SUKABUMITIMES.comn– Tim peneliti dari Malaysia mengungkap temuan spesies jamur baru yang memiliki perilaku biologis tidak biasa di kawasan hutan hujan Kalimantan. Berbeda dari kebanyakan jamur parasit, organisme ini justru hidup dengan memangsa jamur lain yang dikenal sebagai “jamur zombi”.
Penemuan tersebut dilakukan oleh ilmuwan dari Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Universitas Malaysia Sabah, saat melakukan eksplorasi di kawasan Lembah Danum, Sabah. Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah *Phytotaxa* pada April 2026.
Spesies anyar itu diberi nama ilmiah Pleurocordyceps cornusynnemata. Nama tersebut terinspirasi dari bentuk tubuh jamur yang menyerupai tanduk dan tumbuh mencolok dari tubuh inangnya.
Wakil Direktur Institut Biologi Tropis dan Konservasi, Jaya Seelan Sathiya Seelan, menjelaskan bahwa jamur tersebut memiliki mekanisme hidup yang sangat berbeda dibandingkan jamur parasit pada umumnya.
“Berbeda dengan jamur zombi yang memanipulasi perilaku serangga, Pleurocordyceps justru menyusup dan memakan jaringan jamur zombi yang sedang berkembang biak di dalam tubuh serangga tersebut,” ujar Seelan.
Ia menerangkan, sasaran utama jamur baru ini adalah koloni jamur dari genus Ophiocordyceps, yang selama ini dikenal sebagai “jamur zombi” karena mampu mengendalikan perilaku semut sebelum akhirnya membunuh inangnya untuk menyebarkan spora.
Menurut Seelan, keberadaan *Pleurocordyceps cornusynnemata* secara alami berpotensi menghambat siklus hidup jamur zombi tersebut karena menyerang langsung jaringan jamur yang sedang berkembang.
“Artinya, jamur ini dapat menghentikan penyebaran jamur zombi dengan cara menyerang organisme penyebabnya, bukan serangganya,” jelasnya.
Para peneliti juga mengungkap bahwa spesies tersebut merupakan hiperparasit, yakni organisme yang hidup sebagai parasit terhadap parasit lain. Walaupun fenomena hiperparasit bukan hal baru dalam dunia biologi, mereka menegaskan spesies ini merupakan yang pertama dari kelompoknya dengan struktur menyerupai tanduk yang sangat khas.
Selain menemukan *Pleurocordyceps cornusynnemata*, tim riset juga berhasil mengidentifikasi spesies jamur baru lainnya, yakni Leptobacillium geminatum.
Jamur tersebut memiliki cara berburu yang berbeda. Organisme ini diketahui menginfeksi laba-laba dengan menyebarkan spora ke seluruh tubuh mangsanya hingga akhirnya menyebabkan kematian.
Seelan menilai kedua spesies baru itu bukan hanya menarik dari sisi keanekaragaman hayati, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Jamur-jamur yang baru didokumentasikan ini bisa menjadi bahan dasar pengembangan obat antimikroba generasi mendatang, serta berfungsi sebagai agen pengendali hayati yang sangat efektif untuk membasmi hama tanaman pertanian,” ungkap Seelan.
Penemuan tersebut sekaligus memperkuat anggapan bahwa hutan hujan tropis di Kalimantan masih menyimpan banyak kekayaan hayati yang belum terungkap. Para ilmuwan berharap eksplorasi dan upaya konservasi terus dilakukan agar potensi sumber daya alam tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan, pertanian, dan penelitian di masa depan. (sya)




























