Aksi 2.6.26 & Refleksi Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Oleh: Boby es-Syawal el-Iskandar (Penulis, Kolumnis)

Sebuah Pertanyaan Lama di Era Modern

Dalam sejarah kepemimpinan Islam, Khalifah Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai sosok yang adil dan bijaksana. Namun, masa pemerintahannya diwarnai oleh berbagai konflik internal dan pemberontakan yang membuat keadaan negara tidak stabil. Di tengah kesulitan itu, seorang warga datang memprotes dan mengkritik kepemimpinannya. Ia membandingkan kondisi zamannya dengan era Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab—masa di mana negara aman, makmur, dan rakyatnya patuh. Ia bertanya, mengapa rakyat tidak lagi tunduk pada masa pemerintahan Ali?

Khalifah Ali bin Abi Thalib menjawab dengan kalimat yang hingga kini terus direnungkan:

“Karena pada masa Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, rakyat yang dipimpin adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman. Sementara pada masa pemerintahanku saat ini, rakyat yang aku pimpin adalah orang-orang yang seperti dirimu.”

Jawaban ini bukan sekadar sindiran. Ia adalah sebuah teori moral tentang kepemimpinan: kualitas sebuah pemerintahan tidak bisa dilepaskan dari kualitas masyarakat yang dipimpin. Pemimpin yang baik adalah cerminan dari rakyat yang baik. Sebaliknya, ketika masyarakat mulai kehilangan kompas moral dan kesabaran, maka pemerintahan sebaik apa pun akan terasa sulit dan kacau.

Peristiwa demonstrasi yang terjadi di Kota Sukabumi pada Selasa, 2 Juni 2026, atau yang dikenal dengan Aksi 2.6.26, bisa menjadi cermin untuk merefleksikan kembali kebijaksanaan Ali bin Abi Thalib. Apa yang sebenarnya terjadi di Sukabumi, dan pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah lama untuk memahami dinamika kekinian?

Aksi 2.6.26 — Sebuah Potret Masyarakat Modern yang Heterogen

Aksi 2.6.26 digelar oleh Forum RT/RW se-Kota Sukabumi dengan tuntutan utama berupa realisasi janji kampanye, yaitu Program P2RW (Pemberdayaan Rukun Warga) dan Dana Abadi Rp10 juta per RT. Aksi yang berlangsung di depan Balai Kota dan Gedung DPRD Sukabumi ini merupakan bentuk aspirasi warga yang sah dalam demokrasi.

Dalam perkembangannya, tuntutan tersebut melebar ke berbagai isu lain, termasuk dugaan kasus hukum dari masa lalu yang melibatkan kepala daerah. Fenomena pelebaran isu dalam sebuah demonstrasi bukanlah hal baru. Dalam setiap gerakan sosial, aspirasi rakyat sering kali bercampur dengan kepentingan-kepentingan lain yang tidak selalu sejalan dengan tujuan awal.

Namun, daripada mencari kambing hitam, lebih baik mari kita lihat ini sebagai cerminan dari kompleksitas masyarakat modern yang tidak lagi homogen seperti pada masa awal Islam. Pada masa Rasulullah dan dua khalifah pertama, masyarakat yang dipimpin adalah para sahabat yang telah teruji iman dan kesabarannya. Mereka memiliki kontrol diri yang tinggi. Mereka tidak serta-merta menurunkan pemimpin hanya karena janji kampanye belum terealisasi dalam waktu singkat. Yang mereka utamakan adalah musyawarah, ukhuwah, dan stabilitas bersama.

Di sinilah letak perbedaan mendasar yang disoroti oleh Ali bin Abi Thalib. “Rakyat yang seperti dirimu” adalah rakyat yang kritis, tetapi juga mudah terbawa arus; rakyat yang menuntut hak, tetapi kadang lupa pada kewajiban untuk menjaga ketertiban; rakyat yang menginginkan pemimpin sempurna, tetapi belum tentu siap menjadi warga yang sempurna.

Stabilitas vs Aspirasi

Salah satu pelajaran terpenting dari kisah Ali bin Abi Thalib adalah bahwa stabilitas sebuah pemerintahan sangat bergantung pada kohesi sosial masyarakatnya. Ketika masyarakat bersatu dan memiliki komitmen moral yang sama, pemimpin akan mudah menjalankan roda pemerintahan. Namun, ketika masyarakat mulai terpecah—baik karena perbedaan politik, ekonomi, maupun pandangan—maka pemimpin akan menghadapi tekanan luar biasa.

Dalam konteks Aksi 2.6.26, kita bisa melihat bagaimana tuntutan warga yang semula bersifat teknis (realisasi program dan anggaran) dengan cepat berubah menjadi tekanan politik yang lebih luas. Ini adalah tantangan umum dalam demokrasi modern: setiap kebijakan pemerintah selalu berpotensi menjadi isu politik yang bisa membesar kapan saja.

