Oleh: Ohan Jauharudin (Penyuluh Agama Islam)
Bulan Ramadan menjadi bulan penuh keberkahan bagi umat Islam. Satu momen yang dapat menjadi amunisi dorongan emosional meningkatnya nilai-nilai toleransi tanpa memandang latar belakang agama, ras dan suku. Ramadan dapat dirasakan baik secara batiniah maupun duniawi. Secara batiniah, keberkahan dirasakan melalui peningkatan spiritual. Berlomba memperbanyak amalan ibadah baik yang wajib maupun sunah. Secara duniawi, keberkahan terlihat dalam aktivitas sosial-ekonomi masyarakat, berlomba untuk berbagi dengan sesama, berbondong-bondong menjajakan aneka pakaian, makanan, minuman dan sejenisnya.
Di bulan Ramadaan semua aktivitas bisa menjadi peluang yang bernilai pahala. Puasa Ramadan akan menjadi rambu dalam semua gerak aktivitas baik perkataan, ucapan maupun perbuatan. Ada kekhawatiran puasa tidak memiliki nilai alias hanya mendapatkan haus dan lapar semata tatkala puasanya disertai dengan hal-hal yang melanggar syariat seperti halnya berbohong, ghibah (menceritakan keburukan orang lain), bermusuhan dan lain sebagainya.
Menyongsong Ramadhan adalah menyongsong kesucian hati dengan memberi asupan ruhani. Sebagaimana halnya tubuh jasmaniyah hati pun perlu diberi makanan. Tanpa asupan makanan, hati akan selalu lesu secara ruhaniyah. Makanannya pun berupa aneka ragam nilai-nilai kebaikan di bulan Ramadan sebagai menu asupan ruhani bergizi yang akan membuat hati menjadi mulia.
Ibnu Mandzur (630-711 H), seorang ahli Bahasa Arab, menjelaskan bawa ramadan berasal dari kata al ramadh yang artinya panas batu akibat sengatan matahari. Menurut pandangan ini Ramadan tak lain sebagai simbol dari sengatan sinar matahari yang dapat mempengaruhi dan memanaskan batu. Batu, sering juga dijadikan simbol dalam al Qur’an menyoroti kerasnya hati manusia. Hati yang tidak memiliki ruh petunjuk dan kepekaan sehingga disebut dengan istilah “berhati batu”, sulit untuk menerima kebaikan. perilaku dan pola pikirnya lebih mengedepankan emosional dan hawa nafsu.
Bulan suci Ramadhan merupakan penawar dari kerasnya hati seseorang yang berpuasa. Merubah kehidupan yang hampa menjadi penuh makna. Menggerakkan hati untuk segera menuai keberkahan hidup melalui ajaran-ajaran serta amalamalan yang baik. Ramadan mampu merubah hati yang lesu menjadi kuat, yang gelap menjadi terang, yang bisu menjadi bicara, hati yang gelisah menjadi pasrah (tawakal), hati yang keras menjadi lembut dan tenang (muthmainnah), serta merubah hati yang individualis mendi sosialis.
Ramadan merupakan momen tepat untuk berhijrah. Hijrah dalam konteks kekinian bisa dimaknai sebagai perubahan dalam berbagai dimensi kehidupan, hijrah dengan niat sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah dan menjauhkan segala bentuk larangan-Nya, serta adanya nilai kemanusiaan dan perdamaian dalam kehidupan. Ramadan memiliki peran penting dalam merubah pola hidup yang dibentuk selama satu bulan penuh yang mampu menghasilkan perpindahan kepribadian seseorang dari yang tidak baik menjadi baik bahkan lebih baik.
Kekuatan hati yang tersentuh Ramadan, bukan hanya mampu mendorong dirinya, melainkan bisa menjadi daya dan dorongan kekuatan bagi orang lain untuk berhijrah. Dalam konteks ini, hijrah berarti meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amalan yang lebih bermanfaat serta lebih bernilai di sisi Allah. Ramadan memberikan suasana yang kondusif bagi perubahan ini, karena selama sebulan penuh, umat Islam diajak untuk lebih disiplin dalam beribadah, lebih sabar dalam menghadapi ujian, serta lebih dermawan dalam berbagi.
Oleh karena itu, menyongsong Ramadhan berarti menyongsong gerak hati, piki, dzikir dan amal. Cukup tiga puluh hari saja untuk merubah perilaku seseorang untuk berhijrah menjadi manusia yang bernilai. Manusia mampu memiliki visi, misi dan arah kehidupan yang lebih jelas, sehingga sangatlah tepat jika bulan suci ramadan merupakan bulan yang mampu menghantarkan seseorang untuk berhijrah karena Ramadan memiliki sistem pendidikan karakter yang nampak dan berdampak menuju pribadi lebih baik. Wallahu ‘alam. (*)





























