SUKABUMITIMES.com – Sepertinya peribahasa “rajin pangkal kaya” sedang diuji kesaktiannya di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025, jutaan pekerja kita tampaknya sedang mengikuti kompetisi “lari maraton” terselubung, bukan di lintasan atletik, melainkan di balik meja dan lapangan kerja.
Bagaimana tidak? Sebanyak 37,3 juta orang atau sekitar 25% dari total pekerja di Indonesia tercatat bekerja lebih dari 49 jam per minggu.
Jika dibagi rata enam hari kerja, itu artinya mereka menghabiskan hampir 10 jam sehari demi mengais rezeki.
Angka ini membuktikan bahwa bagi seperempat penduduk kita, jargon work-life balance hanyalah mitos belaka yang setara dengan keberadaan unicorn.
Jika ada medali emas untuk jam kerja terpanjang, Gorontalo adalah juaranya dengan persentase 34,05%. Disusul ketat oleh Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Entah apa yang membuat warga di sana begitu betah berlama-lama bekerja, namun yang pasti, mereka adalah definisi nyata dari “pergi saat gelap, pulang pun gelap”.
Penyumbang terbesar jam kerja “super panjang” ini adalah mereka yang berada di usia emas alias usia produktif (25-44 tahun).
Sekitar 18 juta anak muda hingga dewasa awal di Indonesia tampaknya lebih sering melihat lampu kantor atau alat kerja daripada melihat wajah keluarga di rumah.
Namun, di sinilah letak “gelitik” pahitnya. Kerja keras yang memeras keringat hingga 49 jam lebih itu ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan isi dompet yang tebal.
Data BPS mengungkap ironi yang cukup menyayat hati, rata-rata upah nasional hanya berada di kisaran Rp3,3 juta. Bahkan, di beberapa provinsi seperti Lampung, Jawa Tengah, dan NTB, gaji bersih sebulan masih setia di angka Rp2,5 jutaan.
Ini memicu pertanyaan filosofis baru: Apakah kita bekerja untuk hidup, hidup untuk bekerja, atau jangan-jangan kita hanya sedang “bakti sosial” dalam durasi yang sangat lama?
Fenomena ini semakin menarik karena mayoritas pekerja kita bergerak di sektor informal, terutama di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Papua Pegunungan memecahkan rekor dengan 95,30% penduduknya bekerja di sektor informal. Di sini, jam kerja memang seringkali tidak mengenal jam kantor—selama matahari masih ada atau kebutuhan belum terpenuhi, kerja jalan terus.
Data ini menjadi pengingat bagi kita semua. Menjadi produktif itu perlu, tapi bekerja lebih dari 49 jam seminggu dengan gaji yang hanya cukup untuk bayar kos dan makan mi instan adalah sebuah seni bertahan hidup yang ekstrem.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, tarik napas, dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah saya sedang mengejar karier, atau sedang mengejar ketertinggalan cicilan yang tidak pernah usai?”
Semangat bekerja, Indonesia! Jangan lupa pulang, karena rumah Anda bukan hanya tempat untuk sekadar numpang cas HP. (sya)


























