SUKABUMITIMES.com – Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) sekaligus Wakil Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia pada 2024 berhasil turun menjadi 19,8 persen dari sebelumnya yang masih berada di kisaran 21 persen.
Isyana menyampaikan, penurunan tersebut menjadi perkembangan penting dalam upaya pemerintah menekan angka stunting secara nasional. Meski demikian, menurutnya, upaya pencegahan dan penanganan stunting masih membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar hasil yang dicapai dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Hal tersebut disampaikan ketika Wamendukbangga melakukan kunjungan kerja ke Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi pada Jumat (9/101/2026).
“Kalau angka stunting di Indonesia terakhir, itu pengukuran tahun lalu untuk tahun 2024. Itu sudah di 19,8 persen. Ini turun dari angka 21-an sebelumnya, tahun sebelumnya,” ujar Isyana.
Ia menjelaskan, penurunan angka stunting tidak dapat hanya mengandalkan program pemerintah. Diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, sektor swasta, hingga masyarakat untuk memperluas jangkauan program pencegahan stunting.
“Yang paling penting adalah sesuai dengan arahan Bapak Presiden, kita melakukan berbagai kolaborasi, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga-lembaga terkait, maupun masyarakat,” jelasnya.
Menurut Isyana, kolaborasi tersebut menjadi salah satu kunci penting dalam mencapai target penurunan stunting yang telah ditetapkan pemerintah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Ia optimistis, berbagai program yang dijalankan secara berkelanjutan dan melibatkan banyak pihak dapat membantu menekan prevalensi stunting di Indonesia.
“Dengan adanya program-program ini, kami optimistis bahwa angka stunting akan terus makin bisa ditekan,” katanya.
Dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting, Isyana juga mengajak perusahaan dan kalangan swasta untuk berpartisipasi aktif melalui program yang memberikan manfaat langsung kepada keluarga sasaran.
Salah satu upaya yang didorong adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), yang membuka ruang bagi berbagai pihak untuk berkontribusi dalam mendukung keluarga berisiko stunting.
“Masyarakat pun juga bisa ikut program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Yang paling penting juga adalah edukasi, seperti hari ini kita menggandeng perusahaan-perusahaan seperti Astra,” ungkapnya.
Ia menilai, keterlibatan perusahaan dapat memperkuat upaya pemerintah dalam memberikan pendampingan dan dukungan kepada keluarga yang membutuhkan, termasuk melalui edukasi serta pemenuhan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan pencegahan stunting.
Karena itu, Isyana berharap semakin banyak perusahaan, lembaga, dan elemen masyarakat yang bersedia mengambil bagian dalam program tersebut.
“Diharapkan makin banyak perusahaan-perusahaan dan berbagai pihak yang akan terlibat dalam upaya pencegahan stunting,” tambahnya.
Menurutnya, semakin luas dukungan yang diberikan, semakin besar pula peluang agar berbagai program pencegahan stunting dapat menjangkau keluarga sasaran secara lebih optimal.
Lebih lanjut, Isyana menjelaskan bahwa pemerintah telah menetapkan target penurunan stunting secara bertahap setiap tahun melalui RPJMN.
Ia menyebutkan, prevalensi stunting sebesar 19,8 persen pada 2024 telah mencapai target yang ditetapkan pemerintah untuk periode tersebut.
“Targetnya sebenarnya setiap tahun sudah ada target-targetnya di RPJMN. Yang 19,8 persen pada tahun 2024 itu sudah melewati target, sudah mencapai target,” katanya.
Isyana berharap capaian tersebut dapat menjadi dorongan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat pelaksanaan program pencegahan stunting pada tahun-tahun berikutnya.
Ia juga menyatakan optimistis bahwa target penurunan stunting selanjutnya dapat dicapai apabila seluruh program berjalan secara konsisten dan didukung kerja sama lintas sektor.
“Nanti masing-masing target juga kita yakin optimistis bisa tercapai,” ujarnya.
Selain menyoroti prevalensi stunting, Isyana turut menyinggung persoalan sanitasi yang masih menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan keluarga.
Saat ditanya mengenai jumlah masyarakat yang masih menggunakan jamban sederhana atau melakukan aktivitas mandi dan buang air besar di tempat yang belum memenuhi standar sanitasi, ia mengaku belum memegang data terperinci mengenai jumlah masyarakat yang mengalami kondisi tersebut.
“Kalau detail jumlahnya saya tidak pegang data. Jadi daripada saya berbicara data tanpa data, tetapi kita lihat pada faktanya masih ada,” ungkapnya.
Meski tidak menyampaikan angka pasti, Isyana menegaskan bahwa kondisi tersebut menunjukkan masih perlunya perhatian dan dukungan berbagai pihak untuk membantu keluarga mendapatkan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.
Menurutnya, pemerintah perlu terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra agar keluarga yang membutuhkan dapat memperoleh bantuan pembangunan fasilitas sanitasi sesuai kebutuhan.
“Pada saat kita melihat masih ada, kemudian kita coba mencari siapa saja pihak yang bisa membantu untuk membangunkan,” pungkasnya. (sya)
































