Asep Koswara Kepala Sekretariat DPRD Kota Sukabumi dalam meniti karir di ASN penuh liku dan menantang. Menjadi ASN langsung bertugas di Kabupaten Buol Tolitoli Sulawesi Tengah, daerah yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari tanah kelahirannya, daerah transmigrasi hingga pada akhirnya memperoleh juara pertama lomba kelurahan tingkat nasional dan ASN berpretasi tingkat Jabar. Bagaimana Kisah selanjutnya?
Oleh: Syarif Hidayat
SUKABUMITIMES.COM – Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bagi Asep Koswara adalah suatu pengabdian. Dimana ASN itu merupakan pegawai pemerintah yang bertugas melayani masyarakat. Fungsi pelayanan sebagai kata kunci menuntut orang didalamnya untuk memberikan kemampuan terbaik yang dimiliki demi terciptanya kepuasan pelayanan, namun harus dilakukan dengan rasa ikhlas.
Menurut Asep Koswara, kalau dulu sewaktu baru saja menjadi PNS (sekarang ASN) sesuatu yang sangat berat. Justru baginya dari cara pandang sekarang ini, justru perjalanan waktu itu ternyata suatu keindahan. Suatu anugerah dari Allah SWT.
“Perjalan awal menjadi PNS itu suatu proses, saya anggap sebagai suatu ujian dan cobaan dari Allah SWT. Namun sekali lagi, perjalanan waktu itu, saya melihat sekarang ini adalah sesuatu yang indah dalam hidup,” ujar Asep Koswara ketika berbincang dengan sukabumitimes.com di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menjadi Seorang PNS
Nasib dan perjalanan hidup tidak akan pernah ada yang mengetahuinya. Dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas semua pasti bisa tercapai dan yang paling penting penyerahan diri kepada Allah SWT.
Begitu dengan Asep Koswara muda sambil bercerita mengenal bagiamana awal menjadi seorang abdi negara.
Pria ramah dan murah senyum kelahiran 8 Agustus 1969 ini menikah sebelum dirinya menjadi PNS, tepatnya pada bulan September 1995 membulatkan tekad menyunting gadis cantik yang bernama Yulia Suprapti.
“Ayah mertua adalah salah satu perintis kantor transmigrasi kabupaten Sukabumi. Mertua adalah kepala kantor pertama di kantor transmigrasi,” begitu Asep mengawali cerita awal menjadi PNS.
Tidak berselang lama, ada tawaran pekerjaan sebagai petugas lapangan keluarga berencana di Sulawesi Tengah. Padahal waktu itu dirinya hanya berbekal ijazah SMA.
“Saat itu, September saya nikah dan di bulan Oktober 1995 mengikuti ujian masuk PNS dan Alhamdulillah November saya diterima sebagai PNS. Cuma penempatan saya pada bulan Desember itu di Indonesia Timur, tepatnya di Kabupaten Buol Toli-toli, Sulawesi Tengah,” lanjutnya.
Perjalanan hidup, 3 bulan nikah langsung berpisah dengan istri dengan jarak tempuh yang begitu luar biasa jauh, bagi keduanya menjadi tantangan tersendiri.
“Istri belum ikut, karena kondisi daerah yang masih sangat baru dan tugas saya di lapangan di wilayah transmigrasi. Di tambah lagi, penghasilan PNS waktu itukan kecil ya, hanya Rp80 ribu. Setelah 6 bulan di sana, barulah istri saya ajak ke sana dengan kondisi istri sudah mengandung,” ungkap pria ramah dan murah senyum ini dalam perbincangannya.
Baginya, selama bertugas di Buol Toli-toli sebenarnya suatu keindahan tersendiri. Dirinya mengaku disana mempunyai wilayah kerja sejuah 36 km dari kota, dengan catatan yang 7 km itu harus berjalan kaki. Sebenarnya sudah ada angkutan mobil, hanya saja sangat terbatas, paling sehari sekali, pagi sekali dan sore sekali.
“Makanya, itu semua sering saya ceritakan kepada anak-anak, bahwa perjuangan ayah itu jauh lebih susah dari perjuangan kalian sekarang ini,” kenang pria yang sudah dikarunia empat orang anak ini.
Dengan kondisi yang demikian, yang namanya stres pasti ada, namun satu tekad adalah dirinya harus berjuang demi anak. Mungkin juga sudah takdir Allah SWT, ia harus menjadi ASN dan harus berjuang dahulu keluar daerah tidak seperti yang lain.
“Anak yang pertama itu lahir di sana dan setelah 40 hari istri di jemput orang tuanya pulang ke Sukabumi. Tapi semua itu juga dengan pertimbangan yang matang dan setelah itu sendiri lagi,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, di sana meksipun jauh dari istri dan anak, kemudian memantapkan untuk terus menata karir.
“1999 diangkat menjadi Kepala Desa Maibua dan di tahun itu juga, zamannya presiden BJ Habibie mendapat penghargaan sebagai kepala desa teladan di kabupaten Buol Toli-toli,” lanjutnya.
Penduduk di sana waktu itu sangat beragam, karena daerah transmigrasi yang berasal dari Jawa, Bali, maupun NTB dan juga masyarakat asli atau pribumi.
