SUKABUMITIMES.COM – Sebagai orang tua, tentu kita biasa untuk menidurkan si kecil, terkadang mereka sudah untuk ditidurkan karena inginnya bermain terus.
Nah, kita bisa coba untuk mendongengkan si kecil yang kaya akan pesan moral dan pelajaran bijak.
Enggak cuma untuk hiburan saja, cerita dongeng juga bisa jadi bekal untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan Si Kecil sejak dini. Lewat cerita yang ringan, anak pun bisa belajar memahami perilaku yang baik.
Selain itu, membaca dongeng juga dapat menjadi waktu yang hangat antara orang tua dan Si Kecil. Anak pun akan merasa diperhatikan, didengar, dan mau jika diajak bercerita.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau kita membacakan cerita dongeng tentang zaman dahulu yang sarat pesan positif untuk Si Kecil. Simak, yuk.
Mengutip dari berbagai sumber, berikut kumpulan cerita dongeng dari zaman dahulu kala yang sarat pesan moral, cocok diceritakan sebelum anak tidur.
Asal Mula Danau Maninjau
Masih dari buku Kumpulan Dongeng untuk anak 1 oleh Stella Ernes, berikut cerita dongeng Asal Mula Danau Maninjau.
Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu perempuan. Orang tua mereka telah meninggal. Anak tertua bernama Kukuban dan si bungsu bernama Siti Rasani.
Mereka diasuh oleh paman mereka, Datuk Limbatang. Lelaki itu mempunyai seorang putra bernama Giran. Ketika dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Kedua keluarga pun menyambut hubungan mereka dengan kegembiraan.
Seusai panen, warga kampung melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti, termasuk Kukuban dan Giran. Kukuban berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Demikian pula dengan Giran.
Keduanya bertemu pada pertandingan penentuan. Kukuban dan Giran sama-sama kuat. Kukuban menyerang Giran, tetapi tendangannya dapat ditangkis oleh Giran. Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. Ia dinyatakan kalah dalam pertarungan. Kukuban pun dendam pada Giran.
Datuk Limbatang ingin membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan itu. Sani dan Giran sangat sedih. Esoknya, mereka pun bertemu di tepi sungai untuk membicarakan nasib hubungan mereka.
Tiba-tiba, kain yang dikenakan Sani tersangkut di ranting berduri dan melukai kakinya. Giran mengobati luka Sani. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengintai mereka. Melihat ulah Giran, warga berprasangka buruk.
Sani dan Giran diadili. Mereka dianggap telah melakukan perbuatan yang melanggar etika adat. Sidang adat memutuskan Sani dan Giran bersalah. Mereka diberi hukuman harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka.
Tiba di puncak Gunung Tinjau, Giran dan Sani berdoa, “Ya Tuhan, jika kami tidak bersalah, izinkanlah gunung ini. Berilah pelajaran pada mereka.” Lalu, keduanya meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.
Tak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat. Gempa hebat terjadi, menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk. Letusan gunung menyebabkan terjadinya sebuah kawah. Semakin lama kawah itu menyerupai sebuah danau, yang kemudian diberi nama Danau Maninjau.
Pesan moral: Kita tidak boleh menyimpan dendam dan berprasangka buruk terhadap orang lain. (*/sya)



























