Sisa Makanan Dominasi Sampah di Kota Sukabumi, Asep Irawan: 70 Persen di Buang ke TPA Cikundul

SUKABUMITIMES.COM – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi Asep Irawan menegaskan, sampah yang menumpuk di Kota Sukabumi itu sekitar empat puluh persennya berasal dari makanan.

Hal ini ditegaskan oleh Kadis LH Kota Sukabumi Asep Irawan ketika diwawancarai sukabumitimes.com sesaat setelah melaksanakan kegiatan program kali bersih yang diinisiasi oleh DLH Kota Sukabumi di taman wisata Cikundul pada Selasa (16/9/2025).

Baru setelah itu sisanya ada sampah pasar, industri, pertokoan, dan lain sebagainya,” kata Asep.

Masih menurut Asep, berdasarkan data yang ada sampah tersebut didominasi pembuangannya ke tempat pembuangan akhir (TPA) Cikundul sekitar tujuh puluh persen

“Baru kemudian sisanya yang tiga puluh persen itu terbagi dua, yakni lima belas persen memang sudah dikelola dengan baik oleh masyarakat dan sisanya masih dibuang sembarangan,” terangnya.

Ia mengakui, ini menjadi tantangan dan kita akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Asep Irawan menyatakan, salah satu hambatan dalam mengelola sampah ini adalah masih minimnya anggaran yang minim.

“Kecilnya anggaran ini bukan hanya di Sukabumi saja, secara nasional pemerintah belum terlalu konsen dalam pengelolaan sampah,” imbuhnya.

“Sampai saat ini, anggaran yang ada masih dikisaran 0,6 persen dari APBD kota Sukabumi. Belum ada satu persennya anggaran yang diperuntukkan pengelolaan sampah. Dan ini memang rata-rata di daerah lain juga seperti itu,” tutupnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menjelaskan, pengelolaan sampah di kota Sukabumi akan me jakim kerjasama dengan pihak SCG atau Semen Jawa yang berlokasi di kabupaten Sukabumi.

“Sampai saat ini kita masih terus berkomunikasi. Pihak SCG juga masih terbatas menerima sampah, yaitu hanya 30 persen saja, sisanya terus akan kita apakan?,” jelasnya.

Selain itu, operasional juga masih terbatas, mereka beroperasi hanya sampai pukul 15.30 WIB saja. Kalaupun nantinya ada tambahan sampah dari kota tentu membutuhkan tambahan waktu dengan shift.

“Tapi kita optimis bisa, karena ini memang perintah pak menteri,” optimisnya.

Bobby menambahkan, kalau waste to energy itukan ada persyaratannya, antara lain harus seribu ton, sedangkan dari segi harga juga mahal, disekitar satu juta per ton. Inikan mahal sekali dan kita tidak sanggup.

“Kita juga akan terus mengoptimalkan keberadaan bank sampah di 33 kelurahan yang ada di kota Sukabumi, regulasi perlu dibuat, serta masyarakat perlu dikenalkan biopori. Kita pilih sampling, supaya masyarakat mengetahui dan ini tentu saja sesuai dengan kondisi di tiap-tiap wilayah kecamatan,” pungkas Bobby. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *