SUKABUMITIMES.com – Terbanyak di tingkat kecamatan, Cengkareng, Jakarta Barat tercatat sebagai wilayah dengan jumlah pemain judi online atau “judol” paling tinggi di Indonesia sepanjang 2025. Temuan ini diungkap Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam pemetaan terbarunya.
PPATK menyebut Jabodetabek menjadi klaster terbesar aktivitas judol secara nasional.
“Data PPPK tahun 2025 menunjukkan adanya konsentrasi aktivitas judi online di sejumlah wilayah, dengan Jabodetabek menjadi salah satu klaster terbesar secara nasional,” tulis unggahan di Instagram resmi @ppatk_indonesia, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Secara wilayah, empat daerah menempati posisi teratas.
“Kabupaten Bogor dengan 103.092 pemain dan jumlah deposit Rp 414,4 miliar, Jakarta Barat 89.320 pemain dan deposit Rp 600,6 miliar, Jakarta Timur 81.750 pemain dan deposit Rp 425,9 miliar, serta Kota Bandung 80.549 dan deposit Rp 341,7 miliar,” jelas PPATK.
PPATK merinci sebaran 10 wilayah teratas. “Dari 10 wilayah dengan pemain terbanyak 4 berasal dari DKI Jakarta, 4 berasal dari Jawa Barat, 2 berasal dari Banten,” tuturnya.
Lebih detail lagi, PPATK melakukan pemetaan hingga tingkat kecamatan. Hasilnya menunjukkan titik-titik panas dengan konsentrasi pemain yang jauh di atas rata-rata.
“Ini membuktikan bahwa judol bukan lagi fenomena yang jauh, melainkan sudah dekat dan hadir di lingkungan tempat tinggal, sekolah, kampus, tempat kerja, hingga komunitas sekitar,” tegas PPATK.
Berikut 5 kecamatan dengan jumlah pemain judol terbanyak:
- Cengkareng, Jakarta Barat: 21.497 pemain
- Cakung, Jakarta Timur: 14.664 pemain
- Tanjung Priok, Jakarta Utara: 13.769 pemain
- Kebayoran Lama, Jakarta Selatan: 9.948 pemain
- Bekasi Utara, Kota Bekasi: 7.793 pemain
Selain wilayah, PPATK juga menyoroti profil pelakunya. Kelompok usia produktif menjadi yang paling rentan.
“Kelompok usia 20-30 tahun menjadi kelompok dengan prevalensi tertinggi, disusul usia 31-40 tahun,” ungkap PPATK.
PPATK mengingatkan dampaknya sangat serius bagi perekonomian dan masa depan generasi muda.
“Artinya, kelompok usia produktif yang menjadi motor ekonomi justru menjadi kelompok yang paling rentan terpapar judi online. Yang dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi juga masa depan produktif,” imbuhnya. (*/sya)





























