SUKABUMITIMES.COM — Rio Tinto Group dikabarkan tengah menjajaki pembicaraan untuk mengakuisisi Glencore Plc, sebuah langkah strategis yang berpotensi melahirkan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar gabungan melampaui US$200 miliar atau sekitar Rp3.366 triliun. Wacana ini kembali mencuat setelah upaya serupa pada tahun lalu gagal mencapai kesepakatan.
Dalam pernyataan terpisah yang dirilis Kamis (8/1/2026), kedua perusahaan mengonfirmasi telah membahas kemungkinan penggabungan sebagian maupun seluruh bisnis, termasuk opsi akuisisi penuh atas saham Glencore. Merespons kabar tersebut, saham Glencore melonjak 8,8% di Bursa New York, Amerika Serikat, sementara saham Rio Tinto justru terkoreksi 5% pada awal perdagangan di Sydney, Australia.
Jika terealisasi, penggabungan ini akan menjadi kesepakatan terbesar dalam industri pertambangan global yang tengah dilanda gelombang konsolidasi. Produsen tambang besar berlomba memperkuat posisi mereka di sektor tembaga, logam kunci dalam transisi energi global yang saat ini diperdagangkan mendekati level tertinggi sepanjang sejarah.
Baik Rio Tinto maupun Glencore sama-sama memiliki portofolio aset tembaga yang signifikan. Merger keduanya diperkirakan akan melahirkan raksasa baru yang mampu menyaingi dominasi BHP Group, yang selama ini menyandang status sebagai perusahaan pertambangan terbesar di dunia.
Namun demikian, rencana ini tidak lepas dari tantangan. Analis menyoroti perbedaan mendasar antara kedua perusahaan, terutama karena Glencore merupakan salah satu produsen batu bara terbesar dunia—sektor yang justru telah ditinggalkan Rio Tinto. Selain itu, perbedaan budaya perusahaan juga dinilai dapat menjadi hambatan serius.
Pembicaraan serupa pernah dilakukan pada 2024, tetapi kandas akibat perbedaan valuasi. Sejak saat itu, Rio Tinto telah menunjuk CEO baru, Simon Trott, sementara Glencore secara aktif mengkomunikasikan prospek pertumbuhan bisnis tembaganya kepada investor.
Dalam percakapan internal, CEO Glencore Gary Nagle bahkan menyebut merger Rio–Glencore sebagai kesepakatan paling logis di industri. Namun, selisih valuasi kedua perusahaan justru semakin melebar dibandingkan periode pembicaraan sebelumnya.
Momentum pembahasan ini juga bertepatan dengan lonjakan harga tembaga global yang menembus rekor di atas US$13.000 per ton pada awal pekan ini. Kenaikan tersebut dipicu gangguan produksi tambang serta meningkatnya penimbunan logam di Amerika Serikat menjelang potensi kebijakan tarif baru. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran terbatasnya pasokan tembaga di masa depan, seiring meningkatnya permintaan dari sektor kecerdasan buatan dan belanja pertahanan global.
Bagi Rio Tinto, akuisisi Glencore akan secara signifikan meningkatkan produksi tembaga, termasuk membuka akses ke tambang Collahuasi di Chile—salah satu cadangan tembaga terkaya dunia yang telah lama diincar. Langkah ini juga dinilai strategis di tengah ketidakpastian masa depan pasar bijih besi, sumber pendapatan utama Rio dan BHP, seiring meredupnya boom konstruksi di China.
Sementara itu, Glencore tengah berada di bawah tekanan investor akibat kinerja yang melemah tahun lalu, dipengaruhi oleh turunnya harga batu bara dan ketidakjelasan strategi jangka panjang. Perusahaan menargetkan hampir melipatgandakan produksi tembaga dalam satu dekade ke depan, menjadikan komoditas tersebut sebagai inti bisnisnya.
Meski aset tembaga menjadi daya tarik utama, Glencore juga memiliki portofolio besar di batu bara, nikel, timah, serta bisnis perdagangan global. Belum dapat dipastikan apakah Rio Tinto bersedia mengakuisisi seluruh aset tersebut atau hanya sebagian. Sebelumnya, Glencore sempat mengusulkan pemisahan unit batu bara, meski akhirnya ditolak oleh pemegang saham.
Mengacu pada aturan akuisisi di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat waktu hingga 5 Februari 2026 untuk memastikan apakah akan mengajukan penawaran resmi atau menarik diri selama enam bulan.
“Kesepakatan mengenai syarat dan struktur tidak akan mudah. Rio menginginkan aset tembaga Glencore, tetapi bukan portofolio batu baranya, meskipun aset tersebut secara teknis dapat dipisahkan,” ujar analis Bloomberg Intelligence, Alon Olsha dan Grant Sporre. (*/sya)






























