SUKABUMITIMES.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Fenomena ini diprediksi berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026, dengan potensi dampak yang cukup signifikan di berbagai sektor, khususnya pertanian dan ketersediaan air bersih.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa prakiraan tersebut didasarkan pada hasil analisis dinamika atmosfer serta model prediksi iklim dengan periode normal 1991–2020.
“Prediksi ini kami susun berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer terkini dan perbandingan dengan data klimatologis jangka panjang. Hasilnya menunjukkan adanya kecenderungan musim kemarau datang lebih awal dan berlangsung lebih kering dari biasanya,” ujar Teguh dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius berbagai pihak, mengingat dampaknya dapat meluas.
“Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13 hingga 15 dasarian, bahkan cenderung lebih panjang dari normal,” kata Teguh.
Berdasarkan data BMKG, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Namun, beberapa daerah diprediksi akan mengalami kondisi kering lebih awal.
“Di sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang, kemarau bahkan sudah mulai terasa sejak Maret. Ini menjadi sinyal awal bahwa distribusi musim kemarau tahun ini tidak merata dan cenderung maju dari biasanya,” jelas Teguh.
Selanjutnya, kondisi kemarau diperkirakan akan meluas ke sejumlah wilayah lain seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, hingga sebagian Cirebon dalam beberapa bulan berikutnya.
Sementara itu, wilayah lain seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar diperkirakan baru akan mulai memasuki musim kemarau pada periode Mei hingga Juni 2026.
Menurut Teguh, variasi waktu masuknya musim kemarau ini dipengaruhi oleh kondisi geografis serta dinamika atmosfer regional.
“Wilayah selatan Jawa Barat umumnya memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan wilayah utara, sehingga waktu peralihan musimnya pun tidak seragam. Namun secara keseluruhan, tren yang kami lihat tetap menunjukkan kondisi lebih kering dari normal,” ungkapnya.
Menghadapi potensi kemarau panjang ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipatif. Upaya tersebut dinilai penting guna meminimalkan risiko yang mungkin timbul.
“Kami mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, termasuk waduk dan irigasi, agar tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode kemarau,” kata Teguh.
Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian di sektor pertanian.
“Petani perlu mulai mempertimbangkan perubahan pola tanam, memilih komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, serta menyesuaikan jadwal tanam agar tidak mengalami gagal panen,” tambahnya.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau berlangsung.
“Dengan kondisi yang lebih kering dan durasi kemarau yang lebih panjang, risiko kebakaran lahan tentu akan meningkat. Oleh karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan sejak dini,” tegas Teguh.0
Ia berharap informasi prakiraan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh semua pihak.
“Prakiraan ini bukan untuk menimbulkan kekhawatiran, tetapi sebagai dasar perencanaan. Semakin cepat kita bersiap, maka dampak yang ditimbulkan bisa ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya. (sya)

































