SUKABUMITIMES.COM – Dalam beberapa hari terakhir, gelombang tinggi akibat pasang air laut menerjang pesisir sejumlah pantai di pesisir Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi dan sekitarnya.
Bahkan, dalam sebuah video yang beredar, di perpesanan aplikasi dan media sosial terjangan gelombang tinggi akibat pasang air laut terjadi di sekitar pantai Desa Loji kecamatan Simpenan, mengakibatkan sejumlah perahu nelayan dengan gumpalan material sampah terhempas ke pinggiran. Beruntung tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa yang terjadi pada 29 Mei 2025 lalu itu.
Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat, terutama nelayan dan pengguna transportasi laut, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Tanjung Priok, Jakarta, Siti Fadhilatunnisa, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berdasarkan hasil pemantauan dan analisis cuaca laut yang berlaku sejak 30 Mei 2025 pukul 07.00 WIB hingga 2 Juni 2025 pukul 07.00 WIB.
“Pola angin di wilayah Jakarta dan Jawa Barat bagian utara umumnya bertiup dari arah Selatan hingga Barat Daya dengan kecepatan antara 6 hingga 15 knot,” ungkapnya.
“Sementara itu, di wilayah selatan Jawa Barat, termasuk perairan Sukabumi, angin bertiup dari arah Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan serupa, yaitu 6 sampai 15 knot,” imbuhnya.
Lanjut Siti Fadhilatunnisa mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, BMKG mencatat bahwa kecepatan angin tertinggi terpantau di beberapa wilayah perairan, seperti Kepulauan Seribu, Sukabumi, Cianjur, Garut, dan Tasikmalaya.
“Sehingga kondisi ini berkontribusi terhadap peningkatan tinggi gelombang laut,” terangnya.
Ditegaskan Siti Fadhilatunnisa, peringatan dini gelombang tinggi pun dikeluarkan oleh BMKG. Gelombang dengan ketinggian antara 1,25 meter hingga 2,5 meter diperkirakan berpeluang terjadi di perairan Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Garut, hingga Pangandaran.
“Gelombang setinggi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya perahu nelayan jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan gelombang menyentuh 1,25 meter,” tuturnya
Sementara untuk kapal tongkang, kata Siti Fadhilatunnisa, risiko meningkat saat kecepatan angin mencapai 16 knot dan gelombang mencapai 1,5 meter.
“Untuk itu, kami mengimbau agar nelayan dan operator kapal memperhatikan informasi cuaca laut sebelum melaut, serta selalu memperbarui informasi melalui kanal resmi BMKG untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya. (stm)





























