SUKABUMITIMES.COM – Sebuah kapal ikan tradisional dilaporkan terbalik akibat terjangan ombak besar di Pantai Indah Muara Cikaso Keusik Urug, Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Senin (26/5/2025) pagi.
Beruntung, dua nelayan yang berada di atas kapal berhasil selamat setelah berenang ke pantai.
Danposal Ujunggenteng, Letda Laut (P) Andri Kurniawan membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, insiden terjadi sekitar pukul 10.00 WIB saat kapal KM Salsa Nabila -02 hendak kembali ke dermaga setelah melaut.
“Kapal terbalik saat akan memasuki alur pintu dermaga karena dihantam ombak besar. Kapal sempat terseret ke perairan dangkal lalu kandas dan terbalik,” ungkap Letda Laut (P) Andri Kurniawan dalam keterangan yang diterima sukabumitimes.com pada Senin (26/5/2025).
Diketahui, kata Letda Laut (P) Andri Kurniawan, berdasarkan keterangan saksi saksi kapal berukuran 2 GT bermesin Mopel 15 PK tersebut dinakhodai oleh Bahrudin (49), warga Kampung Muara, Desa Buniasih, dengan seorang anak buah kapal (ABK) bernama Erwin (17), warga Kampung Babadan.
“Keduanya berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke laut dan berenang ke daratan, sebelum akhirnya ditolong nelayan lain yang berada di sekitar lokasi,” jelasnya.
Menurut Letda Laut (P) Andri Kurniawan, kejadian itu turut disaksikan oleh dua nelayan, yakni Deri (35) dan Mulyadi (30), yang saat itu tengah berada di kawasan Pantai Muara. Kemudian setelah beberapa jam upaya evakuasi, kapal yang mengalami kerusakan ringan tersebut akhirnya berhasil ditarik ke pantai sekitar pukul 15.00 WIB.
“Namun, seluruh alat tangkap dan hasil tangkapan ikan hilang terbawa arus,” ucapnya.
Letda Andri menambahkan, cuaca buruk dan gelombang tinggi di perairan selatan Sukabumi menjadi faktor utama kecelakaan laut tersebut. Pihaknya mengimbau para nelayan agar mematuhi peringatan cuaca dan tidak memaksakan melaut terutama bagi kapal berkapasitas kecil di bawah 6 GT.
“Cuaca di wilayah Pantai Selatan Sukabumi saat ini tidak menentu dan sangat berisiko bagi kapal kecil. Kami terus mengimbau nelayan untuk menunda aktivitas melaut apabila gelombang tinggi dan angin kencang terjadi,” tegasnya. (stm)


























