Jualan Sepi, Pedagang Jalan Stasiun Timur Sukabumi Ngaku Kena Pungli Rp24 Ribu Setiap Hari

SUKABUMITIMES.com – Pedagang sayur yang berjualan di kawasan Jalan Stasiun Timur dan sekitar Pasar Pelita, Kota Sukabumi, mengaku harus mengeluarkan uang hingga Rp24 ribu setiap hari akibat dugaan pungutan liar (pungli) yang dilakukan sejumlah oknum dengan dalih uang keamanan. Besaran pungutan yang dinilai memberatkan karena kondisi penjualan para pedagang justru tengah lesu.

Seorang pedagang sayur yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan, dalam sehari dirinya bisa didatangi hingga 12 orang yang meminta uang dengan nominal Rp2 ribu setiap kali pungutan.
Pernyataan tersebut diungkapkannya kepada sukabumitimes.com ketika ditanya disela-sela dirinya melayani pembeli di Jalan Stasiun Timur kota Sukabumi pada Rabu (10/6/2026).

“Jadi kami setiap hari dimintai iuran Rp2 ribu dikalikan 12 pungutan, ya tidak kurang dari Rp24 ribu setiap hari,” ungkapnya kepada sukabumitimes.com.

Menurutnya, praktik tersebut sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan trotoar kawasan Jalan Stasiun Timur hingga sekitar Pasar Pelita. Para pedagang memilih membayar karena khawatir terjadi masalah apabila menolak memberikan uang.

“Kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena kalaupun melawan percuma, pasti mereka marah dan kita pedagang yang kena omel,” katanya.

Ia menuturkan, para pedagang sebenarnya merasa keberatan dengan banyaknya pungutan yang harus dibayar setiap hari. Namun, kondisi di lapangan membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti permintaan tersebut.

Pedagang itu menjelaskan, saat ini tidak ada lagi pungutan resmi yang dilakukan oleh pemerintah. Pasalnya, kawasan Jalan Stasiun Timur telah lama menjadi area yang dilarang untuk aktivitas berjualan karena dianggap menjadi salah satu penyebab kemacetan menuju Stasiun Kereta Api Sukabumi.

“Dulu sebelum kita dilarang jualan di sepanjang Jalan Stasiun Timur pasti ada petugas resmi yang menarik iuran, tetapi sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.

Ia mengaku bingung harus mengadu kepada siapa terkait persoalan tersebut. Di satu sisi, para pedagang membutuhkan tempat untuk mencari nafkah, sementara di sisi lain mereka harus menghadapi berbagai pungutan yang tidak jelas peruntukannya.

“Mau bagaimana lagi, kita hanya ingin berdagang dan mencari makan untuk keluarga. Tapi setiap hari ada saja yang minta uang,” tuturnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi perdagangan di kawasan tersebut memang sedang tidak menggembirakan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya sebagian besar dagangan sudah habis terjual menjelang pukul 09.00 WIB, kini masih banyak sayuran dan buah-buahan yang terlihat menumpuk di lapak para pedagang hingga siang hari.
Situasi itu semakin memperberat beban pedagang yang harus menanggung berbagai biaya tambahan di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

“Kita berdagang akhir-akhir ini agak susah, pembeli tidak seramai tahun-tahun kemarin, entah apa ini sebabnya,” keluhnya.

Menurut dia, lesunya penjualan membuat para pedagang terpaksa bertahan lebih lama di lokasi dagang demi menunggu pembeli datang. Harapan untuk membawa pulang keuntungan yang layak pun semakin sulit diwujudkan.

“Ya, kita pasti pulangnya juga lebih lama lagi, karena dagangan masih banyak. Sayuran dan buah-buahan itu kan barang basah yang cepat busuk, paling bisa bertahan hanya satu hingga dua hari saja. Kalau tidak cepat dijual pasti merugi karena barang busuk dan tidak segar lagi,” curhatnya. (sya)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *