SUKABUMITIMES.com– Ternyata daftar pencarian orang (DPO) Taufik Hidayat bukan diringkus pihak kepolisian, melainkan menyerahkan diri setelah dibujuk mantan bosnya.
Inilah sosok yang berperan penting dalam proses penyerahan diri Taufik Hidayat, tersangka kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap (YTR) yang sempat menjadi buronan Polda Jawa Barat.
Mantan atasan Taufik, Dadang Ahyar Ismail, mengungkapkan bahwa dirinya menerima telepon mendadak dari Taufik beberapa hari sebelum tersangka diamankan polisi. Saat itu, Taufik mengaku panik karena kasus yang menjeratnya telah menjadi sorotan publik di seluruh Indonesia.
“Awalnya si Opik itu beberapa hari yang lalu nelpon ke saya, ‘Pak gimana, saya ini viral bahkan se-Indonesia’. Terus saya lihat, oh iya viral se-Indonesia. Terus saya bilang, ‘kamu maunya gimana’. Dia bilang, ‘Pak gimana ya, minta bantuan perlindungan’,” ungkap Dadang kepada awak media, Rabu.
Menurut Dadang, Taufik kemungkinan menghubunginya karena menganggap dirinya sebagai sosok yang dituakan sekaligus memiliki kedekatan dengan aparat kepolisian.
“Mungkin karena saya kan punya anak di kepolisian juga, mungkin dia mikir ke sana,” ujarnya.
Alih-alih memberikan perlindungan, Dadang justru menasihati Taufik agar menghentikan pelariannya. Ia menegaskan bahwa tidak ada gunanya terus bersembunyi karena cepat atau lambat keberadaannya akan diketahui.
“Ya udah gini aja, kamu kalau misalkan lari-lari, kalau mujur sampai kakek-kakek pasti lari, capek, itu yang pertama. Kedua, karena di medsos udah ramai, kamu bisa jadi ketangkap warga, mati di jalan. Atau yang ketiga, ketangkap sama polisi, kayak di TV ditembak. Itu kamu milih yang mana,” kata Dadang.
Nasihat tersebut rupanya menggugah hati Taufik. Setelah mempertimbangkan berbagai risiko, ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada pihak berwajib.
“Sampai kemarin dia bilang, ‘ya udah, saya ngikut bapak aja, menyerahkan diri’,” tutur Dadang.
Mendengar keputusan tersebut, Dadang segera berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menyusun strategi penangkapan. Langkah itu dilakukan mengingat Taufik kerap berganti nomor telepon sehingga sulit dilacak.
“Ya sudah kalau menyerahkan diri, saya telepon pihak berwenang Pak Hendi dari kepolisian. Saya koordinasi dengan Pak Hendi cuma masih bikin strategi gimana caranya dia benar-benar menyerahkan diri karena setiap telepon itu ganti nomor,” jelasnya.
Puncaknya terjadi pada Selasa (23/6/2026) malam. Saat itu Taufik kembali menghubungi Dadang dan menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan diri. Di waktu yang sama, petugas kepolisian telah bersiaga di sekitar kediaman Dadang.
“Kebetulan dia nelepon lagi bilang, ‘saya mau menyerahkan diri’. Saya bilang kamu harus kooperatif. Datang, sudah ada Pak Hendi. Terus sama Pak Hendi dibawa masuk ke sini ngobrol, baru lah dibawa sama anggota Polda,” katanya.
Sebelum menyerahkan diri, Taufik ternyata mengajukan satu permintaan khusus. Ia meminta Dadang untuk mendampinginya hingga ke Markas Polda Jawa Barat.
“Perjanjiannya dia bilang, ‘boleh saya menyerahkan diri tapi Pak Dadang ikut juga’. Akhirnya saya ikut dari belakang,” ungkap Dadang.
Dadang juga menjelaskan alasan mengapa dirinya menjadi orang yang dihubungi Taufik saat berstatus buronan. Keduanya pernah bekerja bersama selama beberapa tahun dan memiliki hubungan yang cukup dekat.
“Kenapa dia telepon ke saya? Karena tahun 2023, 2024 itu satu pekerjaan. Saya kan paling tua di pekerjaan, jadi yang dituakan. Anak-anak kalau ada apa-apa telepon ke saya, termasuk si Opik juga,” akunya.
Diketahui, Taufik Hidayat sempat masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR.
Setelah beberapa hari menjadi buronan, ia akhirnya berhasil diamankan penyidik Polda Jawa Barat usai menyerahkan diri melalui perantara mantan atasannya tersebut. (*/sya)






























