SUKABUMITIMES.com – Laga puncak Piala Dunia 2026 dipastikan menyita perhatian publik dunia. Dua raksasa sepak bola, Timnas Spanyol dan Timnas Argentina, akan saling berhadapan pada partai final yang berlangsung Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.
Pertandingan ini diprediksi menjadi duel sarat gengsi yang mempertemukan filosofi permainan kolektif Spanyol melawan kepemimpinan Lionel Messi bersama generasi emas Argentina.
Euforia final Piala Dunia juga dirasakan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sukabumi. Menariknya, dua Presidium MD KAHMI Sukabumi memiliki pandangan berbeda terkait siapa yang akan keluar sebagai juara dunia 2026.
Koordinator Presidium MD KAHMI Sukabumi, Ferry Gustaman, meyakini Spanyol akan mengulang sejarah indah seperti saat menjuarai Piala Dunia 2010.
Menurut Ferry, status Spanyol sebagai juara Eropa 2024 menjadi pertanda kuat bahwa sejarah akan kembali terulang.
“Spanyol tahun 2010 menjadi juara dunia dengan status juara Eropa 2008. Sekarang mereka kembali ke final Piala Dunia 2026 dengan status juara Eropa 2024. Sejarah kadang memang berulang, dan saya melihat itu akan terjadi lagi,” ujar Ferry.
Ia menilai kekuatan terbesar La Roja bukan terletak pada satu pemain, melainkan kualitas skuad yang merata di seluruh lini.
“Kekuatan Spanyol ada pada kualitas pemain yang merata di setiap lini. Mereka tidak bergantung kepada satu pemain saja. Berbeda dengan Argentina yang masih sangat mengandalkan Lionel Messi sebagai pusat permainan,” katanya.
Ferry mencontohkan keberhasilan Spanyol meredam Kylian Mbappe saat semifinal sebagai bukti kualitas kolektif mereka.
“Saat menghadapi Prancis, Mbappe benar-benar dibuat mati langkah. Saya kira strategi yang sama akan diterapkan untuk mematikan pergerakan Messi. Kalau Messi berhasil dikunci, permainan Argentina akan jauh berkurang,” ungkapnya.
Ia juga menilai permainan tiki-taka khas Spanyol kini kembali hidup dan menjadi identitas yang sulit dihentikan lawan.
“Saya melihat permainan Spanyol sekarang seperti tahun 2010. Tiki-taka mereka hidup lagi. Itu adalah ruh sepak bola Spanyol yang membuat lawan kesulitan merebut bola,” jelas Ferry.
Meski mengakui kedua tim sama-sama memiliki mental juara karena pernah menjadi kampiun dunia, Ferry mengingatkan bahwa belum ada negara yang mampu mempertahankan gelar juara dunia secara beruntun pada era modern.
“Kedua tim punya mental juara, tetapi di era modern setelah tahun 1970 belum ada negara yang berhasil juara berturut-turut. Saya yakin Spanyol akan mematahkan dominasi itu,” ujarnya.
Ferry juga menilai perjalanan Spanyol menuju final lebih berat dibanding Argentina sehingga kualitas mereka telah benar-benar teruji.
“Kalau saya lihat, lawan-lawan Spanyol jauh lebih berat dibanding Argentina. Dari situ sudah terlihat kualitas mereka. Prediksi saya Spanyol menang 2-1,” tegasnya.
Sementara itu, Presidium MD KAHMI Sukabumi, Jaka Susila, justru memiliki keyakinan berbeda. Ia optimistis Argentina mampu mempertahankan mahkota juara dunia berkat kombinasi pengalaman Lionel Messi dan agresivitas para pemain mudanya.
“Kemampuan bermain Timnas Argentina merata. Lionel Messi sebagai kapten mampu mengorkestra seluruh pemain sehingga permainan mereka tetap seimbang,” kata Jaka.
Menurutnya, pengalaman dan mental juara menjadi modal terbesar Albiceleste menghadapi tekanan di partai final.
“Jam terbang dan mental juara membuat Argentina mampu bermain lebih tenang, tetapi tetap mematikan. Mereka tidak mudah panik dalam pertandingan besar,” ujarnya.
Jaka menilai Messi bukan hanya berperan sebagai pencetak gol, tetapi juga otak permainan Argentina.
“Sebagai pemain senior, Messi sangat mudah membaca pola permainan modern Spanyol. Dia seperti pelatih di lapangan, mampu memotivasi pemain muda sekaligus mendesain jalannya pertandingan,” jelasnya.
Ia bahkan yakin Argentina mampu mematahkan berbagai anggapan dan mitos yang berkembang menjelang final.
“Argentina akan mampu mematahkan berbagai mitos yang berkembang. Kita saksikan saja bagaimana mereka membuktikannya di final,” katanya.
Selain Messi, Jaka menyoroti peran Julián Álvarez yang dinilai akan menjadi pembeda.
“Julián Álvarez adalah striker muda yang sudah membuktikan kualitasnya di level tertinggi. Dia sangat dinamis, rajin menekan pertahanan lawan dan memiliki penyelesaian akhir yang sangat klinis. Karena itu Messi tidak bermain sendirian,” ungkapnya.
Jaka juga meyakini kemampuan individu Messi masih menjadi senjata mematikan bagi Argentina.
“Tendangan pisang Messi masih belum ada tandingannya. Kemampuan out of the box yang dimilikinya mampu mengubah jalannya pertandingan kapan saja,” pungkasnya.
Analisis Pertandingan
Final Piala Dunia 2026 diprediksi berlangsung sangat seimbang. Spanyol datang dengan permainan kolektif, penguasaan bola tinggi, serta regenerasi pemain yang berhasil menghidupkan kembali filosofi tiki-taka. Sementara Argentina mengandalkan keseimbangan antara pengalaman Lionel Messi, ketajaman Julián Álvarez, serta mental juara sebagai juara bertahan.
Pertarungan lini tengah diperkirakan menjadi penentu hasil akhir. Bila Spanyol mampu menguasai penguasaan bola dan memutus suplai bola kepada Messi, peluang mereka meraih gelar dunia kedua akan semakin besar. Sebaliknya, jika Argentina berhasil memanfaatkan transisi cepat dan kreativitas Messi dalam membuka ruang, Albiceleste berpeluang mempertahankan trofi Piala Dunia.
Dengan kualitas yang dimiliki kedua tim, laga ini diprediksi berlangsung ketat hingga menit-menit akhir dan berpotensi menjadi salah satu final terbaik dalam sejarah Piala Dunia. (sya)


























