SUKABUMITIMES.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) mulai berdampak terhadap kualitas udara di Kota Sukabumi. Abu vulkanik yang terbawa angin telah mencapai wilayah kota sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan, pemerintah daerah mengambil langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat, khususnya pelajar.
“Kota Sukabumi termasuk salah satu kota yang terdampak pencemaran udara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Bobby dalam keterangan resminya pada Minggu (6/9/2026).
Sebagai langkah pencegahan, Pemkot Sukabumi menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, SD, dan SMP pada Senin (7/9/2026).
“Pembelajaran dilakukan secara daring sambil melihat perkembangan kondisi udara di Kota Sukabumi,” kata Bobby.
Kebijakan tersebut dituangkan melalui surat Nomor 400.3.3.7/2927/DISDIKBUD/2026. Sementara itu, tenaga pendidik dan kependidikan tetap menjalankan tugas seperti biasa.
“Mereka tetap melaksanakan tugas, tetapi diminta menggunakan masker dan memperhatikan protokol kesehatan,” ujarnya.
Untuk jenjang SMA yang berada di bawah kewenangan Pemprov Jawa Barat, Pemkot Sukabumi telah berkoordinasi dengan KCD Wilayah V.
“Kami sudah berkoordinasi dengan KCD Wilayah V terkait penyesuaian kebijakan dengan kondisi daerah,” tutur Bobby.
Ia menyebut sejumlah SMA juga akan menerapkan pembelajaran daring pada 7 September. Keputusan teknisnya akan disampaikan masing-masing kepala sekolah.
Selain pendidikan, penyesuaian juga dilakukan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kepala satuan pendidikan dipersilakan berkoordinasi dengan kepala SPPG masing-masing untuk menentukan pelaksanaan MBG sesuai kondisi di lapangan,” jelas Bobby.
Pemkot Sukabumi juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama udara masih terdampak abu vulkanik.
“Gunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah, untuk mengurangi risiko paparan partikulat,” kata Bobby.
Pemerintah Kota Sukabumi, lanjut dia, akan terus memantau kondisi udara dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.
“Kita terus memantau perkembangan kondisi udara dan akan menyesuaikan kebijakan berdasarkan situasi di lapangan,” pungkasnya. (sya)
































