SUKABUMITIMES.com – Keberadaan kolam retensi di kawasan Terminal KH Ahmad Sanusi Kota Sukabumi yang sempat menjadi kebanggaan masyarakat kini justru menuai sorotan tajam.
Fasilitas yang dibangun untuk membantu mengurangi risiko banjir sekaligus menjadi ruang terbuka publik itu saat ini terlihat memprihatinkan. Air kolam berwarna kehijauan, sampah menumpuk di sejumlah titik, menimbulkan bau tidak sedap, sementara taman di sekitarnya tampak kotor dan kurang terawat.
Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan dari masyarakat yang pernah merasakan suasana nyaman dan indah di kawasan kolam retensi tersebut. Salah seorang pengunjung yang meminta identitasnya disamarkan, S (40), mengaku sedih melihat perubahan yang terjadi.
Menurutnya, kolam retensi yang dahulu menjadi tempat favorit warga untuk bersantai bersama keluarga kini sudah jauh dari kata nyaman.
“Dulu kolam dan sekitarnya ini bagus, tertata rapi, bersih dan nyaman. Setiap datang ke sini suasananya menyenangkan. Tapi sekarang semuanya semrawut dan tidak terawat,” ujar S saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Namun pemandangan yang disuguhkan justru membuatnya kecewa.
“Saya datang lagi ke sini karena dulu tempat ini cukup bagus untuk membawa keluarga. Tapi ketika sampai, saya benar-benar kaget melihat kondisinya sekarang. Jauh berbeda dengan yang dulu,” katanya.
S menuturkan, salah satu hal yang paling mencolok adalah kondisi air kolam yang terlihat keruh dan kehijauan. Selain itu, banyak sampah yang terlihat mengambang maupun menumpuk di tepian kolam.
“Airnya kehijauan, tidak enak dipandang mata. Sampah juga terlihat di mana-mana. Ada yang mengambang, ada yang menumpuk di pinggir kolam. Seolah-olah sudah lama tidak dibersihkan,” ungkapnya.
Menurutnya, jika kondisi tersebut terus dibiarkan, fungsi estetika dan fungsi sosial kolam retensi akan semakin hilang.
“Padahal kalau bersih, tempat ini bisa menjadi salah satu ruang publik yang bagus. Orang bisa duduk santai, anak-anak bisa bermain, keluarga bisa menikmati suasana. Tapi kalau kondisinya seperti sekarang, siapa yang mau berlama-lama di sini?” ujarnya.
Ia mengenang masa-masa ketika kolam retensi tersebut menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat sekitar. Keberadaan ikan-ikan yang hidup di kolam menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak.
“Dulu ikan di kolam ini banyak. Berbagai jenis ikan ada. Kalau kita lempar makanan, ikan-ikan itu langsung berkumpul. Anak-anak sangat senang melihatnya,” kenangnya.
Bahkan menurutnya, aktivitas memberi makan ikan sering menjadi hiburan sederhana yang mampu menarik masyarakat datang ke lokasi tersebut.
“Anak saya dulu senang sekali kalau diajak ke sini. Bukan karena ada wahana khusus, tapi karena bisa melihat ikan dan memberi makan. Itu sudah menjadi hiburan tersendiri,” tuturnya.
Namun saat berkunjung kembali pada Minggu (21/6/2026), suasana yang dulu pernah menjadi daya tarik itu nyaris tidak lagi terlihat.
“Sekarang yang terlihat justru sampah, air kotor dan taman yang kurang terawat. Jujur saja saya prihatin melihatnya,” katanya.
Tak hanya persoalan sampah dan kebersihan, S juga mengaku menemukan hal lain yang membuatnya semakin khawatir terhadap pengawasan di kawasan tersebut.
Ia menemukan sebuah botol yang diduga bekas minuman keras berada di bawah salah satu bangku taman.
“Saya melihat ada satu botol yang diduga botol minuman keras di bawah bangku taman. Saya tidak tahu pasti siapa yang membuangnya, tetapi temuan seperti ini tentu membuat miris,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan botol tersebut harus menjadi perhatian serius bagi pengelola.
“Jangan sampai tempat yang seharusnya menjadi ruang publik keluarga justru dimanfaatkan untuk aktivitas yang tidak semestinya. Kalau memang ada kejadian seperti itu, tentu perlu ada pengawasan yang lebih baik,” katanya.
S menilai kondisi kolam retensi saat ini menunjukkan lemahnya perhatian terhadap fasilitas publik yang sebenarnya memiliki manfaat besar bagi masyarakat.
Ia bahkan menyampaikan kritik kepada Pemerintah Kota Sukabumi dan pihak pengelola Terminal Tipe C KH Ahmad Sanusi agar tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek pemeliharaan.
“Membangun itu penting, tetapi merawat jauh lebih penting. Percuma kalau fasilitas dibangun bagus dengan biaya besar, tetapi setelah itu tidak dirawat dengan baik,” tegasnya.
Menurutnya, kolam retensi bukan hanya sekadar infrastruktur pengendali banjir, melainkan aset publik yang dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi apabila dikelola dengan baik.
“Kolam retensi ini sebenarnya punya fungsi ganda. Selain untuk mengurangi banjir, tempat ini juga bisa menjadi ruang rekreasi masyarakat. Sayang sekali kalau potensinya dibiarkan hilang begitu saja,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan di kawasan tersebut semakin parah.
“Harus ada tindakan nyata. Sampah dibersihkan, air kolam dirawat, taman dirapikan dan fasilitas yang rusak diperbaiki. Jangan menunggu sampai masyarakat benar-benar kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan fasilitas publik,” katanya.
Lebih lanjut, S juga meminta adanya jadwal pembersihan rutin serta pengawasan yang berkelanjutan.
“Yang dibutuhkan bukan hanya bersih-bersih sekali lalu selesai. Harus ada perawatan rutin dan berkelanjutan supaya kondisinya tetap terjaga,”* ungkapnya.
Menurutnya, apabila dikelola secara serius, kawasan kolam retensi tersebut dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alternatif bagi masyarakat Kota Sukabumi.
“Lokasinya strategis, lahannya cukup luas dan sudah memiliki konsep yang bagus. Tinggal bagaimana pemerintah dan pengelola serius merawatnya,” ujarnya.
Ia bahkan membayangkan kawasan tersebut dapat menjadi ruang terbuka yang nyaman bagi masyarakat untuk berolahraga, bersantai maupun berkumpul bersama keluarga.
“Kalau bersih dan tertata, masyarakat pasti senang datang ke sini. Tidak perlu jauh-jauh mencari tempat rekreasi. Di tengah kota pun sudah ada tempat yang nyaman,” katanya.
Di akhir pernyataannya, S berharap kolam retensi dan taman di kawasan Terminal KH Ahmad Sanusi dapat kembali menjadi ruang publik yang membanggakan masyarakat Kota Sukabumi.
“Saya berharap kolam retensi ini dikembalikan seperti dulu, bahkan kalau bisa lebih baik lagi. Jangan sampai fasilitas yang memiliki manfaat besar ini justru terbengkalai,” harapnya.
“Potensi kolam dan taman di terminal ini sangat besar. Selain membantu mengurangi banjir, juga bisa menjadi tempat wisata alternatif yang murah dan ramah keluarga bagi masyarakat Kota Sukabumi dan sekitarnya,” pungkasnya. (sya)


























