SUKABUMITIMES.com— Mahkota Binokasih menjadi salah satu benda pusaka paling dikenal dalam sejarah Tatar Sunda.
Mahkota tersebut diyakini merupakan simbol kebesaran Kerajaan Pajajaran yang diwariskan turun-temurun sejak masa
pemerintahan Prabu Siliwangi.
Dalam catatan sejarah Sunda, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diyakini menjadi lambang legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda. Setelah runtuhnya Pajajaran pada 1579 akibat serangan Kesultanan Banten, sejumlah pusaka kerajaan disebut diselamatkan oleh para bangsawan dan pengawal kerajaan untuk menghindari perebutan.
Sejarawan Sunda menyebut, mahkota tersebut kemudian berada dalam garis pewarisan Kerajaan Sumedang Larang.
Pusaka itu dipercaya diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun sebagai simbol penerus kekuasaan Sunda di wilayah Priangan.
Keberadaan Mahkota Binokasih hingga kini masih menjadi perhatian masyarakat dan budayawan Sunda. Selain dianggap memiliki nilai sejarah tinggi, pusaka tersebut juga dipandang sebagai simbol persatuan dan identitas budaya masyarakat Sunda.
Budayawan Sunda menilai pelestarian benda pusaka bersejarah penting dilakukan untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkenalkan sejarah kerajaan Nusantara kepada generasi muda.
“Mahkota Binokasih bukan hanya benda pusaka, tetapi simbol perjalanan panjang peradaban Sunda,” ujar salah seorang budayawan Jawa Barat.
Hingga kini, berbagai tradisi adat dan kegiatan budaya di Jawa Barat masih kerap menghadirkan simbol Mahkota Binokasih sebagai bagian dari penghormatan terhadap sejarah Pajajaran dan Sumedang Larang. (*).






























