan talenta digital.
Ke depan, keberhasilan transformasi AI tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi semata, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, regulasi yang mendukung, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan dalam membangun ekosistem digital yang berkelanjutan.(red)



























