SUKABUMITIMES.com – Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Suara Hati Sukabumi Raya terus menunjukkan komitmennya dalam membantu penyandang disabilitas melalui penyaluran bantuan kaki palsu.
Program sosial yang telah berjalan sejak 2014 ini tidak hanya menjangkau warga Sukabumi, tetapi juga penerima manfaat dari Bogor, Cianjur, hingga Padalarang.
Ketua LKS Suara Hati Sukabumi Raya, Panji, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berafiliasi dengan Dinas Sosial untuk menjembatani berbagai kegiatan kemasyarakatan.
“Lembaga sosial ini berafiliasi dengan Dinas Sosial untuk menjembatani kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bersama orang-orang yang memiliki jiwa dan kesetiakawanan sosial,” ujar Panji saat dihubungi wartawan, Kamis (12/2/2026).
Menurut Panji, kegiatan penyaluran bantuan kaki palsu telah berlangsung secara berkelanjutan selama lebih dari 10 tahun.
Dalam kurun waktu tersebut, LKS Suara Hati telah menyalurkan ratusan pasang kaki palsu kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak 2014. Artinya, lebih dari satu dekade kami menyalurkan ratusan pasang kaki palsu,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, LKS Suara Hati bekerja sama dengan Yayasan Tuna Daksa. Penyaluran bantuan dilakukan menyesuaikan dengan ketersediaan stok alat bantu.
“Kami bekerja sama dengan Yayasan Tuna Daksa. Jika ada kesempatan dan stok tersedia, kegiatan bisa dilakukan hingga dua kali dalam setahun,” jelasnya.
Panji mengungkapkan, jumlah pendaftar dalam kegiatan terbaru mencapai 75 orang. Namun, karena kendala teknis dan kondisi kesehatan calon penerima, bantuan yang dapat direalisasikan sekitar 58 orang.
“Rata-rata yang belum bisa direalisasikan karena kondisi fisik belum siap atau belum pulih sepenuhnya,” terangnya.
Ia menambahkan, penyebarluasan informasi program dilakukan secara organik, termasuk melalui para penerima manfaat sebelumnya.
“Informasi biasanya menyebar secara spontan, baik melalui pertemuan langsung maupun dari berbagai sumber lainnya,” ujarnya.
Panji menegaskan bahwa lembaganya tidak membedakan latar belakang penerima bantuan.
“Kami tidak melihat latar belakang. Selama mereka benar-benar membutuhkan kaki palsu dan persediaan ada, Insya Allah akan dibantu,” tegasnya.
Lebih dari sekadar bantuan alat bantu, LKS Suara Hati juga berupaya mendorong kemandirian ekonomi para penyandang disabilitas melalui pelatihan kerja dan pendampingan usaha.
“Kegiatan ini bukan hanya menyediakan kaki palsu, tetapi juga membangun ekosistem usaha agar mereka bisa menata kembali kehidupan dan lebih produktif,” katanya.
Panji menyebut, sebagian besar penerima manfaat merupakan pelaku usaha. Dengan bantuan kaki palsu, diharapkan mobilitas dan aktivitas ekonomi mereka semakin meningkat.
“Selain itu, mereka juga dibekali pelatihan kerja untuk meningkatkan keahlian di bidang tertentu agar mampu bersaing,” tambahnya.
LKS Suara Hati juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Sosial dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pendampingan turut dilakukan dalam aspek pemasaran produk hasil kreativitas penerima manfaat.
“Tidak berhenti di situ, kami juga membantu memasarkan produk-produk hasil pelatihan,” ujarnya.
Selain pengembangan usaha kecil dan menengah, para penyandang disabilitas juga diarahkan untuk aktif di bidang olahraga, seperti tenis meja dan renang.
Sementara itu, Pembina LKS Suara Hati sekaligus Manajer Hotel Augusta Sukabumi, H. Asep Suparwan, menekankan bahwa kegiatan sosial harus dimaknai sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan.
“Agama Islam mengajarkan umat manusia untuk saling membantu dan menolong sesama, termasuk saudara-saudara kita para disabilitas,” kata H. Asep.
Ia berharap bantuan kaki palsu dapat meningkatkan rasa percaya diri penerima manfaat serta menghapus stigma negatif terhadap kaum difabel.
“Kami mendorong mereka untuk lebih produktif dan menghilangkan kesan bahwa difabel adalah beban. Faktanya, banyak dari mereka kini sukses dan menjadi motor penggerak ekonomi,” ujarnya.
Salah seorang penerima manfaat, Fajar, yang bekerja sebagai pengemudi Grab, mengaku bantuan kaki palsu sangat berpengaruh dalam kehidupannya.
“Saya menggunakan kaki palsu sejak 2014. Selama itu pula saya berdikari sendiri dan tidak menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain,” tegasnya.
Fajar menilai, penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. “Difabel juga bisa mandiri, produktif, dan berdaya saing,” pungkasnya. (uml)


