Khalifah Ali mengalami hal serupa. Banyak pihak yang tadinya mendukung, kemudian berbalik mengkritik tajam ketika situasi tidak berpihak pada mereka. Ali mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus tetap tenang dan tidak terpancing. Namun, ia juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu introspeksi: apakah tuntutan mereka sudah proporsional? Apakah mereka sudah memberikan ruang dan waktu bagi pemimpin untuk bekerja?

Pelajaran dari Ali: Ketaatan dan stabilitas tidak bisa dipaksakan jika masyarakatnya sendiri sudah terpolarisasi. Semakin kuat polarisasi, semakin berat beban pemimpin. Dan semakin berat beban pemimpin, semakin sulit tercipta kesejahteraan bersama.

Tiga Pelajaran Berharga dari Ali bin Abi Thalib

Dari kisah Ali dan refleksi atas Aksi 2.6.26, ada tiga pelajaran utama yang bisa kita petik bersama:

1. Pemimpin Adalah Cerminan Rakyat.

Kualitas sebuah negara sangat ditentukan oleh kesiapan moral rakyatnya. Sehebat apa pun pemimpin, jika rakyatnya mudah terprovokasi, gampang kecewa, dan tidak sabar, maka pemerintahan yang stabil sulit terwujud. Sebaliknya, rakyat yang matang akan melahirkan pemimpin yang matang. Ini bukan untuk membela pemimpin yang lalai, tetapi untuk mengingatkan bahwa tanggung jawab atas keadaan negara ada di pundak kita semua.

2. Karakter Mempengaruhi Ketaatan.

Pada masa Rasulullah dan dua khalifah pertama, mayoritas umat memiliki kompas moral dan ketaatan agama yang tinggi. Ketaatan itu lahir dari kesadaran, bukan dari paksaan. Pada masa Ali, perpecahan dan polarisasi mulai merusak ikatan sosial. Ini adalah pengingat bahwa rakyat perlu menjaga persatuan di atas segalanya, karena persatuan adalah fondasi stabilitas.

3. Kritik Harus Membangun, Bukan Menghancurkan.

Ali bin Abi Thalib terkenal sebagai pemimpin yang membuka ruang aspirasi. Ia tidak pernah melarang kritik. Bahkan, ia sering mengatakan bahwa kritik yang jujur lebih baik daripada pujian yang palsu. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kritik yang tidak dibarengi dengan solusi dan kesabaran hanya akan memperkeruh keadaan. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mampu mengkritik tanpa menghancurkan, dan mampu bersabar tanpa mengorbankan kebenaran.

Renungan dari Umar bin Khattab

Sebagai renungan terakhir bagi setiap pemimpin di negeri ini—dari tingkat pusat hingga ke tingkat paling bawah, dari seorang presiden hingga seorang ketua RT, dari seorang direktur hingga seorang mandor—marilah kita simak perkataan Khalifah Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang masa pemerintahannya disebut sebagai salah satu era teraman dan termakmur dalam sejarah Islam:

_”Seandainya ada seekor kambing yang mati di tepi sungai Eufrat, sungguh aku takut jika Allah menghisab Umar karena kambing itu.”_ Umar bin Khattab (Shifatus Shafwah, I/285)

Inilah tingkat tanggung jawab seorang pemimpin sejati. Bukan hanya manusia yang dipimpinnya, tetapi bahkan seekor kambing di sudut wilayah kekuasaannya pun menjadi beban hisab di hadapan Allah. Jika pemimpin setingkat Umar saja begitu takut kepada Allah karena seekor kambing yang mati kelaparan atau kehausan, bagaimana pula dengan para pemimpin di zaman sekarang? Bagaimana dengan janji-janji yang diucapkan di hadapan ribuan manusia? Bagaimana dengan kesejahteraan rakyat yang telah memilih dan mempercayakannya?

Setiap pemimpin, di level mana pun ia berada, kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang dipikulnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: _”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”_ (HR. Bukhari & Muslim)

Tulisan ini dibuat tentu bukan untuk melegitimasi kekeliruan yang dilakukan oleh Walikota Sukabumi (jika terbukti), tapi untuk memberikan pandangan sisi lain tentang sikap kita dalam berdemokrasi. Karena itu, tidak pada tempatnya kita menyamakan Walikota Ayep Zaki dengan para khalifah dari kalangan sahabat Nabi Saw yang mulia. Tapi, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah dan apa yang telah terjadi.

Semoga perkataan Umar ini menjadi cambuk bagi setiap pemimpin untuk terus berusaha, bekerja keras, menepati janji, dan tidak pernah merasa cukup hanya dengan memberi alasan. Dan semoga perkataan Ali bin Abi Thalib menjadi cermin bagi setiap rakyat untuk introspeksi diri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *