SUKABUMITIMES.COM – Warga pesisir Pantai Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, dikejutkan dengan penemuan seekor penyu hijau berukuran besar yang terdampar dalam kondisi sudah tak bernyawa, Minggu (21/9/2025) pagi.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, tidak jauh dari kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujunggenteng. Kabar penemuan satwa laut yang dilindungi tersebut cepat menyebar luas melalui media sosial dan grup aplikasi pesan instan, sehingga menyedot perhatian publik.
Ketua Rukun Nelayan Ujunggenteng, Asep Jk saat dikonfirmasi membenarkan penemuan penyu tersebut. Ia menjelaskan, penyu yang mati merupakan jenis penyu hijau (Chelonia mydas), satwa yang kerap naik ke pesisir Ujunggenteng untuk bertelur.
“Sekitar pukul 07.00 ada nelayan yang memberi kabar. Saat dicek, penyu sudah dalam keadaan mati, meski kondisinya masih segar dan belum membusuk. Ada tanda-tanda di bagian leher, seperti bekas jeratan tali atau jaring,” ungkap Asep saat dikonfirmasi.
Berdasarkan ukurannya, kata Asep, penyu tersebut diperkirakan berusia sekitar dua tahun. Ia menduga kuat kematian penyu itu akibat terjerat jaring atau pancing rawe milik nelayan.
Asep mengungkapkan, insiden penyu mati terdampar di pesisir Ujunggenteng bukanlah hal baru. Dalam beberapa hari terakhir, sudah ada dua penyu ditemukan dalam kondisi serupa.
“Kejadian seperti ini cukup sering. Kalau faktor cuaca rasanya tidak mungkin, karena penyu termasuk kuat bertahan di berbagai kondisi laut. Dugaan kuatnya ya karena terjerat jaring atau pancing nelayan,” jelasnya.
Meski demikian, Asep menegaskan bahwa kesadaran nelayan Ujunggenteng dalam menjaga kelestarian satwa laut kini semakin tinggi. Berbagai sosialisasi dari pemerintah maupun lembaga konservasi membuat para nelayan lebih peduli terhadap keberlangsungan penyu dan mamalia laut lainnya.
“Kalau sekarang sudah banyak yang mengerti. Kalau ada penyu atau lumba-lumba yang terjerat, biasanya langsung dilepas atau dievakuasi. Kalau dulu, sebelum ada sosialisasi, penyu yang terjerat sering dibiarkan begitu saja. Masalahnya, kalau jaring dipasang malam, baru pagi ketahuan sudah ada penyu yang terjerat,” tutur Asep.
Menurut Asep, kematian penyu hijau ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak, khususnya nelayan, agar lebih berhati-hati saat melaut. Ia berharap kejadian serupa tidak lagi terulang.
“Kematian penyu ini diharapkan menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama nelayan, untuk lebih berhati-hati saat melaut dan semakin aktif mendukung upaya pelestarian satwa laut ini,” tandasnya. (stm)


























