Oleh: Kang Warsa (Penulis Asal Sukabumi)
Saya membaca Kafka sekitar 25 tahun lalu. Indonesia saat itu mulai memasuki era reformasi, pabrik-pabrik mulai berdiri, saya merasa kondisi Indonesia saat itu sudah mulai mirip dengan revolusi industri di Inggris. Dalam beberapa waktu ke depan, prediksi-prediksi dan apa yang disampaikan oleh para saintis Eropa tentang alienasi diri, materialisme, dan hipokrisi akan mewarna sebagian besar babak kehidupan di negara ini.
Saya masih ingat betapa asingnya nama Franz Kafka di telinga ketika pertama kali meminjam buku tipis berjudul Metamorfosis di Perpustakaan Umum Daerah. Saya pikir itu hanya cerita aneh tentang manusia yang berubah jadi serangga, sesuatu yang mungkin cocok untuk anak-anak atau penggemar fiksi ilmiah. Betapa saya keliru.
Kalimat pembukanya langsung menghantam, “Suatu pagi, ketika Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruk, ia mendapati dirinya berubah di tempat tidurnya menjadi seekor serangga mengerikan.” Tidak ada penjelasan, tidak ada prolog, tidak ada alasan. Kafka melemparkan pembacanya ke dalam pusaran absurditas tanpa tali pengaman.
Saya menghabiskan malam itu untuk menamatkan novel pendek ini, tetapi butuh waktu berminggu-minggu untuk benar-benar pulih dari efeknya. Setiap kali saya melihat orang-orang di sekitar saya, buruh pabrik yang kelelahan, pegawai kantoran yang tertekan, tetangga yang kehilangan pekerjaan. saya membayangkan mereka sebagai Gregor Samsa yang sedang menunggu transformasi.
Di awal reformasi, Indonesia mengalami perubahan besar. Pabrik-pabrik berdiri di mana-mana, orang-orang berbondong-bondong melamar pekerjaan, dan nilai-nilai lama mulai tergeser oleh logika pasar. Saya menyaksikan sendiri bagaimana uang mulai berbicara lebih keras daripada adat dan kekeluargaan.
Dan di situlah Kafka menjadi sangat relevan. Ia menulis tentang Eropa awal abad-20 yang sedang bergulat dengan industrialisasi, tetapi apa yang ia tulis ternyata menjadi nubuat bagi negara berkembang seperti Indonesia. Kita sedang memasuki era di mana manusia mulai dihitung berdasarkan produktivitasnya, bukan kemanusiaannya.
Gregor Samsa adalah pekerja teladan, ia bangun pagi, mengejar kereta, duduk di kantor, dan menghidupi seluruh keluarganya. Ia adalah mimpi buruk dari setiap pekerja modern yang merasa bahwa dirinya hanyalah roda kecil dalam mesin raksasa yang tak pernah berhenti berputar.
Namun, begitu Gregor berubah menjadi serangga sebagai simbol dari kehilangan produktivitas, identitasnya sebagai manusia langsung lenyap. Ia bukan lagi anak, bukan lagi kakak, bukan lagi pencari nafkah. Ia hanyalah “beban.” Dan dalam masyarakat materialistis, beban harus disingkirkan.
Kita mungkin saja melihat pola yang sama di sekitar kita. Seorang kepala keluarga yang di-PHK perlahan-lahan kehilangan otoritasnya di rumah. Seorang ibu yang sakit-sakitan mulai dianggap merepotkan oleh anak-anaknya yang sibuk. Seorang anak yang gagal ujian masuk perguruan tinggi idaman diasingkan dari kebanggaan keluarga. Mereka semua adalah Gregor dalam bentuk yang berbeda.
Apa yang membuat novel Metamorfosis begitu mengerikan adalah bahwa keluarga Samsa bukanlah penjahat. Mereka hanya manusia biasa yang lelah, dan kelelahan itu adalah penyakit masyarakat modern. Kita semua lelah; lelah bekerja, lelah membayar cicilan, lelah mengejar target. Dan dalam kelelahan itu, kita kehilangan kapasitas untuk berempati.
Saya sering merenungkan adegan di mana Grete, sang adik, perlahan-lahan berhenti merawat Gregor. Awalnya ia masih membawakan makanan dengan hati-hati. Kemudian ia hanya mendorong makanan dengan kakinya. Akhirnya, ia berteriak bahwa “makhluk” itu harus pergi. Proses ini bertahap, halus, dan karena itu lebih realistis, bahkan lebih kejam.
Kita memang sebaiknya bertanya, bukankah pernah menjadi seperti Grete? Bukankah kita perlahan-lahan mengabaikan orangtua kita yang mulai pikun? Bukankah kita menjauh dari teman yang sedang terpuruk? Bukankah kita menutup pintu bagi mereka yang dianggap “tidak berguna” lagi? Kafka memaksa kita untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman itu.
Durkheim telah memperingatkan tentang alienasi dan anomi dalam masyarakat kapitalis. Tetapi Kafka tidak menulis teori; ia menulis daging dan darah. Ia menunjukkan bagaimana materialisme meracuni hubungan yang paling intim yaitu hubungan antara ayah dan anak, antara kakak dan adik, antara suami dan istri.
Barangkali, pengaruh novel ini semakin kuat di era digital. Di media sosial, kita membangun citra sempurna tentang keluarga bahagia dan kehidupan makmur. Tetapi di balik layar, kita mungkin menyembunyikan anggota keluarga “memalukan” yang sakit, yang miskin, yang berbeda. Kita mengunci mereka di ruang belakang kehidupan virtual kita.
