SUKABUMITIMES.com – Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengungkapkan bahwa Kota Sukabumi hingga saat ini belum memiliki pusat kota atau kawasan representatif yang benar-benar menjadi identitas dan jantung kota sebagaimana kota-kota besar lainnya.
Menurut Ayep, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya perencanaan pembangunan kawasan kota terpadu yang menggabungkan fungsi pemerintahan, bisnis, perdagangan, hingga hunian modern dalam satu kawasan.
Hal tersebut disampaikan Ayep usai pelantikan Pengurus Antar Waktu (PAW) Dekranasda Kota Sukabumi periode 2025-2030 yang melengkapi susunan kepengurusan organisasi tersebut di Gedung Dekranasda Kota Sukabumi pada Senin (22/6/2026)
“Kota Sukabumi perlu ibu kota. Ya, kotanya di mana sekarang? Jalan Ahmad Yani? Kumuh. Jalan Sudirman? Merdeka? Lapang Merdeka? Kita harus punya kota,” ujar Ayep kepada wartawan.
Ia menjelaskan, konsep yang dimaksud bukan sekadar kawasan perumahan atau pertokoan, melainkan sebuah pusat kota modern yang terintegrasi dan menjadi simbol perkembangan Kota Sukabumi di masa depan.
“Kita desain. Di situ ada pusat perkantoran, di situ ada pusat niaga, di situ ada hotel, ada mal, bahkan harus ada apartemen. Satu terintegrasi. Dan itu untuk jangka panjang,” katanya.
Ayep menilai, hingga kini Kota Sukabumi belum memiliki kawasan yang dapat disebut sebagai sentral atau jantung kota yang representatif.
“Kita harus punya kota. Coba sekarang Kabupaten Sukabumi di mana kotanya? Cianjur mana? Kota Sukabumi mana? Ada nggak? Kota yang di situ ada kawasan niaga yang bagus, representatif, ada hotel, ada mal, ada apartemen, ada kawasan niaga dan lain sebagainya,” ungkapnya.
Menurutnya, kawasan Jalan Ahmad Yani yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas ekonomi belum bisa dikategorikan sebagai pusat kota modern.
“Kalau Jalan Ahmad Yani kan ruko, toko-toko, tukang dagang semua. Kantornya di mana? Semacam big city. Karena belum didesain. Sukabumi menjadi pusat kota, sentralnya di mana?” tuturnya.
Ayep kemudian membandingkan dengan kota besar seperti Jakarta yang memiliki titik sentral yang mudah dikenali masyarakat.
“Kalau Jakarta kan Bundaran HI. Pacific Place. Itu jelas sentralnya di mana. Jantung kotanya di mana,” katanya.
Terkait lokasi pembangunan kawasan tersebut, Ayep mengaku masih memerlukan pembahasan dan kajian lebih lanjut bersama berbagai pihak.
“Itu yang harus kita sama-sama diskusikan. Kita harus punya kota,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa gagasan tersebut bukan program jangka pendek, melainkan visi pembangunan Kota Sukabumi dalam kurun waktu sekitar satu dekade ke depan.
“Kita harus desain dulu. Minimal kita bermimpi dulu lah. Kita nanti desain selama 10 tahun ke depan. Termasuk kawasan industri, kita harus juga bikin kawasan itu,” kata Ayep.
Ia mengakui pembangunan kawasan kota terpadu membutuhkan investasi yang sangat besar, bahkan mencapai triliunan rupiah.
“Perlu biaya karena investasinya cukup mahal. Bukan ratus miliar, tapi triliun. Mungkin Rp2 sampai Rp3 triliun. Mudah-mudahan,” ujarnya.
Menurut Ayep, dana sebesar ratusan miliar rupiah hanya cukup untuk membangun kawasan perumahan, sementara Kota Sukabumi membutuhkan kawasan yang memiliki nilai ekonomi dan daya tarik investasi lebih besar.
“Kalau hanya uangnya Rp100 miliar sampai Rp200 miliar mah perumahan saja. Sekarang investor datang ke Sukabumi bikin perumahan. Perumahan elit ada, menengah ada, perumahan subsidi ada. Kalau perumahan sudah banyak,” katanya. (sya)
































