Inflasi 2,77 Persen, Kota Sukabumi Masuk 10 Besar Terendah Nasional, Ekonomi Tumbuh 5,94 Persen

SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menyampaikan bahwa laju inflasi Kota Sukabumi pada periode Agustus 2026 masih terkendali. Inflasi tercatat sebesar 2,77 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 0,22 persen secara bulanan (month to month/mtm).

“Angka ini jelas memberikan harapan ke depan untuk pertumbuhan ekonomi di Kota Sukabumi yang lebih baik. Di tengah dinamika global, laju inflasi Kota Sukabumi masih terhitung rendah,” ungkap Ayep Zaki dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

Dengan angka tersebut, Kota Sukabumi bahkan masuk 10 besar kota dengan tingkat inflasi terendah secara nasional, yakni berada di peringkat kesembilan. Posisi ini berada di atas Kota Bogor yang mencatat inflasi 2,87 persen.

“Inflasi Kota Sukabumi masih berada dalam kondisi yang terkendali. Ini tentu menjadi catatan positif bagi perekonomian daerah,” ujar Ayep.

Berdasarkan catatan tersebut, Kota Palopo menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 1,73 persen. Kemudian Kota Gorontalo mencatat 2,35 persen, sementara DKI Jakarta berada di posisi keenam dengan inflasi 2,71 persen.

Meski demikian, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan terhadap inflasi Kota Sukabumi. Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah mencatat sektor transportasi dan pendidikan menjadi komoditas yang cukup dominan pada Agustus 2026.

“Kenaikan tarif transportasi online ikut memberikan pengaruh terhadap inflasi,” jelasnya.

Selain itu, penyesuaian biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, khususnya jenjang SD dan SMP, serta biaya bimbingan belajar juga turut mendorong kenaikan inflasi.

Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Pemerintah Kota Sukabumi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah intervensi.

Salah satunya melalui pelaksanaan gerakan pangan murah di Kecamatan Gunung Puyuh, Lembursitu dan Cibeureum.

“Kita terus melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan inflasi, salah satunya melalui gerakan pangan murah,” kata Ayep.

Pemkot Sukabumi juga membuka komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk memperkuat kerja sama di sektor pangan. Langkah ini dinilai penting karena ketersediaan dan harga pangan menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi inflasi.

“Kita juga menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam rangka kerja sama bidang pangan. Urusan pangan ini menjadi salah satu komoditas utama yang sangat mempengaruhi laju inflasi,” ungkapnya.

Di sisi lain, capaian positif juga terlihat dari pertumbuhan ekonomi. Kota Sukabumi masuk 20 besar daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada triwulan II 2026, dengan pertumbuhan mencapai 5,94 persen (yoy).

Sementara tiga daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ditempati Kota Pekanbaru sebesar 7,39 persen, Kota Batam 7,28 persen dan Kota Surabaya 7,20 persen.

“Catatan ini mengindikasikan Kota Sukabumi sudah berjalan di rel yang benar,” tegas Ayep.

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus terus menekan laju inflasi.

“Tinggal bagaimana meningkatkan pertumbuhan dan menekan laju inflasi dengan kreativitas dan keberanian mengambil kebijakan untuk Kota Sukabumi,” katanya.

“Semoga ke depan ekonomi Kota Sukabumi semakin baik,” pungkas Ayep Zaki. (sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *