SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Sukabumi tengah membangun sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama Sukabumi Smart AI (SUKA-SAI) yang akan menjadi pusat data terpadu seluruh informasi pemerintahan. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik, mempercepat pengambilan keputusan, sekaligus meminimalkan potensi pelanggaran hingga praktik korupsi di lingkungan pemerintah daerah.
Hal tersebut disampaikan Ayep Zaki setelah membuka pelatihan lanjutan Sukabumi Smart AI (SUKA-SAI) yang diikuti puluhan ASN sebagai calon agen AI di masing-masing perangkat daerah yang bertempat di Aula BKPSDM Kota Sukabumi pada Senin (13/7/2026).
Menurut Ayep Zaki, SUKA-SAI akan menghimpun seluruh data strategis Kota Sukabumi dalam satu platform, mulai dari data kependudukan, stunting, pengangguran, pendidikan, aset daerah, perpajakan, hingga perencanaan dan pengelolaan keuangan pemerintah.
“Programnya namanya SUKA-SAI, nanti ada platform khusus. Semua data tentang Kota Sukabumi akan ada di SUKA-SAI. Jumlah penduduk, jumlah pengangguran, jumlah stunting, lulusan SD, SMP, sampai S1, semuanya akan dimasukkan ke dalam sistem ini,” ungkap Ayep Zaki.
Ia menegaskan, digitalisasi tersebut bukan sekadar modernisasi administrasi, tetapi menjadi langkah besar dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
“Dengan sistem artificial intelligence ini akan meminimalisasi pelanggaran-pelanggaran dan korupsi. Itu target kita, sehingga uang rakyat benar-benar kembali untuk rakyat melalui satu sistem yang bernama SUKA-SAI,” tegasnya.
Ayep menjelaskan, saat ini telah memasuki tahap kedua pelatihan. Sebanyak 32 operator dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sedang mengikuti pelatihan implementasi sistem setelah sebelumnya menyelesaikan tahap pengenalan.
“Hari ini 32 orang sedang dilatih tahap kedua. Tahap pertama pengenalan sudah selesai, sekarang masuk tahap implementasi penggunaan sistem. Nantinya seluruh data dari perangkat daerah akan dimasukkan ke sistem,” katanya.
Menurutnya, seluruh informasi dari tingkat RT, RW, kelurahan hingga kecamatan akan terintegrasi sehingga pemerintah dapat memperoleh data secara cepat tanpa harus melakukan pencarian secara manual.
“Nanti kita tinggal panggil datanya, tidak perlu lagi bertanya ke mana-mana. Misalnya ingin mengetahui RW 01 di suatu kelurahan, ada berapa warga stunting, berapa ibu hamil, sistem akan langsung menjawab. Bahkan berbasis geospasial juga bisa,” jelas Ayep.
Ia mengatakan seluruh proses administrasi yang selama ini masih dilakukan secara manual akan diubah menjadi sistem digital terpadu.
“Semua yang asalnya manual di seluruh perangkat daerah akan menggunakan satu sistem, yaitu ,SUKA-SAI” ujarnya.
Meski demikian, Ayep memastikan tidak seluruh informasi akan dibuka kepada masyarakat. Pemerintah akan membagi akses menjadi dua kategori, yakni informasi publik dan data yang bersifat privat.
“Nanti akan kita bagi dua. Ada data yang bisa diakses masyarakat, ada juga yang bersifat detail dan privat sehingga tidak mungkin dibuka untuk umum, misalnya data pribadi seseorang. Tetapi untuk informasi mengenai perencanaan kota, aset daerah, pendapatan maupun pengeluaran pemerintah akan kita bahas mana yang bisa diakses publik,” paparnya.
Ayep juga menepis anggapan bahwa pengelolaan sistem dilakukan pihak luar. Ia menegaskan Monash University hanya memberikan pendampingan dan pelatihan teknologi.
“Pihak ketiga hanya melatih ilmunya saja. Yang mengelola tetap Pemerintah Kota Sukabumi. Servernya juga ada di Kota Sukabumi, milik kita sendiri,” tegasnya.
Ia menyebut pembangunan SUKA-SAI merupakan agenda besar transformasi digital yang tidak dilakukan setengah-setengah.
“Kita punya sistem sendiri, namanya Sukasai, Sukabumi Smart AI. Kita mau memulai ini tidak bisa setengah-setengah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Sukabumi Taufik Hidayah menjelaskan bahwa Sukasai merupakan singkatan dari Sukabumi Smart Artificial Intelligence.
“SUKA-SAI itu kepanjangannya Sukabumi Smart AI, Smart Artificial Intelligence. Saat ini yang sedang dilakukan masih penyusunan modul pembelajaran agar para operator memahami seluruh fitur yang tersedia,” jelas Taufik.
Ia mengatakan pelatihan difokuskan agar operator mampu mengelola berbagai kategori data yang nantinya akan menjadi basis informasi pemerintah.
“Mereka diperkenalkan dulu dengan seluruh menu atau lokernya, mulai dari data pegawai, data stunting, data desil, data RW dan berbagai data lainnya. Setelah itu merekalah yang akan menjadi PIC untuk menginput seluruh data,” ujarnya.
Taufik menegaskan aspek keamanan menjadi perhatian utama dalam pembangunan sistem AI tersebut.
“Keamanan data harus benar-benar dijaga. Berbeda dengan AI umum yang hanya bisa menjawab berdasarkan data yang tersedia di internet, SUKA-SAI akan memiliki data internal pemerintah yang ditanam khusus untuk kepentingan Pemerintah Kota Sukabumi, sehingga aksesnya harus dijaga dengan sangat ketat,” katanya.
Menurutnya, jika nantinya ada tamu atau masyarakat yang membutuhkan informasi melalui SUKA-SAI, mekanisme akses akan tetap dikendalikan oleh petugas yang berwenang.
“Kalaupun ada tamu yang ingin memperoleh informasi, nanti akan dipandu oleh petugas khusus sesuai kewenangannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan SUKA-SAI masih berlangsung secara bertahap dan diperkirakan baru akan berjalan penuh setelah seluruh tahapan pelatihan selesai.
“Sekarang masih modul ajar. Ini baru batch kedua, nanti masih ada batch ketiga. Kalau seluruh proses berjalan sesuai rencana, feeling saya implementasi lengkapnya bisa selesai pada akhir tahun,” pungkas Taufik. (sya)




























