Romantisme Lembur: Ketika Kurang Tidur Menjadi Prestasi di Negeri +62

SUKABUMITIMES.COM – Indonesia memang negara yang penuh kejutan. Di saat negara-negara maju sedang sibuk berdebat soal 4-day work week alias kerja empat hari seminggu agar rakyatnya tidak cepat stres, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025 justru menunjukkan bahwa kita sedang menuju arah yang sebaliknya: menjadi “Pahlawan Begadang Nasional.”

Bayangkan saja, satu dari empat pekerja di Indonesia (sekitar 25,47%) bekerja lebih dari 49 jam seminggu.

Kalau dibagi enam hari kerja, itu artinya mereka menghabiskan waktu lebih dari 8 jam sehari hanya untuk mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian.

Ini belum termasuk waktu tempuh macet yang dihabiskan untuk merenung di atas motor atau kereta sambil menghirup polusi.

Kejutan terbesar datang dari daftar provinsi dengan jam kerja tertinggi. Selama ini kita mengira budak korporat di SCBD atau Sudirman adalah pemegang rekor dunia dalam urusan lembur demi kopi latte seharga gaji sehari.

Ternyata, Jakarta bahkan tidak masuk dalam daftar 8 besar!

Gelar “Pekerja Paling Gigih” jatuh kepada Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bayangkan, rata-rata jam kerja di sana mencapai 62 jam per minggu. Sektor utamanya? Real estat. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah rata-rata pendapatannya yang hanya Rp 2,4 juta per bulan.

Jika dihitung kasar, ini adalah definisi nyata dari “kerja keras bagai kuda, gaji bagai kura-kura.”

Bekerja nyaris 10 jam setiap hari tanpa libur, demi angka yang mungkin habis untuk bayar cicilan dan kebutuhan pokok dalam sekejap.Gender dan “Beban Ganda”

Data juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih rentan terjebak dalam pusaran jam kerja panjang (28,50%). Sementara itu, perempuan lebih banyak berada di zona 1-34 jam seminggu.

Apakah ini artinya perempuan lebih santai? Tentu tidak. Ini justru memperkuat potret pembagian peran tradisional kita: laki-laki “dihajar” di luar rumah, sementara perempuan seringkali harus menyeimbangkan kerja paruh waktu dengan “shift kedua” yang tak berbayar di rumah (mengurus anak, masak, dan urusan domestik lainnya).

Fenomena overwork ini sebenarnya menjadi alarm bagi kualitas ketenagakerjaan kita. Jam kerja yang panjang seringkali hanyalah topeng dari produktivitas yang rendah.

Kita lama di tempat kerja bukan selalu karena banyak yang dikerjakan, tapi bisa jadi karena sistemnya yang tidak efisien, atau mungkin—mari jujur sedikit—karena takut pulang duluan sebelum atasan pulang.

Tantangan kita bukan lagi sekadar “cari kerja,” tapi bagaimana supaya “kerja tidak bikin gila.” Karena di akhir hari, kesehatan mental dan fisik pekerja tidak bisa ditukar dengan laporan bulanan yang selesai di jam 2 pagi.

Apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup hanya untuk bekerja (dan membayar biaya rumah sakit akibat kelelahan)? Jawabannya mungkin ada di dalam secangkir kopi hitam yang Anda minum saat membaca artikel ini di jam lembur Anda. Selamat bekerja (kembali)! (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *