SUKABUMITIMES.com — Gua Jepang dan Gua Belanda yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, Bandung, ternyata bukan lagi menjadi tujuan utama sebagian besar wisatawan.
Alih-alih menjadikan dua situs bersejarah tersebut sebagai destinasi utama, pengunjung Tahura Ir. H. Djuanda kini lebih banyak memilih aktivitas seperti tracking dan menikmati kuliner di tengah kawasan hutan.
Hal itu disampaikan Bagian Umum sekaligus Koordinator Keamanan Tahura Ir. H. Djuanda, Iwa Kartiwa, saat ditemui pada Minggu (6/9/2026).
Menurut Iwa, sebagian besar wisatawan yang datang ke kawasan gua hanya sekadar melintas. Aktivitas wisatawan justru lebih banyak terkonsentrasi pada jalur tracking dan sejumlah titik kuliner.
“Kalau ke Gua Jepang dan Gua Belanda, kebanyakan pengunjung hanya melewati saja. Sekarang pengunjung lebih banyak yang senang tracking dan kuliner,” ujar Iwa.
Kondisi tersebut membuat pengelola berupaya menghadirkan kegiatan alternatif yang dapat menarik wisatawan tanpa menghilangkan fungsi utama kawasan sebagai hutan konservasi.
Salah satunya melalui kegiatan Pasar Leuweung yang digelar di sekitar kawasan Gua Belanda.
Menurut Iwa, keberadaan kegiatan semacam itu menjadi salah satu cara menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam. Pengunjung dapat menikmati berbagai kuliner sekaligus merasakan suasana alam terbuka dengan udara yang sejuk.
Iwa juga membantah anggapan bahwa kawasan Tahura Ir. H. Djuanda selalu dipadati wisatawan.
Jika dibandingkan dengan luas kawasan yang mencapai sekitar 528 hektar, jumlah pengunjung saat ini dinilai masih dalam kondisi normal.
“Tidak bisa dikatakan membludak kalau diukur dengan luasnya Tahura. Ini masih standar dan biasa saja karena hanya beberapa titik yang dipenuhi pengunjung,” kata Iwa.
Menurut dia, kesan padat justru lebih terlihat karena kapasitas lahan parkir yang belum sepenuhnya memadai.
Kendaraan yang menumpuk di area parkir membuat kepadatan pengunjung seolah lebih tinggi dibandingkan kondisi sebenarnya di dalam kawasan Tahura.
Secara keseluruhan, Tahura Ir. H. Djuanda memiliki luas sekitar 528 hektar yang terbagi dalam tiga blok, yakni Blok Dago Pakar, Blok Maribaya, dan Blok Curug Dago.
Kawasan tersebut juga mencakup tiga wilayah administratif, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.
Terkait harga tiket masuk, Iwa mengatakan tarif yang berlaku saat ini bukan kebijakan baru. Menurut dia, tarif tersebut sudah diberlakukan sejak lama, bahkan sebelum dirinya bekerja di Tahura namun nilai nya berubah.
Saat ini tiket masuk sekitar Rp 17.000, Iwa menilai Tahura masih menjadi salah satu pilihan wisata alam yang relatif terjangkau di Bandung.
“Menurut saya, dengan tiket Rp 17.000 relatif murah. Pengunjung bisa berolahraga, menikmati kuliner sambil menghirup udara segar,” ujarnya.
Iwa mengatakan, pengelola saat ini belum berfokus pada pembangunan besar-besaran untuk sarana wisata. Prioritas utama justru diarahkan pada pemenuhan sarana dan prasarana yang tidak mengganggu fungsi hutan.
“Untuk saat ini kita lebih fokus ke sarana prasarana yang memang tidak mengganggu fungsi utama hutan sebagai kawasan konservasi. Ini yang paling utama karena semuanya harus kita jaga dengan baik,” kata Iwa.
Menurut dia, pengembangan Tahura harus tetap menempatkan aspek konservasi di atas kepentingan wisata.
Artinya, semakin banyak wisatawan yang datang tidak boleh menjadi alasan untuk mengubah kawasan hutan menjadi sekadar ruang komersial.
Iwa juga menyinggung penerapan aturan terkait asap rokok di kawasan Tahura. Pengunjung tetap diperbolehkan merokok, tetapi hanya pada ruang yang telah disediakan oleh pengelola.
Di tengah meningkatnya aktivitas wisata, Iwa mengingatkan pengunjung agar tidak hanya menikmati keindahan kawasan hutan, tetapi juga ikut menjaga kelestariannya.
“Khususnya bagi para pengunjung, silakan kunjungi Tahura dan nikmati. Tapi mohon kita sama-sama menjaga hutannya. Jangan sampai merusak dan mari bersama-sama melestarikan lingkungan, terutama keutuhan hutan yang ada di wilayah Bandung Utara,” ujar Iwa. (rus)

































