SUKABUMITIMES.com – Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menyimpan potensi alam yang nyaris lengkap. Dari hamparan pesisir hingga perbukitan, bentang alam desa ini bukan sekadar menjadi panorama, tetapi juga menyimpan peluang besar untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Karakter geografis yang beragam membuat Desa Cikakak memiliki modal kuat untuk mengembangkan berbagai sektor sekaligus. Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan hingga pariwisata berbasis alam dapat dikembangkan secara terpadu dan berkelanjutan.
Kepala Desa Cikakak, Dede Mulyadi, menyebut keberagaman bentang alam tersebut merupakan kekuatan yang harus dikelola secara tepat.
“Desa Cikakak memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari wilayah pesisir hingga perbukitan. Ini merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan secara terpadu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Dede.
Secara topografi, lanjut Dede, wilayah Desa Cikakak merupakan perpaduan antara dataran rendah pesisir dengan lereng dan punggung bukit. Sejumlah titik wilayah berada pada ketinggian sekitar 39 meter di atas permukaan laut (mdpl). Menurutnya, kondisi tanahnya mayoritas merupakan tanah mineral. Namun, di sejumlah kawasan perbukitan, karakter tanah berbatu juga ditemukan.
Di balik potensi tersebut, Dede menerangkan, terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan. Kawasan perbukitan di Sukabumi Selatan memiliki kerentanan terhadap pergerakan tanah. Karena itu, pengembangan wilayah tidak cukup hanya mengejar produktivitas dan nilai ekonomi, tetapi juga harus dibarengi dengan konservasi lingkungan.
“Salah satu potensi yang mulai mencuri perhatian adalah sektor perkebunan, khususnya durian,” ucapnya.
Lebih lanjut Dede kembali memaparkan, kontur perbukitan Desa Cikakak dinilai cocok untuk pengembangan berbagai varietas durian unggulan. Mulai dari Durian Montong, Musang King, Matahari hingga Duri Hitam memiliki peluang dikembangkan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Hal tersebut, jika dikelola secara serius, perkebunan durian tidak hanya menghasilkan buah untuk pasar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kawasan agro – wisata.
“Wisatawan nantinya tidak sekadar membeli durian, tetapi dapat datang langsung ke kebun, menikmati suasana pedesaan, melihat proses budidaya hingga mencicipi buah langsung dari sentra perkebunan,” tuturnya.
Selain durian, kata Dede, Desa Cikakak juga memiliki peluang pengembangan berbagai tanaman hortikultura bernilai ekonomi, seperti kelapa kopyor, manggis dan pepaya. Sejumlah tanaman buah lainnya, seperti alpukat, petai, nangka dan sawo, juga dinilai sesuai dengan karakter tanah serta iklim tropis basah di wilayah tersebut. Sementara untuk tanaman pangan dan palawija, jagung menjadi salah satu komoditas yang berkembang dan bahkan mulai diarahkan untuk mendukung konsep agro-wisata.
“Kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar juga berpotensi dikembangkan di lahan tegalan maupun lahan kering,” ucapnya.
Masih kata Dede, petensi pertanian tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan lahan persawahan yang cukup luas. Di Kecamatan Cikakak, luasan area sawah disebut mencapai kurang lebih 2.966 hektare. Namun, Dede mengingatkan agar pengembangan pertanian di kawasan lereng tidak dilakukan sembarangan.
“Pengelolaan lahan di wilayah lereng harus dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi, seperti penerapan terasering dan sistem drainase yang baik, agar produktivitas pertanian tetap terjaga dan risiko longsor dapat diminimalkan,” katanya.
Ditegaskan Dede, konservasi lahan juga dapat dilakukan melalui pengembangan tanaman industri dan kehutanan. Bambu dan mahoni dinilai memiliki prospek untuk dikembangkan di wilayah perbukitan Desa Cikakak. Selain mempunyai nilai ekonomi, kedua jenis tanaman tersebut juga dapat membantu memperkuat struktur tanah, mengurangi erosi dan menjaga kestabilan lereng.
“Artinya, potensi ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan,” tegasnya.
“Tidak hanya mengandalkan pertanian dan perkebunan, Desa Cikakak juga memiliki peluang di sektor perikanan. Budidaya ikan air tawar melalui kolam milik masyarakat dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia,” sambungnya.
Menurut Dede, sektor tersebut berpotensi menjadi salah satu penopang ketahanan pangan desa sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Pengembangan perikanan air tawar juga dapat diarahkan menjadi bagian dari ekonomi produktif masyarakat desa, sehingga tidak hanya berorientasi pada konsumsi rumah tangga, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah.
“Jika sektor pertanian menjadi kekuatan dari daratan, maka pariwisata menjadi wajah lain Desa Cikakak, kami memiliki sejumlah destinasi wisata alam pesisir dan air terjun yang masih relatif alami. Di antaranya Pantai Cempaka Ratu, Pantai Kamboja, Pantai Kumala, Pantai Kadaka, Pantai Batu Karut, Curug Indra dan Curug Kembar,” paparnya.
“Keragaman destinasi tersebut membuat Cikakak memiliki pilihan wisata yang cukup lengkap. Wisatawan dapat menikmati panorama pesisir, menjelajahi kawasan alam hingga mencari suasana tenang untuk melepas penat,” ucapnya. (stm)
































