Iran Kembali Ancam Israel di Tengah Ketegangan dengan AS yang Meningkat

SUKABUMITIMES.com – Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Panglima Angkatan Bersenjata Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat.

Teheran menegaskan kesiapannya untuk meluncurkan serangan militer jika merasa keamanan nasionalnya terancam.

Mayor Jenderal Amir Hatami, dalam pernyataannya yang dikutip oleh Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA) pada Sabtu waktu setempat, memperingatkan bahwa setiap kesalahan perhitungan oleh musuh akan berakibat fatal bagi keamanan regional, khususnya bagi “rezim Zionis” (Israel).

“Kami memantau dengan sangat ketat setiap pergerakan musuh di seluruh kawasan. Jari kami saat ini sudah berada di atas pelatuk,” tegas Hatami.

Senada dengan hal tersebut, Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan kepada media Al Mayadeen bahwa Teheran tidak akan ragu memberikan tanggapan yang “proporsional dan efektif”.

Ia bahkan secara spesifik menyebut kemungkinan serangan langsung ke dalam wilayah Israel jika intelijen Iran mendeteksi adanya niat agresi dari pihak lawan.

Situasi di Teheran menunjukkan tanda-tanda persiapan menghadapi konflik terbuka.

Pemerintah kota di bawah Wali Kota Alireza Zakani dilaporkan mulai mengalihfungsikan lahan parkir bawah tanah menjadi tempat perlindungan (bunker) bagi warga sipil.

Selain itu, media lokal melaporkan langkah-langkah drastis lainnya, antara lain penyiapan lokasi pemakaman dengan 5.000 liang lahat di dekat pemakaman utama Teheran, yang secara retoris ditujukan untuk potensi korban dari pasukan penyerang.

Iran dijadwalkan menggelar latihan militer laut besar-besaran di perairan selatan, termasuk di dekat Selat Hormuz yang strategis.

Di tengah retorika perang ini, serangkaian insiden maut dilaporkan terjadi di wilayah Iran. Sebuah ledakan di gedung residensial di kota pelabuhan Bandar Abbas menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai belasan lainnya.

Di tempat terpisah, ledakan gas di Ahvaz merenggut lima nyawa.

Meskipun pemerintah Iran belum secara resmi mengaitkan insiden-insiden tersebut dengan sabotase atau masalah keamanan nasional, peristiwa ini terjadi di tengah memori kolektif serangan udara AS terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu yang masih membekas.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump sempat mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan mengenai kesepakatan nuklir. Namun, di saat yang sama, AS tetap mengerahkan peralatan militer tambahan ke Timur Tengah dan memperingatkan Iran agar tidak melakukan tindakan provokatif selama latihan militer mereka berlangsung.

Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia, khawatir bahwa percikan kecil dapat memicu perang skala besar di kawasan tersebut.

Ketegangan ini menunjukkan pola “diplomasi pinggir jurang” (brinkmanship) di mana kedua belah pihak menunjukkan kekuatan militer untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih kuat, meskipun risiko konfrontasi fisik yang tidak disengaja tetap sangat tinggi. (*/sya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *