SUKABUMITIMES.com – Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan di Desa Walahar, Kabupaten Karawang, mendorong pengembangan teknologi pengeringan Hybrid Eco Dry untuk mengurangi ketergantungan pada kondisi cuaca.
Melalui teknologi ini, proses pengeringan yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 30 hari kini dapat dipersingkat menjadi 15 hari dengan kualitas hasil pengeringan yang lebih baik.
Teknologi Hybrid Eco Dry mengombinasikan LPG Bright Gas dengan energi terbarukan serta dilengkapi sistem pemutar dan pemantauan digital berbasis Internet of Things (IoT). Penerapan teknologi ini membuat proses pengeringan lebih terkendali sekaligus meningkatkan kapasitas produksi dari 25 kilogram menjadi 80 kilogram untuk setiap 1.000 kilogram eceng gondok basah.
Hasil pengeringan menggunakan teknologi ini membuat eceng gondok menjadi kering secara lebih merata, bersih, tidak mudah berjamur, serta tetap mempertahankan warna alaminya. Kondisi tersebut menjadikan bahan baku memiliki kualitas lebih baik dan siap diolah menjadi berbagai produk kerajinan.
Eceng gondok yang telah dikeringkan selanjutnya diolah oleh kelompok perajin di Desa Walahar menjadi berbagai produk kerajinan. Kelompok ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat binaan CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Fuel Terminal (FT) Cikampek. Kegiatan produksi dan pemasaran tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan bagi kelompok perajin.
Pengolahan eceng gondok turut membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Selain membantu mengurangi pertumbuhan eceng gondok di perairan, kegiatan ini juga mengubah tanaman yang berpotensi menjadi gulma menjadi sumber bahan baku kerajinan bernilai ekonomi.
Inovasi Hybrid Eco Dry menjadi bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari, yaitu program yang mendorong kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan energi berkelanjutan untuk mendukung kegiatan produktif dan perekonomian desa. Di Desa Walahar, pemanfaatan LPG dan energi terbarukan melalui teknologi ini mendukung proses pengeringan eceng gondok sebagai salah satu kegiatan produktif masyarakat.
Atas kontribusinya dalam membangun Desa Energi Berdikari melalui pengembangan Hybrid Eco Dry dan pemberdayaan masyarakat di Desa Walahar, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan oleh Presiden Republik Indonesia.
Replikasi teknologi tersebut diterapkan oleh PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Cikampek melalui Program TJSL Prakarsa Bagja Juara di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, dengan mengembangkan teknologi Si Cepat Garing, yaitu pengering gabah berbasis kombinasi Bright Gas dan PLTS yang mampu mempercepat proses pengeringan hingga 6–8 jam untuk kapasitas 2 ton gabah, sekaligus meningkatkan efisiensi penanganan hasil panen, mengurangi ketergantungan terhadap cuaca, serta mendorong pemanfaatan energi yang lebih efektif dalam mendukung produktivitas dan ekonomi petani.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Plaza Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada Jumat (23/10/2026). Penganugerahan ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menyampaikan pentingnya menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Penghargaan ini menjadi dorongan untuk terus menghadirkan solusi yang tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan mendorong kemandirian. Kami berharap manfaatnya dapat terus dirasakan secara berkelanjutan,” ujar Eko.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan program pemberdayaan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Keberhasilan program pemberdayaan tidak hanya dilihat dari inovasi yang dihasilkan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Karena itu, pendampingan dan pengembangan program perlu terus dilakukan agar dampaknya semakin luas,” ujar Reno.
Pengembangan inovasi Hybrid Eco Dry di Desa Walahar sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam mendorong kemandirian energi dan ekonomi hijau, mengembangkan kewirausahaan dan industri kreatif, meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal, serta memperkuat ekonomi desa melalui pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. (*/sya)






























