SUKABUMITIMES.com – Wakil Ketua TP PKK Kota Sukabumi, Kia Florita menegaskan program edukasi pengelolaan sampah yang dijalankan komunitas Restu Bumi tetap berjalan meski anggaran dari pemerintah belum cair selama enam bulan terakhir.
Hal itu disampaikan saat mendampingi reses Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi, Feri Sri Astrina di Kampung Selakaso RT 03 RW 07, Kelurahan Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Selasa (26/5/2026) lalu.
“Sebetulnya Restu Bumi ini bergerak memang banyak kolaborasi. Salah satunya hari ini kita berkolaborasi dengan Bu Feri selaku Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi. Artinya kita harus membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa pun, baik lembaga pemerintahan maupun nonpemerintahan,” ujar Kia Florita, Istri Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana.
Menurut Kia, selama ini komunitas Restu Bumi aktif membangun sinergi dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekolah-sekolah hingga komunitas masyarakat dalam menjalankan edukasi pengelolaan sampah.
Ia menegaskan, Restu Bumi lebih fokus menyelesaikan persoalan sampah dari hulu atau tingkat rumah tangga. Sebab, persoalan sampah di Kota Sukabumi dinilai sudah cukup darurat dan membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat.
“Kalau DLH itu lebih ke hilirnya, sedangkan Restu Bumi bergerak di hulunya. Kita terus gencar mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat supaya sampah selesai dari rumah tangga masing-masing,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya menerima sosialisasi, tetapi juga praktik langsung pengelolaan sampah rumah tangga agar lebih ramah lingkungan dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah aktivitas edukasi yang terus berjalan, Kia mengungkapkan anggaran kegiatan Restu Bumi yang berada di bawah DLH hingga kini belum juga turun akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
“Sebetulnya Restu Bumi ada anggaran di DLH. Hanya saja mungkin karena ada efisiensi anggaran, sampai saat ini kita belum dapat anggaran. Dari awal sampai sekarang sudah enam bulan belum turun,” ungkapnya.
Meski tanpa dukungan anggaran yang cair, kata Kia, berbagai kegiatan sosial dan edukasi lingkungan tetap dilaksanakan secara mandiri oleh para relawan dan penggerak komunitas.
“Jujur kita memakai anggaran sendiri, kita lillahita’ala,” tambahnya.
Kia menilai kondisi tersebut tidak menjadi hambatan besar karena semangat kolaborasi masih terus tumbuh di tengah masyarakat. Bahkan ke depan, Restu Bumi berencana menggandeng pihak swasta untuk memperkuat edukasi dan gerakan lingkungan di Kota Sukabumi.
“Salah satunya mungkin nanti kita akan kolaborasi dengan pihak kedua seperti Bank Syariah Indonesia. Jadi mereka menjalankan program mereka sambil kita membantu sosialisasi masalah sampah. Jadi collab saja,” jelasnya.
Terkait kemungkinan adanya tambahan anggaran pada perubahan anggaran mendatang, Kia mengaku belum mengetahui secara pasti. Namun menurutnya, hal paling penting saat ini adalah membangun kesadaran masyarakat agar peduli terhadap persoalan sampah sejak dari rumah.
“Yang penting sekarang bagaimana masyarakat paham dulu dan tergerak hatinya. Kalau kita hanya mengandalkan anggaran terus, semuanya pasti tidak akan berjalan, apalagi dengan kondisi sekarang yang banyak efisiensi. Jadi kita jalankan saja lillahita’ala,” pungkasnya. (sya)



























