El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Minta Masyarakat Waspadai Kemarau Panjang dan Kekeringan

SUKABUMITIMES.com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa fenomena El Nino diperkirakan mulai aktif pada pertengahan 2026 dan berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut diprediksi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal sehingga perlu diantisipasi sejak dini oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Prediksi El Nino yang terjadi mulai pertengahan tahun 2026 dengan peluang intensitas El Nino pada kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” ujar Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers perkembangan musim kemarau 2026.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Pada periode tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan yang signifikan sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan meningkat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena dampak El Nino diperkirakan bertepatan dengan musim kemarau yang sedang berlangsung.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” kata Ardhasena.

Ia menjelaskan, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih, sektor pertanian, kesehatan masyarakat, hingga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

“Musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra mengingat adanya peluang El Nino,” ungkap Ardhasena.

BMKG mencatat sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Selain itu, lebih dari separuh zona musim di Indonesia diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya dengan curah hujan berada di bawah normal.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah mitigasi. Warga diminta menghemat penggunaan air, menampung air hujan selama masih tersedia, menjaga kesehatan dengan mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas.

“Seluruh lapisan masyarakat perlu mengantisipasi kondisi ini untuk memastikan ketersediaan air, menjaga kesehatan, dan meminimalkan dampak yang mungkin timbul pada berbagai sektor,” ujar Teuku Faisal Fathani.

BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan Oktober 2026 sebelum dampak El Nino berangsur melemah.

Dengan proyeksi El Nino yang bertahan hingga awal 2027, kesiapan sejak sekarang dinilai menjadi kunci untuk mengurangi dampak kekeringan, menjaga ketahanan pangan, serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah Indonesia. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *