SUKABUMITIMES.com – Ketua Yayasan PASIM, Wati Purnaningrum, menyatakan peresmian PASIM Go International Job Fair oleh Menteri menjadi tonggak penting dalam upaya membuka akses kerja internasional bagi masyarakat Indonesia.
Program yang digelar di PASIM Go Migrant Center itu disebut sebagai International Job Fair pertama di Indonesia yang secara khusus mempertemukan pencari kerja dengan peluang bekerja di berbagai negara.
Hal tersebut disampaikannya setelah selesai pembukaan kegiatan PASIM Go International Job Fair yang berlangsung di Aula Kampus Pasim Kota Sukabumi pada Senin (27/7/2026).
“Hari ini Pak Menteri telah hadir ke PASIM, ke PASIM Go Migrant Center untuk meresmikan PASIM Go International Job Fair. Ini yang pertama di Indonesia,” kata Wati Purnaningrum kepada wartawan, Senin.
Menurut Wati, penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi antara Yayasan PASIM dengan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam mendukung penempatan pekerja migran Indonesia secara resmi ke berbagai negara tujuan.
“Tujuannya adalah kita memang membantu dan bersinergi dengan pemerintah, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah kota, untuk memberangkatkan migran Indonesia ke luar negeri, khususnya Jepang, Jerman, dan beberapa negara lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyelenggara menargetkan sekitar 5.000 peserta mengikuti job fair yang berlangsung selama dua hari. Hari pertama dimulai sejak siang hingga sore, sedangkan hari kedua akan berlangsung penuh dari pagi hingga sore.
“Kalau hari ini kita ada kurang lebih 5.000 peserta dalam dua hari. Karena hari ini pembukaan, jadi kita mulai dari siang sampai sore. Tapi untuk tanggal 28, kita full dari pagi sampai sore,” ungkapnya.

Wati menambahkan, pada hari kedua kegiatan akan dihadiri para siswa kelas XII SMA dan SMK sederajat dari Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi hingga Kabupaten Cianjur.
“Insya Allah akan dihadiri oleh seluruh siswa-siswi kelas 3 SMA, SMK sederajat se-Kota Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, dan juga Cianjur,” katanya.
Terkait peluang kerja yang ditawarkan, Wati menyebut tersedia berbagai bidang pekerjaan sesuai kebutuhan negara tujuan. Khusus Jepang, terdapat sedikitnya 15 jenis pekerjaan yang dapat dipilih para pencari kerja.
“Kalau penempatannya itu berbagai negara. Salah satunya di Jepang ada kurang lebih 15 mata pekerjaan. Ada hospitality, caregiver, pertanian, ground handling, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Selain Jepang, peluang bekerja juga tersedia di sejumlah negara lain melalui perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia (P3MI) yang ikut berpartisipasi dalam job fair tersebut.
“Peserta dari beberapa P3MI itu ada yang memberangkatkan tenaga kerja ke Eropa, ke Amerika, ke Asia, termasuk ke Jepang juga banyak,” tutur Wati.
Ia mengungkapkan, minat masyarakat terhadap kegiatan ini sangat tinggi. Antusiasme peserta sudah terlihat bahkan sebelum acara dibuka melalui pendaftaran daring yang telah mencapai ribuan orang.
“Alhamdulillah, ini antusias sekali. Karena memang mereka juga sudah teredukasi, sudah membaca lewat media sosial. Kita juga dibantu penyiarannya oleh Pemerintah Kota Sukabumi, sehingga mereka sudah mengetahui program ini,” katanya.

Menurutnya, jumlah pendaftar yang masuk melalui Google Form terus bertambah dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada hari kedua pelaksanaan.
“Yang tercatat, yang terdaftar di Google Form kita juga sudah sangat banyak, sudah ribuan. Mungkin puncaknya hari esok,” tutup Wati.
Sementara itu, Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Republik Indonesia Mukhtarudin mengatakan, kehadiran International Job Fair dan peluncuran program SMK Plus Go International di Sukabumi merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari hulu ke hilir.
Langkah ini diambil oleh Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bekerja sama dengan Universitas Nasional Pasim untuk memberikan edukasi serta membuka akses jalur kerja luar negeri yang aman dan legal, khususnya bagi para lulusan sekolah kejuruan di Jawa Barat.
“Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, sebetulnya saya informasikan dulu bahwa hari ini saya hadir sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dalam rangka membuka International Job Fair yang dilakukan oleh Universitas Nasional Pasim di Sukabumi,” ujar Mukhtarudin.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tindak lanjut konkret dari kerja sama yang telah dibangun sebelumnya dalam menghadirkan pusat layanan migran.
“Ini sebagai tindak lanjut dari MoU yang sudah kita lakukan antara KP2MI dengan Universitas Nasional Pasim membentuk Migrant Center. Nah, setelah dibentuk *Migrant Center, 6 bulan kemudian dilakukannya Job Fair dalam rangka kita mempublikasikan, menginformasikan tentang peluang-peluang kerja luar negeri dan kemudian bagaimana kita memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana bekerja secara prosedural, menjadi pekerja migran yang prosedural,” jelasnya.
Sinergi tersebut melibatkan berbagai elemen daerah mulai dari Pemerintah Kabupaten/Kota Sukabumi, asosiasi penempatan migran seperti APJATI dan ASPATAKI, Kadin, hingga sektor perbankan dan lembaga pembiayaan.

“Lengkap hari ini hadir dalam Job Fair dalam rangka kita memperkuat ekosistemnya dari hulu sampai ke hilir kaitan dengan bagaimana pengelolaan pekerja migran Indonesia yang prosedural, aman, dan terlindungi oleh negara,” tambahnya.
Mukhtarudin juga memaparkan berbagai negara tujuan yang membuka peluang kerja di sektor formal bagi tenaga kerja Indonesia.
“Khususnya Jepang, Jerman ya. Termasuk negara-negara lain, Eropa dan juga beberapa negara Asia yang lain, termasuk Malaysia, Timur Tengah untuk yang formal. Kemudian juga di Eropa pada umumnya, termasuk di Albania dan juga di Turki. Hampir semua negaralah yang ada peluang kerja luar negerinya, sektor-sektor yang terbuka hari ini,” ungkapnya.
Upaya ini dipandang krusial untuk menekan maraknya pemberangkatan pekerja migran secara ilegal di wilayah Jawa Barat melalui sosialisasi saluran-saluran resmi yang dapat diakses masyarakat.
“Ini bagian daripada ekosistem hulunya yang kita persiapkan sehingga diharapkan masyarakat itu sudah harus melalui prosedur yang aman, yang prosedural, tidak melalui jalur-jalur yang ilegal, nonprosedural. Karena Jawa Barat juga cukup tinggi angka nonproseduralnya. Oleh karena itu, dengan kehadiran Job Fair ini bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat kalau mau kerja ke luar negeri itu ada salurannya, ada mitranya yang sudah bisa dihubungi, ada perusahaan P3MI-nya, ada pemerintah daerahnya,” jelas Menteri P2MI lebih lanjut.
Melalui integrasi program SMK Plus Go International, pemerintah bertekad mendorong pergeseran kualifikasi pekerja migran Indonesia menuju tenaga kerja yang lebih profesional dan terampil.
“Diharapkan dengan ini membentuk sebuah ekosistem hulu dalam rangka kita mempersiapkan sumber daya pekerja migran kita menuju ke medium dan high skill. Jadi, kita sudah mengisi sektor-sektor formal dan profesional di negara-negara di belahan dunia,” pungkasnya. (sya)


























