SUKABUMITIMES.com – Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah yang denyut kehidupannya akrab dengan alam, seperti hamparan padi, aliran sungai seolah membelah perkampungan.
Denyut kehidupan para petani yang setiap hari menapaki pematang sawah menjadi sumber kehidupan mereka sejak puluhan tahun lalu. Di balik suasana pedesaan yang tenang itu, Warungkiara ternyata menyimpan potensi besar yang kini perlahan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Camat Warungkiara, Toni Sugiarto, menegaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat di wilayahnya. Hamparan sawah produktif yang membentang di sejumlah desa tidak hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi warga.
“Sektor perikanan juga, hingga pengembangan UMKM dan desa wisata, kecamatan Warungkiara saat ini menunjukkan arah baru pembangunan berbasis alam dan kearifan lokal,” ungkap Toni.
“Potensi dari Sektor pertanian juga disini, di kecamatan Warungkiara sangat besar dan masih menjadi sumber penghidupan utama masyarakat,” sambungnya.
Menurut Toni, mayoritas warga masih menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Padi menjadi komoditas utama yang terus dipertahankan, namun kini masyarakat mulai membuka peluang baru dengan mengembangkan tanaman lain yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Komoditas seperti pisang dan singkong mulai banyak dibudidayakan warga. Bahkan, sebagian masyarakat tidak lagi hanya menjual hasil panen mentah, tetapi mulai berinovasi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
Perubahan itu, kata dia, menjadi tanda bahwa masyarakat Warungkiara mulai bergerak menuju pola ekonomi yang lebih kreatif dan mandiri.
“Tidak hanya di sektor pertanian, geliat ekonomi juga terlihat dari berkembangnya perikanan air tawar. Kolam-kolam budidaya ikan lele, nila hingga ikan mas kini semakin banyak ditemukan di sejumlah wilayah,” jelasnya.
Bagi sebagian warga, lanjut Toni Sugiharto, budidaya ikan menjadi alternatif usaha yang cukup menjanjikan di tengah kebutuhan pasar yang terus meningkat. Aktivitas perikanan bahkan mulai membuka lapangan usaha baru, mulai dari pembibitan hingga pemasaran hasil panen.
“Perikanan memiliki prospek besar jika dikelola dan didampingi dengan baik,” tambah Toni.
Di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat, kata Toni Sugiharto lagi, pemerintah kecamatan juga terus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Kawasan hutan rakyat dan ruang terbuka hijau tetap dipertahankan agar alam Warungkiara tidak kehilangan daya dukungnya.
Menurut Toni, pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Sebab, alam yang terjaga justru menjadi modal utama keberlangsungan hidup masyarakat di masa depan.
Keunggulan lain yang dimiliki Warungkiara adalah letaknya yang berada di jalur strategis Sukabumi-Bogor. Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM) hingga desa wisata berbasis lingkungan.
“Potensi alam yang masih asri, budaya masyarakat pedesaan, hingga aktivitas pertanian dan perikanan dinilai bisa menjadi daya tarik wisata baru jika dikembangkan secara serius,” paparnya.
“Kini, di tengah hamparan sawah dan suara gemericik air sungai, Warungkiara perlahan menata harapan. Dari desa-desa yang tumbuh bersama alam, masyarakat mulai membangun masa depan dengan semangat baru, menjadikan potensi lokal sebagai kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” tandasnya. (stm)

























