Nilai Kearifan Wayang Golek dalam Bingkai Kebhinekaan 

Oleh: Saehudin (Direktur Pendidikan Yayasan Attarbiyatush Sholihat Aulani dan Pembantu Ketua II STAI Al-Mas’udiyah Sukabumi)

Dalam melakukan dakwah tentunya harus memiliki kemampuan membaca fakta, termasuk konteks budaya yang menjadi warna kehidupan masyarakatnya sekitar. Seperti tersirat dalam sejarah, sejak zaman Rasulullah, aktivitas dakwahnya senantiasa dilakukan dengan mempertimbangkan aspek budaya setempat, terutama untuk “memperlicin” jalan dakwah yang ditempuhnya. Dakwah memang selalu berhadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial budaya yang telah berkembang jauh sebelum kelahiran Islam. Sebab ketika Islam lahir di daratan tandus Arabia pada awal abad ke-7, masyarakat Arab saat itu telah memiliki peradaban yang amat tinggi. Sehingga sebagai agama Rahmatan lil ’alamin, Islam hadir dalam nuansa yang tetap diperhitungkan. Ia bukan saja ajaran yang menawarkan sistem baru kehidupan yang universal, tapi juga ajaran yang tetap memberikan peluang bagi tumbuhnya sistem budaya lokal masyarakat yang dihadapinya.

Karena itu dalam melaksanakan risalah dakwahnya, Rasulullah tidak pernah memaksakan kehendak apapun, meskipun ada jaminan teologis yang memayungi gerakan dakwah yang dilakukannya. Rasulullah selalu membuka ruang dialog kebudayaan yang lebih terbuka agar terjadi proses yang adil dalam membangun tata nilai baru di tengah-tengah sistem kehidupan yang telah mapan. Sebab dalam konteks sosial seperti itu, dakwah bukanlah sosok pemberantas total tatanan kehidupan lama, tetapi wujud yang melakukan proses seleksi atas nilai- nilai kehidupan yang di pandang relevan dengan kehendak ajaran.

Itulah sebabnya, ketika Islam masuk ke daratan Nusantara pada sekitar  Abad ke-13, dakwah pun berlangsung melalui saluran-saluran yang paling mungkin dapat melakukan kompromi-kompromi kebudayaan. Sebab Nusantara saat itu bukanlah kawasan yang hampa kebudayaan, tetapi merupakan wadah komunitas yang telah berperadaban. Masyarakatnya telah berusia cukup lama, sehingga otomatis telah menjadi sosok yang sarat dengan tradisi serta nilai-nilai yang sebelumnya telah lebih mewarnai kehidupan.

Proses Islamisasi yang dilakukan oleh para Wali pun berlangsung melalui pendekatan-pendekatan kultural yang paling mudah diterima. Dipertemukanlah tradisi-tradisi setempat dengan nilai-nilai ajaran yang selama proses yang dilaluinya tidak mengganggu prinsip aqidah yang menjadi pokok ajaran Islam. Sehingga dengan pendekatan-pendekatan dakwah seperti inilah Islam dapat memasuki ruang-ruang kehidupan masyarakat Nusantara, dalam tempo waktu yang tidak terlalu lama Islam pun menjadi agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Nusantara.

Berkenaan dengan proses dakwah seperti itu, sejarah memperlihatkan adanya pertemuan antara ajaran dan kebudayaan dalam wujud yang beraneka ragam. Masuknya nilai-nilai agama pada kebudayaan Wayang Golek di tatar Sunda, misalnya memberikan inspirasi positif bagi proses adaptasi Islam dalam konteks kebudayaan setempat. Seolah-olah kenyataan ini merupakan pilihan yang paling mungkin dilalukan agar Islam sebagai agama ”baru” dapat mudah diterima. Sebab hadirnya kepercayaan-kepercayaan lain yang telah mapan menjadi agama pribumi sebelum Islam datang merupakan kenyataan yang sama sekali tidak bisa dinafikan.

