April Masih Hujan Lebat, BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026

SUKABUMITIMES.com – Meski telah memasuki bulan April yang identik sebagai awal musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia justru masih kerap diguyur hujan deras dengan intensitas tinggi. Fenomena ini menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat, terutama terkait kepastian datangnya musim kemarau tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang lazim terjadi pada masa peralihan musim.

“Awal musim kemarau selalu berbeda-beda dari daerah ke daerah. Tidak semuanya bermula dari April,” ujarnya kepada Selasa (31/3).

Menurut Ardhasena, tingginya curah hujan yang masih terjadi di berbagai wilayah tidak bisa langsung diartikan sebagai keterlambatan musim kemarau. Ia menegaskan bahwa fase transisi atau pancaroba memang ditandai dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, termasuk hujan lebat yang masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

BMKG mencatat, pada periode 30 Maret hingga 1 April 2026, sejumlah daerah mengalami curah hujan tinggi dengan kategori lebat hingga sangat lebat. Curah hujan tertinggi bahkan terpantau di wilayah Maluku mencapai 134,3 mm per hari.

Sementara itu, hujan dengan intensitas lebat juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Sumatra Barat (86,6 mm/hari), Sumatra Utara (77,6 mm/hari), Sulawesi Selatan (76,0 mm/hari), Aceh (75,6 mm/hari), Gorontalo (60,5 mm/hari), Kalimantan Barat (58,3 mm/hari), hingga Nusa Tenggara Barat (57,5 mm/hari.

Dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 3–9 April, BMKG mengungkapkan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer global dan regional. Aktivitas gelombang atmosfer seperti Equatorial Rossby, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) masih aktif di berbagai wilayah Indonesia.

Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di sebagian besar wilayah Sumatra turut memperkuat potensi pembentukan awan hujan. Peralihan dominasi monsun Asia menuju monsun Australia juga menjadi faktor penting yang memicu terbentuknya pola sirkulasi udara dan konvergensi di sejumlah wilayah.

Tidak hanya itu, BMKG juga mencatat bahwa perlambatan angin serta pemanasan yang cukup intens pada siang hari ikut berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menambahkan bahwa meskipun hujan masih sering terjadi, sebagian wilayah Indonesia sebenarnya sudah mulai memasuki musim kemarau.

“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” ujarnya dalam keterangannya, Minggu.

Faisal menjelaskan, hingga akhir Maret 2026, sekitar 7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, serta Papua Barat.

Ke depan, jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau diprediksi akan meningkat secara signifikan. BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau secara bertahap pada April, Mei, hingga Juni 2026.

Secara lebih rinci, sebanyak 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen wilayah diperkirakan mulai mengalami musim kemarau pada April. Wilayah tersebut antara lain meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil Sulawesi Selatan.

Sementara itu, sebanyak 184 ZOM atau sekitar 26,3 persen wilayah diprediksi baru memasuki musim kemarau pada Mei, disusul 163 ZOM atau sekitar 23,3 persen wilayah lainnya pada Juni.

BMKG juga memprediksi bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Pada periode tersebut, sekitar 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kondisi kemarau puncak.

Adapun wilayah lain akan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, yakni sekitar 12,6 persen wilayah, serta sebagian lainnya pada September sekitar 14,3 persen wilayah.

Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah di Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian barat.

Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, baik hujan lebat, angin kencang, maupun perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba di masa peralihan musim. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *