SUKABUMITIMES.com – Minat anak-anak terhadap olahraga taekwondo di Kota Sukabumi terus menunjukkan perkembangan positif. Merdeka Taekwondo Club menjadi salah satu wadah pembinaan yang konsisten mencetak atlet potensial, bahkan berhasil mengantarkan atletnya berlaga hingga Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ketua Merdeka Taekwondo Club, Rina Riandari, mengungkapkan bahwa perkembangan taekwondo dapat dilihat dari meningkatnya jumlah peserta ujian kenaikan tingkat dari waktu ke waktu.
“Alhamdulillah, taekwondo berkembang dari tahun ke tahun. Kalau dilihat dari ujian kenaikan tingkatnya juga bertambah dari periode ke periode,” ujar Rina mantan atlet nasional asal Sukabumi ketika diwawancarai disela-sela latihan di GOR Kota Sukabumi pada Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, taekwondo kini bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi juga mulai menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.
“Taekwondo itu memang sudah menjadi, selain olahraga juga gaya hidup,” katanya.
Rina yang saat ini menjadi bagian dari wasit nasional menjelaskan, untuk mencetak atlet berprestasi dibutuhkan proses pembinaan yang konsisten. Salah satu kunci utamanya adalah kedisiplinan dalam menjalani latihan, baik di tempat latihan maupun di rumah.
“Cara meningkatkan kemampuan dan menciptakan atlet yang baik itu dengan latihan yang teratur. Di rumah pun harus latihan, karena tidak cukup kalau hanya latihan di tempat latihan,” jelasnya.
Ia menyebutkan, latihan di klub biasanya dilaksanakan tiga kali dalam sepekan. Namun, menurutnya, intensitas tersebut perlu ditunjang dengan latihan mandiri agar kemampuan atlet semakin berkembang.
“Rata-rata seminggu tiga kali itu sudah maksimal. Jadi, ditambah dengan latihan di rumah, latihan yang rajin,” tuturnya.
Selain kedisiplinan atlet, dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam proses pembinaan. Rina mengakui, olahraga taekwondo membutuhkan biaya sehingga keterlibatan orang tua sangat diperlukan untuk menunjang perkembangan anak.
“Didukung dari orang tuanya juga. Karena memang olahraga taekwondo itu cukup ada biayanya. Tanpa dukungan orang tua pun sangat sulit anak itu bisa berkembang,” ungkapnya.
Berbicara mengenai perjalanan klub, Rina menyebut Merdeka Taekwondo Club telah mengikuti berbagai kejuaraan, mulai dari tingkat daerah hingga nasional. Bahkan, klub tersebut pernah mengantarkan atletnya berlaga di ajang PON.
“Alhamdulillah, atlet dari Merdeka sudah sampai ke PON. Kejurnas sudah, Porprov sudah, dan yang tertinggi itu PON,” katanya.
Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan yang dilakukan klub memiliki peluang untuk melahirkan atlet yang mampu bersaing di tingkat lebih tinggi.
Rina menegaskan, Merdeka Taekwondo Club terbuka bagi masyarakat umum yang ingin belajar taekwondo, tanpa batasan usia maksimal.
“Kalau di Merdeka, kita terbuka untuk umum. Minimal usia empat tahun sudah bisa bergabung, dan maksimalnya tidak ada batasan,” jelasnya.
Meski demikian, sistem latihan tetap disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Anak-anak usia dini mendapatkan pendekatan latihan yang berbeda dibandingkan dengan peserta remaja maupun orang dewasa.
“Cara melatihnya juga berbeda antara anak kecil dan orang dewasa. Jadi, sistem latihannya disesuaikan,” tambahnya.
Rina juga mengungkapkan, perkembangan taekwondo di Kota Sukabumi menunjukkan tren yang menggembirakan. Saat ini, terdapat empat atlet yang akan mewakili Kota Sukabumi dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), terdiri dari dua atlet putra dan dua atlet putri.
“Alhamdulillah, sekarang atlet Kota Sukabumi juga sudah mulai banyak. Untuk Porprov sekarang ada empat orang yang mewakili Kota Sukabumi, dua putra dan dua putri,” ungkapnya.
Ia berharap para atlet tersebut mampu memberikan hasil maksimal dan kembali menyumbangkan medali bagi Kota Sukabumi, sebagaimana capaian pada ajang sebelumnya.