Begitu juga dengan cara pandang budaya Sunda, yang dikenal sarat mitologi dan legenda lokal bercorak animis-politeis-hinduistik dengan tradisi ‘dewa-dewi’nya, coba diterapkan dalam mengartikulasikan gagasan-gagasan keagamaan mengenai teologi/monoteisme Islam (tauhid), mistik-filosofis Islam (tasawuf), bahkan terkadang menyerempet-nyerempet dimensi yurisprudensi doktrin Islam (fiqh). Pesan-pesan monoteisme Islam mengenai keesaan Allah/tauhid, misalnya sangat sering disampaikan lewat term-term pewayangan yang dikenal hinduis-politeis, atau dimensi mistik Islam/tasawuf yang diartikulasikan dengan pendekatan term-term mistik tradisi yang animis. Dalam konteks mistik-filosofis Islam ( Tasawuf ), misalnya, seringkali Ki Dalang mengutip hadits “barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya” ketika membahas hakikat diri dalam hubungannya dengan eksistensi ke-Tuhan-an. Figur par exellence untuk menyampaikan pesan-pesan mistik filosofis biasanya Si Cepot (Astrajingga), Semar Badranaya, atau pribadi yang merupakan manifestasi “lain” salah satu dari kedua figur di atas.

Meski dikenal sebagai tokoh pelawak, ternyata Cepot dalam kualifikasi tertentu sangat artikulatif mengemukakan gagasan-gagasan mistik-filosofis dengan argumentasi yang seringkali logis dan mendalam. Kasus ini sangat sering ditemukan dalam tradisi wayang dengan dalang Asep Sunandar Sunarya dan Ade Kosasih. Keduanya sangat artikulatif serta argumentatif ketika mengemukakan pesan-pesan dan gagasan-gagasan pewayangan yang dalam presfektif intelektual-akademik dinilai sangat filosofis. Teman saya sering bilang bahwa Dalang adalah filosof yang tak tersadarkan, artinya ia tidak menyadari bahwa sebetulnya dirinya memenuhi kualifikasi untuk digelari filosof.

Seni wayang juga sarat sekali dengan pemakaian simbol-simbol dalam praksis gagasannya. Oleh karenanya, para dalang atau ‘sinden’ sering mengklaim bahwa wayang adalah simbol kehidupan umat manusia di dunia. “Wayang ngalambangkeun kahirupan manusa di alam dunya”, demikian ‘sabda’ ki dalang, atau “wayang teh perlambang hirup, ki dulur”, ungkap sinden. “Hirup teh darma wawayangan bae”, demikian satu peribahasa Sunda menyatakan. Artinya bahwa tradisi pewayangan adalah gambaran representatif-simbolik, ‘cerminan’ mengenai perilaku umat manusia dalam perjalanannya menempuh kehidupan di dunia dengan segala kompleksitas persoalan yang dihadapinya. Sebagai representasi simbolik tata laku kehidupan, meski terkesan abstrak dan terkadang cenderung mistik-mitologis, gagasan-gagasan serta pesan-pesan religio-humanismenya ( kemanusiaan dan keagamaannya ) sangat merealitas, yang pada taraf tertentu seringkali sangat akrab dengan realitas obyektif keseharian masyarakat.

Dalam masyarakat Sunda, dialog Sunda (wayang golek, misalnya) dan Islam yang mengejawantah dalam bentuk simbolik-kultural, merupakan kombinasi menarik yang mencerminkan kesuksesan kedua budaya dalam upaya membangun wacana dialog yang ‘sehat’, relasi mutualis dan dialektika konstruktif-akomodatif.

Dalam pandangan penulis, fenomena itu merupakan prestasi yang sangat luar biasa, sebab dialog yang dibangun berada pada tataran saling memelihara, menguntungkan, tak sampai mengganggu universalitas pesan-pesan yang dibawa Islam. Karenanya, sinkretisme, sejauh merupakan dialog budaya, merupakan unsur positif dalam membangun harmoni kehidupan dalam bingkai keterbukaan, ke saling pengertian dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *