SUKABUMITIMES.com – Tembok Penahan Tanah (TPT) pada saluran irigasi anak Sungai Cipelang dilaporkan ambruk di wilayah Kelurahan Cipanengah, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, pada Senin (13/4/2026) pagi. Peristiwa ini diduga kuat dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala BPBD Kota Sukabumi, Yosep Sabarudin, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan kejadian dari Kelurahan Cipanengah melalui call center BPBD pada pukul 11.42 WIB.
“Begitu laporan kami terima, tim Pusdalops langsung bergerak cepat menuju lokasi untuk melakukan pengecekan dan asesmen awal,” ujarnya.
Menurut Yosep, kejadian ambruknya TPT tersebut berlangsung sekitar pukul 09.15 WIB di Jalan Pelabuhan II, Kampung Kadulawang RT 01 RW 01, Kelurahan Cipanengah. Setelah dilakukan pengecekan di lapangan, tim memastikan bahwa struktur TPT mengalami kerusakan cukup signifikan.
“Benar telah terjadi ambruknya TPT pada irigasi anak Sungai Cipelang. Dugaan sementara penyebabnya adalah dampak dari cuaca ekstrem yang menyebabkan kondisi tanah menjadi labil,” jelas Yosep.
Ia menambahkan, struktur TPT yang ambruk memiliki dimensi kurang lebih panjang 8 meter, tinggi 6 meter, dan ketebalan sekitar 1 meter. Dampak dari kejadian tersebut tidak hanya merusak infrastruktur irigasi, tetapi juga berdampak pada bangunan warga di sekitar lokasi.
“Satu unit rumah milik warga atas nama Ibu Eti mengalami kerusakan pada bagian atap depan. Selain itu, area halaman belakang gudang distributor perusahaan Indocafe juga terdampak, serta saluran drainase irigasi menjadi tertutup material longsoran,” paparnya.
Meski demikian, Yosep memastikan tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi akibat kejadian ini.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun pengungsian. Namun tetap kami imbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan,” katanya.
Dalam penanganan awal, BPBD bersama unsur terkait telah melakukan berbagai langkah cepat di lapangan. “Kami sudah melakukan pengecekan lokasi, asesmen, pendataan, hingga penanganan sementara untuk mencegah dampak yang lebih luas,” ujar Yosep.
Ia juga menjelaskan bahwa koordinasi dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk aparat kelurahan, RT/RW setempat, serta masyarakat sekitar.
“Penanganan ini melibatkan BPBD, pihak kelurahan, RT/RW, dan warga setempat agar prosesnya lebih cepat dan efektif,” tambahnya.
Terkait kebutuhan mendesak, Yosep menyebutkan bahwa saat ini dibutuhkan terpal untuk penanganan sementara, serta material bangunan seperti semen, pasir, batu, dan bata untuk perbaikan permanen. “Kebutuhan mendesak saat ini adalah terpal untuk menutup area terdampak, sambil menunggu proses perbaikan permanen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kondisi TPT yang ambruk harus segera diperbaiki guna menghindari risiko yang lebih besar. “Kami khawatir jika tidak segera ditangani, potensi longsor susulan bisa terjadi dan berisiko menimbulkan banjir yang berdampak pada permukiman warga,” tegas Yosep.
Saat ini, situasi di lokasi dilaporkan telah terkendali dan proses asesmen dinyatakan selesai. Namun demikian, BPBD Kota Sukabumi tetap melakukan pemantauan berkala untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Kami akan terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar penanganan lanjutan bisa segera dilakukan,” pungkas Yosep. (sya)





