“Luas wilayah desa Maibua itu berdiameter mencapai 21 km dengan 75 persen masih berupa hutan lindung, baru sisanya hutan rakyat, kebun,” ungkapnya.
Pindah Tugas di Kota Sukabumi
Asep melanjutkan ceritanya, nah memasuki tahun 2002, masa otonomi mulai diberlakukan. Saya merasa sudah cukup mengabdi di sana, sehingga mengajukan pindah tugas ke Sukabumi.
“Pada saat itu saya di golongan 2a. Sebenernya mempunyai keinginan pindah ke Kabupaten Sukabumi. Namun tidak bisa, karena BKKBN kabupaten Sukabumi waktu itu sudah diserahkan ke daerah. Karena otonomi daerah sehingga tidak ada. Dan pilihan hanya ada dua, yakni wilayah Bandung dan Kota Sukabumi,” bebernya.
Singkat cerita, di Sukabumi inilah saya mulai berpikir dan pendekatan diri. Saya bukan berasal dari pendidikan formal yang sifatnya konvensional dan disini saya tidak mempunyai teman, tidak punya cantelan apalagi channel.
“Saya meski dari Sukabumi, hanya saja tugasnya kan di Sulawesi kemudian pindah ke Kota Sukabumi berarti juga mengawali dari nol,” terangnya.
Puncak Prestasi Diri Melalui Pengabdian
Untuk meniti karir dalam pengabdian di Kota Sukabumi, ia mempunyai prinsip harus bersaing dengan prestasi.
“Perjuangan itu ternyata tidak sia-sia, pertama masuk ke Kota Sukabumi, saya harus bisa membranding diri untuk bisa bekerja. Alhamdulillah di tahun 2003 dan 2004 saya sudah mendapat penghargaan dari PLKB sebagai pegawai teladan di Sukabumi,” ucapnya.
Baginya waktu yang sangat membanggakan adalah pertama masuk ke kelurahan Karang Tengah Kecamatan Gunungpuyuh, langsung mendapat juara 1 tingkat provinsi Jabar.
“Saya waktu itu ikut membidani secara langsung,” tukasnya.
Dan di tahun 2004, dirinya juga mewakili kecamatan Gunungpuyuh lomba antar kelurahan tentang Kadarkum dan juga mewakili kota Sukabumi di wilayah 2 Bogor lomba ke Ciamis.
Tidak berselang lama, 2006 bertugas menjadi kepala seksi (Kasi) di Kelurahan Cikundul, kecamatan Lembursitu.
Lantas diangkat menjadi Lurah di Subangjaya.
“Ketika diangkat menjadi Lurah inilah, saya mempunyai tekad karena tidak mampu bersaing dengan pendidikan, makanya saya bertekad untuk mencari basic sendiri,” tegasnya.
“Alhamdulillah ketika saya jadi lurah di Subangjaya itulah bisa mengeksplore. Saya dilantik jadi Lurah pada bulan Maret 2010 dan di bulan September saya sudah menjadi perwakilan P2WKSS di tingkat provinsi Jabar dan meraih juara empat,” terangnya.
Berbekal pengalaman tersebut, lurah Asep terus menunjukkan kualitas dirinya dengan tidak henti membuat inovasi.
“Puncaknya di tahun 2012 siap untuk lomba karena sudah banyak inovasi. Juga bisa membuka jalan sejuah 900 meter dengan murni swadaya masyakarat, yang sekarang jalan tersebut di namakan jalan Kokom Komariah,” lanjutnya.
Sebenarnya pada waktu itu sangat sederhana apa yang dilakukan, yakni melaksanakan Jumat keliling, dengan melihat segala potensi yang ada di Subangjaya terus kita komunikasikan dengan masyarakat.
“Pada saat lomba, kelurahan Subangjaya jadi juara pertama tingkat kota dan mewakili ke tingkat provinsi dan ternyata juga menjadi juara pertama di tingkat provinsi,” ungkapnya.
Disinilah sebenarnya puncak dari prestasi yang tidak akan dilupakan saat mewakili provinsi Jabar maju ke tingkat nasional.
“Alhamdulillah jadi juara 1 lomba kelurahan di tingkat nasional. Catatan sejarah khususnya untuk provisi Jabar, karena sebelumnya dalam setiap lomba kelurahan tingkat nasional, Jabar bekuk pernah menjadi juara 1, tapi dengan kerja kolektif aparatur kelurahan dan masyarakat Subangjaya dinyatakan keluar menjadi yang terbaik dan berhak menyandang predikat juara 1 tingkat nasional,” bangganya.
Satu prinsip yang di pegang oleh Asep Koswara sampai sekarang adalah kalau kita mau belajar, kita mau berusaha, kita Bisa bekerja baik di lapangan, kita pasti bisa meningkatkan kualitas diri.
“2013, saya menjabat sebagai Sekretaris Camat (Secam) Cikole dan juga sempat menjadi Penjabat (Pj) Camat Cikole. Tidak sampai disitu saja, di tahun 2015 berhasil mendapatkan predikat pegawai teladan tingkat Jabar,” pungkasnya. (sya)


























