SUKABUMITIMES.com – Seorang anak juragan asal Arnhem, Belanda, memilih jalan hidup yang jauh dari kenyamanan. Robert Cornelis Michels, yang akrab disapa Bob, meninggalkan kehidupan mapan demi petualangan penuh risiko di medan perang. Keputusan itu membawanya menjelajahi berbagai front pertempuran dunia, dari Afrika Utara hingga Indonesia, dalam rentang salah satu periode paling bergolak dalam sejarah, yakni Perang Dunia II.
Usai menyelesaikan pendidikan di Hogere Burger School (HBS), Michels tidak memilih jalur karier konvensional. Jiwa mudanya justru mendorongnya mendaftar ke Legiun Asing Prancis di Afrika Utara. Keputusan ini mengubah total kehidupannya. Dari rumah nyaman, ia harus beradaptasi dengan kehidupan keras di barak militer, menjalani latihan disiplin tinggi, dan menghadapi kekerasan sebagai bagian dari rutinitas.
Hari-harinya dipenuhi latihan berat demi mempersiapkan diri menghadapi situasi paling berbahaya, termasuk berjaga di malam hari di bawah langit Afrika yang sunyi namun penuh ancaman. Ketika perang besar pecah, Michels berada di garis depan konflik yang menuntut keberanian tanpa kompromi.
Surat kabar Arnhemse Courant edisi 24 Maret 1949 mencatat kiprahnya dalam pertempuran. “Dialah Légionnaire Michels, yang melindungi mundurnya Pasukan Ekspedisi Inggris dengan rentetan peluru dari senapan mesinnya. Dia adalah salah satu yang terakhir naik ke pesawat,” tulis media tersebut, menggambarkan keberanian Michels di medan tempur.
Setelah sekitar dua tahun bertugas di Legiun Asing Prancis, Michels tiba di Inggris dan meminta dipindahkan ke satuan militer lain. Ia kemudian bergabung dengan satuan perintis tentara Inggris. Namun, masa istirahatnya di London tidak berlangsung lama. Ia kembali dikirim ke garis depan, kali ini bertempur di Norwegia.
Tidak berhenti di situ, Michels kembali mengajukan perpindahan, kali ini ke kesatuan tentara Belanda yang berada di Inggris. Setelah menjalani pelatihan komando berat di Achnacerry, Skotlandia, ia ditempatkan di Dutch Army No. 2—sebuah unit komando elit dengan baret merah dan lambang sayap. Di kesatuan ini, ia menyandang pangkat kopral.
Kemampuan Michels tidak hanya terbatas pada pertempuran darat dan penggunaan senjata api. Ia juga terlatih sebagai penerjun payung. Keahlian ini digunakannya dalam Operasi Market Garden, operasi besar Sekutu untuk membebaskan Belanda dari pendudukan Nazi Jerman pada September 1944.
Seorang saksi mata, Rudy Blatt, dalam catatan hariannya *To Live You Fight: A War Diary*, mengungkapkan pengalaman bertemu Michels. “Awalnya dia ditempatkan di dekat Groningen, tetapi entah bagaimana posisinya di sana menjadi tidak aman, mereka memindahkannya ke tempat kami dekat pertanian kami,” tulisnya.
Di wilayah Drenthe dan Veenhuizen pada Oktober 1944, Michels terlibat dalam pelatihan kelompok perlawanan Belanda yang melawan pendudukan Jerman. Ia juga ikut serta dalam penggerebekan di rumah tahanan Assen, memperlihatkan perannya tidak hanya sebagai prajurit, tetapi juga pelatih dan penggerak perlawanan.
Pasca perang, sejumlah anggota pasukan khusus Belanda yang pernah terlibat dalam Operasi Market Garden diangkat menjadi perwira. Michels termasuk di antaranya, bersama tokoh-tokoh seperti Raymond Westerling dan Idjon Djanbi—yang kelak dikenal sebagai pendiri pasukan elite Indonesia, Kopassus.
Para perwira ini kemudian dikirim ke Indonesia, yang saat itu telah memproklamasikan kemerdekaannya. Dalam penugasan tersebut, Rudy Blatt berada di bawah komando Kolonel Simon Hendrik Spoor di Netherlands Forces Intelligence Service (NEFIS), mengumpulkan berbagai informasi strategis. Sementara itu, Westerling melatih pasukan khusus Depot Special Troepen di Polonia, Jatinegara, dan Idjon Djanbi melatih pasukan payung.
Berbeda dengan rekan-rekannya, Michels ditempatkan di kesatuan infanteri biasa. Ia sempat bertugas di Sumatra Selatan di bawah komando Kolonel Fritz Mollinger. Di wilayah ini pula, Michels menerima penghargaan atas jasanya di medan perang Eropa.
Berdasarkan keputusan kerajaan Belanda pada 4 November 1948, Letnan Satu Robert Cornelis Michels dianugerahi Bronzen Leeuwe atau Singa Perunggu—sebuah penghargaan militer bergengsi. Upacara penganugerahan tersebut dilaksanakan di Palembang, sebagaimana dilaporkan oleh Het Dagblad edisi 14 Februari 1949, dengan penyematan langsung oleh Kolonel Mollinger.
Kisah hidup Michels menjadi gambaran nyata tentang seorang prajurit yang menempuh jalan berliku—dari petualang muda hingga menjadi bagian dari sejarah besar dunia. Dari Afrika Utara, Eropa, hingga Indonesia, jejaknya mencerminkan keberanian, loyalitas, sekaligus kompleksitas perangdan kolonialisme di masa itu. (*/sya)