“Mudah-mudahan hasilnya maksimal sesuai harapan, bisa mengulang prestasi lagi, bahkan lebih tinggi lagi,” harapnya.
Rina mengingatkan, taekwondo sebelumnya telah memberikan kontribusi medali bagi Kota Sukabumi di Porprov. Selain itu, atlet taekwondo Kota Sukabumi juga pernah meraih medali emas dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda).
“Di Porprov sebelumnya taekwondo sudah memberikan medali buat Kota Sukabumi. Kemarin di Popda juga sudah ada emas dari Kota Sukabumi,” katanya.
Karena itu, ia berharap prestasi tersebut dapat kembali terulang pada Porprov mendatang.
“Mudah-mudahan di Porprov sekarang taekwondo juga ada yang mendapatkan medali. Harapannya seperti itu,” imbuhnya.
Menurut Rina, mengikuti berbagai kejuaraan merupakan bagian penting dari proses pembinaan. Atlet tidak cukup hanya berlatih secara rutin, tetapi juga harus memperoleh pengalaman bertanding untuk mengukur kemampuan dan memperbaiki kekurangan.
“Oh ya, harus ikut event, termasuk kejuaraan open. Karena kalau kita hanya latihan tanpa ada simulasi dan mengikuti event, itu tidak bisa,” tegasnya.
Ia mengatakan, kejuaraan juga menjadi kesempatan bagi atlet dan pelatih untuk memahami perkembangan peraturan pertandingan taekwondo.
“Setiap kejuaraan itu juga salah satu latihan kita untuk memperbaiki kemampuan. Apalagi aturan sekarang berubah, ada aturan-aturan baru yang harus kita ikuti,” jelasnya.
Sebagai mantan atlet nasional sekaligus wasit nasional, Rina mengaku perkembangan regulasi tersebut harus terus dipelajari agar proses latihan dan pemahaman pertandingan tetap sesuai ketentuan terbaru.
“Yang terbaru kemarin kita juga baru mengikuti diklat wasit. Ada aturan baru lagi, termasuk penambahan beberapa ketentuan dan poin. Jadi, cara mengambil poin harus benar-benar dipahami,” paparnya.
Terkait keikutsertaan atlet dalam kejuaraan, Rina menjelaskan bahwa mekanismenya berbeda-beda. Untuk kejuaraan terbuka, klub biasanya dapat mengirimkan atlet sesuai kesiapan dan kemampuan masing-masing. Sementara itu, untuk ajang resmi seperti Popda dan Kejurnas, atlet umumnya harus melewati proses seleksi.
“Kalau event open, biasanya dari klub masing-masing yang mengirimkan atlet. Tetapi untuk Popda atau Kejurnas, biasanya melalui seleksi dari tiap klub, kemudian diambil yang terbaik atau best of the best,” terangnya.
Rina menambahkan, perkembangan peserta juga tidak selalu diukur dari pencapaian prestasi pertandingan atau kenaikan sabuk. Setiap peserta memiliki tujuan dan kemampuan yang berbeda dalam mengikuti taekwondo.
Menurutnya, kenaikan tingkat biasanya dilaksanakan sekitar tiga hingga empat bulan sekali, atau rata-rata tiga kali dalam setahun. Namun, kenaikan sabuk tetap mempertimbangkan kemampuan masing-masing peserta.
“Setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang sabuknya sudah merah, tetapi kemampuannya belum tentu bertambah sesuai tingkatannya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa mengikuti taekwondo tidak selalu berarti seseorang harus menjadi atlet kompetitif.
“Ada yang ikut taekwondo memang ingin menjadi atlet, ada juga yang hanya ingin olahraga, cari keringat. Jadi, pelatih juga tidak bisa memaksakan, ‘Kamu harus jadi atlet.’ Tidak bisa, karena passion-nya berbeda-beda,” ungkapnya.
Meski begitu, Rina menyebut banyak peserta yang bergabung dengan tujuan meraih prestasi. Pengalaman mengikuti kejuaraan dan sertifikat pencapaian juga dapat menjadi nilai tambah bagi atlet pelajar, termasuk dalam mendukung kesempatan melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Banyak yang ikut taekwondo untuk prestasi. Apalagi kalau mengikuti kejuaraan, ada sertifikat yang bisa menjadi nilai tambah untuk keperluan pendidikan melalui jalur prestasi,” pungkasnya. (sya)
