Kafka juga menunjukkan bagaimana materialisme mengubah bahasa kita. Keluarga Samsa tidak lagi menyebut Gregor dengan namanya; ia menjadi “makhluk” atau “benda.” Saya mendengar bahasa yang sama di dunia nyata ketika kita menyebut pengangguran sebagai “pemalas,” orang sakit jiwa sebagai “gila,” atau orang miskin sebagai “sampah masyarakat.” Kata-kata adalah senjata dehumanisasi.
Salah satu adegan paling kuat dalam novel ini adalah ketika Gregor mendengar biola dimainkan Grete. Untuk sesaat, ia tersentuh oleh keindahan yang tidak berwujud, yang tidak bisa diukur dengan uang. Namun, keindahan itu segera dihancurkan oleh kemarahan para penyewa kamar yang materialistis. Kafka mengajarkan bahwa dalam dunia yang pragmatis, seni dan jiwa selalu menjadi korban pertama.
Ruang kamar Gregor juga menarik perhatian saya. Awalnya rapi dan bersih, tetapi perlahan-lahan ruangan itu dipenuhi sampah, barang-barang usang, dan sisa makanan. Ini adalah metafora tentang bagaimana masyarakat materialistis mengisi ruang hidup kita dengan barang-barang, sementara ruang hati kita dibiarkan kotor dan terlantar.
Ketiga penyewa kamar yang muncul di akhir cerita adalah perwujudan dari “pasar” yang dingin dan transaksional. Mereka tidak peduli dengan Gregor; mereka hanya peduli dengan kenyamanan mereka sendiri. Begitu ada gangguan, mereka pergi. Dalam dunia bisnis modern, saya sering melihat hubungan yang persis seperti ini, kemitraan, persahabatan, bahkan pernikahan, sering diperlakukan seperti kontrak yang bisa dibatalkan kapan saja.
Kematian Gregor di akhir novel tidak membuat saya sedih. Yang membuat saya sedih adalah reaksi keluarganya yang merasa lega, bersyukur, dan langsung merencanakan masa depan tanpa dia. Saya menyadari bahwa dalam masyarakat modern yang materialistis, kematian “beban” sering dirayakan secara diam-diam. Ini adalah kebenaran yang pahit dan sulit untuk diterima.
Setelah 25 tahun, saya membaca ulang novel ini setiap kali saya merasa terlalu lelah untuk peduli. Dan setiap kali, Kafka menghantam saya dengan pertanyaan yang sama, “Apakah hari ini kamu masih bisa mencintai seseorang tanpa mengharapkan imbalan?” Jawabannya sering kali membuat saya malu, karena saya tahu betapa mudahnya jatuh ke dalam perangkap egoisme materialistis.
Di sisi lain, novel ini juga memengaruhi budaya populer; dari film-film indie hingga lagu-lagu alternatif, dari teater eksperimental hingga meme internet. Tema alienasi, tentang menjadi “asing” di tengah keluarga sendiri, telah menjadi arketipe universal. Kafka tidak pernah membayangkan bahwa serangga kecilnya akan menjadi ikon global.
Salah satu pengaruh terbesar Metamorfosis bagi saya adalah ia mengajarkan kerendahan hati. Kita semua hanya terpisah oleh satu kecelakaan, satu penyakit, atau satu krisis ekonomi dari menjadi Gregor. Tidak ada yang kebal dari transformasi, dari jatuhnya status sosial, dari kehilangan identitas, dari pengabaian oleh orang-orang terdekat.
Di Indonesia hari ini, saya melihat materialisme merajalela dalam berbagai bentuk. Anak-anak muda berlomba-lomba membeli barang-barang mewah yang tidak mereka butuhkan, orangtua sibuk mengejar promosi jabatan hingga lupa waktu untuk keluarga, dan nilai-nilai kebersamaan perlahan tergerus oleh logika konsumsi. Kafka menulis tentang semua ini dengan cara yang membuat saya bergidik.
Gaya penulisan Kafka yang datar dan tanpa emosi justru memperkuat pesan novel ini. Ia menulis seperti seorang dokter yang melaporkan gejala penyakit, atau seorang jurnalis yang melaporkan kejahatan. Tidak ada ratapan, tidak ada dramatisasi. Hanya fakta. Dan seperti kehidupan modern, fakta sering lebih kejam daripada fiksi.
Saya pernah mendengar bahwa Kafka tertawa terbahak-bahak ketika membacakan naskah ini untuk teman-temannya. Ia menganggapnya sebagai komedi gelap. Tetapi tawa itu, bagi saya, adalah tawa getir seorang pria yang tahu bahwa dunia kita begitu absurd sehingga satu-satunya respons yang masuk akal adalah tertawa agar tidak menangis.
Dua puluh lima tahun telah berlalu, dan Metamorfosis tidak pernah kehilangan kekuatannya. Jika ada, novel ini menjadi semakin relevan di tengah gemerlap pusat perbelanjaan, derasnya arus informasi, dan hiruk-pikuk kehidupan kota yang sibuk dan materialistis. Kafka tidak menulis untuk zamannya; ia menulis untuk semua zaman.
Saya mengakhiri artikel ini dengan sebuah permohonan, bagi siapa pun yang sudah membaca kisah Gregor Samsa, semoga, kita tidak hanya merasa iba atau ngeri, tetapi juga melakukan pemeriksaan diri yang jujur. Sudahkah kita membiarkan materialisme mengeraskan hati ini? Sudahkah kita mengunci seseorang di ruang belakang kehidupan kita? Dan jika jawabannya “ya,” maka semoga Kafka memberi kita keberanian untuk membuka pintu itu kembali. (*)































