SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, memberikan pesan kuat mengenai tanggung jawab kepemimpinan dan pentingnya persatuan elemen masyarakat dalam upaya mempercepat pertumbuhan daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat meresmikan Gedung Dekranasda Kota Sukabumi pada Selasa (10/2/2026).
Ayep Zaki menegaskan bahwa kemajuan Kota Sukabumi sangat bergantung pada kekompakan seluruh komponen, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, tokoh masyarakat, partai politik, organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga seluruh warga.
“Sukabumi akan cepat tumbuh, asalkan semua komponen kompak dan solid. Baik itu pemerintah daerah, DPRD, tokoh masyarakat, partai politik, ormas dan tentu saja semua warga kota Sukabumi,” ujar Ayep Zaki
Ayep Zaki juga menekankan bahwa esensi dari jabatan Wali Kota adalah kemampuan untuk membangun. Ia menyatakan dengan tegas bahwa seorang pemimpin harus memiliki kompetensi untuk membawa perubahan nyata bagi wilayahnya.
“Kalau tidak bisa membangun jangan jadi wali kota. Tugas Wali Kota itu membangun semuanya, baik itu sumber daya manusia, infrastruktur, ekonomi, sosial, keagamaan, budaya, bahkan semua komponen,” tegasnya.
Menurutnya, pembangunan manusia merupakan prioritas utama. Ia menekankan bahwa masyarakat harus terus diberdayakan guna meningkatkan taraf sosial, sekaligus menuntaskan berbagai persoalan mendasar seperti kemiskinan, stunting, pengangguran, hingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Meskipun memiliki visi yang kuat, Ayep Zaki menyadari bahwa kepemimpinan tidak bisa berjalan sendirian. Ia mengajak seluruh pihak untuk mempersempit jurang perbedaan demi kepentingan yang lebih besar, yakni kebaikan Kota Sukabumi.
“Tetapi yang harus dipahami, bahwa sehebat apapun pemimpin, tidak akan bisa mengerjakan semua itu kalau tidak bersama-sama dengan seluruh elemen masyarakat. Maka kita persempit perbedaan kita, untuk kebaikan Sukabumi,” lanjutnya.
Terkait dinamika sosial dan politik, Wali Kota juga menyinggung soal cara menyampaikan kritik.
Ia menghargai perbedaan pendapat selama dilakukan dengan cara yang konstruktif dan sesuai dengan budaya luhur bangsa.
“Kalau ada perbedaan itu pasti, tetapi jangan jail. Kalau mengkritik ok, tetapi jangan merusak. Kalau ada kritik kita akan perbaiki, namun kalau mau membunuh, ingin merusak, iri dengki, caci maki, kita hindari itu. Itu bukan budaya kita,” pungkasnya. (sya)
































