SUKABUMITIMES.COM – Momentum bersejarah dalam Konferensi PGRI Kabupaten Sukabumi yang telah digelar sampai Minggu (6/7/2025), dimana Jajat Sudrajat resmi terpilih sebagai Ketua PGRI Kabupaten Sukabumi periode 2025-2030.
Jajat Sudrajat menyampaikan harapan besar untuk masa depan organisasi serta tekadnya untuk merangkul seluruh unsur pendidikan dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK secara inklusif dan harmonis.
Jajat menekankan, bahwa PGRI adalah rumah besar seluruh pendidik, tanpa memandang tingkatan maupun status. Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa dalam pembentukan struktur kepengurusan ke depan, akan dilakukan musyawarah bersama dengan seluruh jajaran demi memastikan keterwakilan yang adil dan proporsional bagi setiap lapisan tenaga pendidik.
“PGRI adalah organisasi terbuka, wadah perjuangan bagi seluruh insan pendidikan. Tidak boleh ada yang tertinggal, semua harus diakomodir dan dirangkul,” ungkap Jajat dengan penuh keyakinan.
Lebih jauh, ia juga menegaskan bahwa masa pengabdiannya sebagai ketua akan diarahkan untuk menyukseskan visi-misi Pemerintah Kabupaten Sukabumi di bidang pendidikan.
“Kesinambungan program yang dirintis periode sebelumnya juga menjadi perhatian, khususnya apa yang telah dilakukan oleh mantan Ketua PGRI Tubagus,” ujarnya.
Ia berkomitmen untuk melanjutkan dan memperkuat kontribusi organisasi terhadap peningkatan mutu pendidikan, kesejahteraan guru, serta penguatan advokasi profesi.
“Kenyamanan dan kesejahteraan guru merupakan prioritas utama. PGRI ke depan akan hadir lebih konkret dalam memperjuangkan hak-hak guru, memperluas pelatihan peningkatan mutu, serta mengawal perlindungan hukum dan etika profesi melalui advokasi yang lebih sistematis dan responsif,” tekadnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PGRI Provinsi Jawa Barat, Akhmad Juhana, memberikan wejangan penting kepada pengurus baru PGRI Kabupaten Sukabumi.
Ia menekankan bahwa pondasi utama organisasi harus berpijak pada tiga pilar: loyalitas dan profesionalitas anggota, kepemimpinan yang kredibel dan amanah, serta kemitraan strategis dengan pemerintah.
“Sebagai mitra pemerintah, PGRI memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam memastikan arah kebijakan pendidikan sejalan dengan kebutuhan tenaga pendidik di lapangan,” tekannya.
Ia juga berharap kepengurusan baru dapat menjaga integritas dan kepercayaan anggota.
“Juga harus menjadi jembatan sinergi antara guru dan pemerintah,” harapnya.
Dalam konteks perjuangan para guru honorer, Ketua Umum PGRI menyampaikan pentingnya kesetaraan status, harkat, dan martabat.
“Seluruh guru, tanpa terkecuali, harus diberikan kesempatan yang sama dalam pengembangan diri, peningkatan kompetensi, serta perlindungan profesi secara menyeluruh,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa profesi guru harus dijunjung tinggi dan diposisikan sebagai ujung tombak pembangunan karakter bangsa.
“Guru harus merasa terlindungi, dihargai, dan diberi ruang untuk terus berkembang secara profesional dalam menjalankan proses pendidikan.
Menutup arahannya, Ketua PGRI Jabar mengajak seluruh guru untuk tetap memegang tanggung jawab moral dalam membentuk karakter anak bangsa. Ia juga mengingatkan bahwa PGRI memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan program “Panca Waluya” Pemerintah Provinsi Jawa Barat: cager (sehat), bager (baik hati), pinter (cerdas), bener (jujur), dan tong kabalingeur (tidak menyesatkan).
Sebagai dewan pembina PGRI, Bupati Sukabumi turut memberikan harapan besar terhadap peran pengurus baru.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan PGRI harus semakin diperkuat demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan di seluruh wilayah Kabupaten Sukabumi.
Konferensi PGRI Kabupaten Sukabumi ini menjadi titik awal semangat baru dalam mengukir masa depan pendidikan yang lebih baik.
Di bawah kepemimpinan Jajat Sudrajat, harapan besar bergulir untuk menjadikan PGRI sebagai mitra strategis dan garda terdepan dalam menciptakan pendidikan yang bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan. (rus).

























